59 Persen Kematian DBD Terjadi pada Anak, Waspada saat Sekolah

CNN Indonesia
Jumat, 31 Jul 2026 08:15 WIB
aegypti mosquito sucking in the skin
Ilustrasi. Waspada DBD saat anak kembali ke Sekolah. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tahun ajaran baru identik dengan kesibukan orang tua menyiapkan seragam, tas, buku, hingga perlengkapan belajar anak. Namun, di balik persiapan tersebut, ada satu hal yang tak kalah penting untuk diperhatikan, yakni perlindungan dari demam berdarah dengue (DBD).

Pasalnya, anak masih menjadi kelompok yang paling rentan terdampak penyakit ini. Data Kementerian Kesehatan periode 2018-2025 menunjukkan kelompok usia 5-14 tahun secara konsisten mencatat proporsi kematian akibat dengue tertinggi dibanding kelompok usia lainnya.

Pada 2025, sebanyak 59 persen kematian akibat dengue terjadi pada anak usia 0-14 tahun. Dari jumlah tersebut, 41 persen berasal dari kelompok usia 5-14 tahun. Sementara itu, kelompok usia 15-44 tahun menjadi penyumbang kasus terbanyak atau mencapai 42 persen dari seluruh kasus dengue.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Angka tersebut menjadi pengingat bahwa perlindungan anak dari DBD tidak boleh diabaikan, terutama ketika mereka kembali beraktivitas di sekolah dan menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah.

Dokter sekaligus kreator konten kesehatan, Ikhsanuddin Qothi, mengatakan masih banyak masyarakat yang menganggap DBD hanya muncul saat musim hujan. Padahal, penularannya dapat terjadi sepanjang tahun.

"DBD bukan penyakit musiman. Risiko penularannya ada sepanjang tahun, sehingga kewaspadaan juga perlu dijaga setiap saat. Pada musim kemarau, tempat-tempat yang dapat menampung air tetap berpotensi menjadi tempat nyamuk berkembang biak jika tidak ditutup, dikuras, atau dibersihkan secara rutin," ujar Ikhsan dalam keterangan tertulis.

Ia menjelaskan, dengue disebabkan oleh virus yang memiliki empat serotipe, yaitu DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4. Virus ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang aktif menggigit pada pagi dan sore hari.

Artinya, risiko gigitan nyamuk dapat mengikuti aktivitas anak, mulai dari berada di rumah, belajar di sekolah, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, hingga bermain di lingkungan sekitar. Selain itu, infeksi dengue juga tidak selalu menunjukkan gejala.

Sebuah studi di Asia Tenggara dan Amerika Latin memperkirakan sekitar 45 persen anggota keluarga pasien DBD turut terinfeksi. Menariknya, hampir tiga perempat infeksi yang ditemukan tidak bergejala sehingga kerap tidak disadari.

Karena itu, pencegahan tidak cukup dilakukan di rumah. Sekolah juga memiliki peran penting dengan memastikan tidak ada genangan air, melakukan pemantauan jentik secara berkala, serta mengajak seluruh warga sekolah menerapkan gerakan 3M Plus.

Pernah kena DBD belum tentu kebal

Ikhsan juga mengingatkan bahwa seseorang yang pernah terkena DBD tetap berisiko terinfeksi kembali.

"Setelah terinfeksi salah satu serotipe, seseorang masih dapat terinfeksi kembali oleh serotipe yang berbeda. Infeksi berikutnya dapat meningkatkan risiko terjadinya dengue berat," katanya.

Karena itu, orang tua tetap perlu melakukan pencegahan meski anak atau anggota keluarga pernah mengalami DBD. Ia menambahkan, hingga kini belum ada obat khusus untuk menyembuhkan dengue. Penanganan yang diberikan bertujuan mengurangi gejala, menjaga kondisi pasien, serta mencegah komplikasi.

Orang tua juga diminta tidak langsung merasa lega ketika demam anak mulai turun. Pada sebagian pasien, fase kritis justru dapat muncul setelah demam mereda.

"Jika anak mengalami muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, mimisan atau gusi berdarah, tubuh sangat lemas, gelisah, maupun penurunan kesadaran, segera bawa ke fasilitas kesehatan," kata dia.

DBD juga bukan sekadar menyebabkan anak demam dan harus dirawat. Penyakit ini juga dapat mengganggu proses belajar karena anak harus absen sekolah dan membutuhkan waktu pemulihan yang tidak singkat.

Seorang petugas melakukan pengasapan (fogging) di perumahan Ikip, Duren Sawit, Jakarta Timur, Jumat (3/4/2025). Pengasapan tersebut untuk memberantas nyamuk aedes aegypti dalam upaya mencegah wabah demam berdarah dengue (DBD) di lingkungan tersebut. ANTARA FOTO/ Fakhri HermansyahFogging atau pengasapan jadi salah satu cara cegah DBD. (Foto: ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah)

"Bahkan setelah dinyatakan pulih, sebagian pasien masih bisa mengalami kelelahan selama beberapa minggu. Jadi, ketika anak sudah kembali duduk di kelas, belum tentu kondisi fisiknya telah sepenuhnya kembali seperti semula," kata Ikhsan.

Menurut Ikhsan, perlindungan terhadap DBD harus dilakukan secara menyeluruh. Langkah utamanya tetap melalui penerapan 3M Plus, yakni menguras dan menutup tempat penampungan air, mendaur ulang atau membuang barang yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, serta menggunakan pelindung diri dari gigitan nyamuk.

Selain itu, vaksinasi juga dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan dengue yang komprehensif. Vaksin dengue saat ini telah masuk dalam rekomendasi imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk anak dan rekomendasi imunisasi dewasa dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).

"Orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui apakah anak dan anggota keluarga lainnya telah memenuhi kriteria untuk mendapatkan vaksinasi dengue," ujar Ikhsan.

Senada, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines Andreas Gutknecht mengatakan perlindungan terhadap DBD membutuhkan kolaborasi seluruh pihak.

"Sebagai orang tua, saya memahami betapa beratnya ketika anak sakit akibat DBD. Dampaknya tidak hanya dirasakan anak, tetapi juga seluruh keluarga, mulai dari aktivitas yang terganggu hingga munculnya beban biaya yang tidak terduga. Karena itu, perlindungan terhadap dengue perlu dilakukan bersama, tidak hanya oleh keluarga, tetapi juga sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat," ujar Andreas.

Ia menambahkan, pencegahan yang dilakukan secara konsisten melalui edukasi, penerapan 3M Plus, serta konsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai langkah perlindungan yang sesuai diharapkan dapat memperkuat upaya menekan angka kesakitan dan kematian akibat DBD di Indonesia, sejalan dengan target nasional mencapai nol kematian akibat dengue pada 2030.

(tis/tis)


[Gambas:Video CNN]