Mengapa Anak Bisa Jadi Cengeng dan Penakut? Ini Penjelasannya
Tidak sedikit orang tua mengeluhkan anak yang mudah menangis, takut mencoba hal baru, atau enggan berpisah dengan orang tuanya.
Tak jarang pula perilaku tersebut kemudian diberi label sebagai anak cengeng atau penakut. Menurut sejumlah penelitian, sifat tersebut tidak muncul begitu saja. Ada banyak faktor yang dapat memengaruhinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu, sebenarnya apa yang bisa membuat anak terlihat lebih cengeng atau penakut? Ini dia beberapa di antaranya
1. Memiliki temperamen yang memang lebih sensitif
Setiap anak lahir dengan temperamen berbeda. Ada yang mudah bergaul, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman di lingkungan baru.
Mengutip Psychological Science, anak dengan fearful temperament atau temperamen yang cenderung mudah takut memang lebih sensitif terhadap situasi baru, orang asing, maupun pengalaman yang belum pernah mereka hadapi.
Anak dengan karakter seperti ini biasanya lebih berhati-hati sebelum mencoba sesuatu. Mereka mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi dibanding teman sebayanya.
2. Pola asuh yang terlalu protektif
Keinginan orang tua melindungi anak memang wajar. Namun, perlindungan yang berlebihan justru bisa membuat anak makin ragu menghadapi situasi baru.
Mengutip Clinical Child and Family Psychology, anak yang memang memiliki temperamen pemalu atau mudah takut, mengalami pola asuh terlalu mengontrol atau terlalu protektif. Hal ini dapat memperkuat munculnya gejala kecemasan, terutama kecemasan sosial.
Misalnya, orang tua selalu turun tangan menyelesaikan masalah anak atau melarang anak mencoba sesuatu karena khawatir terluka. Akibatnya, anak kehilangan kesempatan untuk belajar bahwa ia sebenarnya mampu menghadapi tantangan tersebut.
3. Pengalaman dan lingkungan ikut membentuk keberanian anak
Keberanian anak juga dipengaruhi oleh pengalaman yang ia alami sehari-hari. Perkembangan rasa takut merupakan hasil interaksi antara temperamen, pola asuh, pengalaman di sekolah atau tempat penitipan, dan hubungan dengan teman sebaya.
Anak yang pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan atau kesulitan beradaptasi di lingkungan baru, bisa menjadi lebih berhati-hati dan mudah merasa takut.
Oleh karena itu, tidak tepat jika hanya menyalahkan karakter anak. Lingkungan tempat anak tumbuh juga memiliki peran penting.
4. Anak bisa belajar rasa takut dari orang tuanya
Mengutip Journal of Child Psychology and Psychiatry, anak merupakan peniru yang baik, termasuk dalam melihat bagaimana orang tua merespons situasi. Anak dapat mempelajari kecemasan melalui perilaku orang tua.
Misalnya, ketika orang tua sering menunjukkan kekhawatiran berlebihan, selalu menganggap lingkungan berbahaya, atau terlalu mengontrol aktivitas anak. Dalam kondisi seperti itu, anak dapat belajar bahwa banyak hal di sekitarnya perlu ditakuti, meski sebenarnya aman.
5. Kurang kesempatan mencoba hal baru
Kepercayaan diri tidak muncul begitu saja. Anak perlu diberi kesempatan untuk mencoba, gagal, lalu mencoba lagi.
Jika setiap tantangan langsung diambil alih orang tua atau selalu dihindari karena dianggap terlalu sulit, anak tidak memiliki pengalaman untuk membuktikan bahwa dirinya mampu.
Padahal, pengalaman positif saat berhasil mengatasi tantangan secara bertahap dapat membantu membangun rasa percaya diri sekaligus mengurangi rasa takut.
Kabar baiknya, sifat mudah takut bukanlah kondisi yang menetap, perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan.
Dukungan orang tua, kesempatan mengeksplorasi hal baru secara bertahap, hubungan sosial positif, dan lingkungan yang aman dapat membantu anak menjadi lebih percaya diri.
(rti)[Gambas:Video CNN]

