Ternyata Makanan Tradisional Sudah Terapkan Prinsip Gizi Modern
Daftar Isi
Banyak orang menganggap pola makan untuk menjaga performa tubuh harus dipenuhi makanan modern, suplemen, atau menu yang dirancang secara khusus. Padahal, prinsip gizi seimbang yang kini banyak dianjurkan para ahli ternyata sudah lama diterapkan dalam berbagai makanan tradisional dari berbagai penjuru dunia.
Vice President of Health and Wellness Herbalife, Luigi Gratton, mengatakan makanan yang diwariskan secara turun-temurun justru memiliki fondasi nutrisi yang sama dengan pola makan modern untuk mendukung tubuh tetap bertenaga dan pulih setelah beraktivitas.
"Selama puluhan tahun berkecimpung di bidang nutrisi olahraga, saya justru belajar bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Makanan yang dahulu dimasak oleh nenek kita, dengan resep dan bahan-bahan yang diwariskan secara turun-temurun, sesungguhnya jauh lebih dekat dengan prinsip nutrisi modern daripada yang kita bayangkan," ujar Gratton dalam keterangan tertulis, Senin (3/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, kuliner tradisional di berbagai negara umumnya dibangun di atas prinsip yang sama, yakni keseimbangan karbohidrat, protein, dan lemak sehat, penggunaan bahan pangan segar sesuai musim, serta melimpahnya sayur dan buah. Tak hanya menjadi sumber energi, makanan juga berperan sebagai bagian dari budaya dan kebersamaan.
Konsep tersebut sejalan dengan Performance Plate, yaitu panduan penyusunan menu yang mengutamakan keseimbangan zat gizi sesuai kebutuhan aktivitas sehari-hari. Berikut beberapa menu tradisional yang sesuai nutrisi dari berbagai negara:
1. Asia: satu piring dengan gizi lengkap
Beragam hidangan khas Asia sudah lama menerapkan prinsip gizi seimbang. Masakan Jepang, Korea, Tiongkok, hingga Asia Tenggara umumnya memadukan nasi atau mi sebagai sumber karbohidrat, lauk berprotein, sayuran, dan kuah yang kaya cita rasa.
Salah satu contohnya adalah bibimbap dari Korea. Hidangan ini terdiri atas nasi, aneka sayuran, daging sapi tanpa lemak, dan telur sehingga menghadirkan kombinasi karbohidrat, protein, serta serat dalam satu mangkuk. Sementara itu, sup miso khas Jepang menyediakan elektrolit sekaligus pangan fermentasi yang baik untuk kesehatan saluran cerna.
Di Asia Selatan dan Asia Tenggara, kunyit juga menjadi rempah yang banyak dimanfaatkan. Sejumlah penelitian menunjukkan kunyit memiliki sifat antiinflamasi yang dapat membantu mengurangi nyeri otot sekaligus mempercepat proses pemulihan setelah aktivitas fisik.
2. Nasi dan kacang, kombinasi sederhana yang kaya manfaat
Di Meksiko dan Amerika Tengah, nasi dan kacang-kacangan menjadi pasangan yang hampir selalu hadir di meja makan. Kombinasi ini ternyata memberikan asupan protein yang lebih lengkap, terlebih jika dipadukan dengan telur.
Hidangan huevos rancheros, misalnya, memadukan telur, kacang-kacangan, dan nasi. Menu ini menyediakan energi sekaligus protein yang mudah dicerna sehingga cocok dikonsumsi sebelum maupun sesudah beraktivitas.
3. Hidangan Amerika Selatan yang mendukung pemulihan
Brasil memiliki feijoada, semur kacang yang dimasak bersama daging secara perlahan. Hidangan ini kaya karbohidrat dan protein sehingga dapat membantu memenuhi kebutuhan energi setelah tubuh banyak bergerak.
Sementara itu, Peru dikenal dengan ceviche, olahan ikan segar rendah lemak yang tinggi protein. Ada pula yerba mate, minuman tradisional yang populer di berbagai negara Amerika Selatan dan mengandung kafein alami untuk membantu menjaga fokus dan stamina.
4. Pola makan Mediterania jadi rujukan
Pola makan Mediterania selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu pola makan paling sehat di dunia. Pola ini mengandalkan makanan laut, biji-bijian utuh, minyak zaitun, serta aneka sayuran yang kaya zat gizi.
Paella khas Spanyol menjadi contoh hidangan lengkap yang memadukan nasi, makanan laut atau ayam, serta sayuran dalam satu sajian. Sementara salad Yunani yang terdiri atas keju feta, minyak zaitun, dan buah zaitun menyumbang lemak sehat sekaligus senyawa antiinflamasi yang baik bagi tubuh.
5. Timur Tengah kaya protein nabati
Kuliner Timur Tengah juga menawarkan banyak makanan bergizi. Hummus, misalnya, menyediakan protein nabati dari kacang arab dan lemak sehat dari tahini. Falafel menjadi sumber protein berbasis nabati, sedangkan tabbouleh kaya vitamin dan mineral dari sayuran segar.
Tak kalah penting, kurma menjadi salah satu sumber karbohidrat alami yang cepat diolah tubuh menjadi energi. Kandungan kaliumnya juga membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh.
Menurut Gratton, makanan tradisional yang biasa dikonsumsi saat berbuka puasa pun pada dasarnya telah memenuhi kebutuhan tubuh setelah berjam-jam tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman.
6. Hidangan Afrika tak kalah bergizi
Di Afrika Barat, jollof rice menjadi hidangan sehari-hari yang memadukan nasi berbumbu tomat dengan ayam atau ikan panggang. Sajian ini menghadirkan karbohidrat, protein, dan berbagai vitamin dalam satu piring.
Sementara di Afrika Utara, shakshuka yang terdiri atas telur dalam saus tomat berbumbu menjadi pilihan menu tinggi protein yang kaya mikronutrien. Menurut Gratton, makanan-makanan tersebut bukan dirancang khusus untuk menunjang aktivitas fisik, melainkan telah menjadi bagian dari pola makan masyarakat selama bergenerasi.
Kuncinya ada pada gizi seimbang
Gratton menegaskan, menjaga pola makan sehat tidak berarti harus meninggalkan makanan tradisional. Justru, berbagai hidangan warisan budaya itu telah menerapkan prinsip gizi yang kini banyak direkomendasikan para ahli.
Prinsip tersebut meliputi keseimbangan karbohidrat, protein, dan lemak sehat, memperbanyak konsumsi makanan utuh, sayur dan buah berwarna-warni, mencukupi kebutuhan cairan, serta menyesuaikan porsi makan dengan tingkat aktivitas.
"Setiap negara memiliki versi Performance Plate-nya masing-masing. Meski bahan makanannya berbeda, prinsip dasarnya tetap sama," ujar Gratton.
Ia pun mengajak masyarakat untuk tidak ragu menikmati makanan tradisional sebagai bagian dari pola makan sehat.
"Fondasinya sebenarnya sudah ada sejak dulu. Dunia nutrisi modern hanya memberi nama baru pada prinsip yang telah diwariskan dari generasi ke generasi," tutupnya.
(tis/tis)
