Desa 'Hantu' di Spanyol Hidup Lagi Usai Terbengkalai 50 Tahun

CNN Indonesia
Selasa, 28 Jul 2026 13:00 WIB
El Acebuchal
Ilustrasi. Desa El Acebuchal yang pernah jadi desa hantu karena ditinggal warganya. (iStockphoto/timbu)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Di balik perbukitan Andalusia, Spanyol, berdiri sebuah desa mungil bercat putih yang menyimpan kisah luar biasa. Selama hampir setengah abad, El Acebuchal nyaris terlupakan setelah seluruh penduduknya terusir. Kini, desa yang pernah dijuluki sebagai 'desa hantu' itu justru menjelma menjadi salah satu destinasi wisata paling unik di wilayah Málaga.

El Acebuchal berada di kawasan pegunungan Sierras de Tejeda, Almijara, dan Alhama Natural Park, tidak jauh dari desa cantik Frigiliana. Suasana tenang, rumah-rumah putih bergaya khas Andalusia, hingga jalan berbatu yang sempit membuat banyak wisatawan merasa seperti sedang berjalan di lokasi syuting film klasik.

Bahkan, sejumlah pengunjung menyebut desa ini tampak seperti adegan dalam film era 1950-an.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Desa perdagangan yang berkembang selama ratusan tahun

Melansir The Sun, sejarah El Acebuchal bermula sejak abad ke-17. Berkat lokasinya yang strategis di jalur perdagangan antara Costa del Sol dan Granada, desa ini berkembang sebagai tempat persinggahan para pedagang yang mengangkut minyak zaitun, sutra, serta hasil pertanian dan peternakan.

Pada masa kejayaannya, sekitar 200 orang tinggal di desa kecil tersebut. Kehidupan masyarakat berjalan sederhana, tetapi cukup makmur berkat aktivitas perdagangan yang ramai. Namun, nasib El Acebuchal berubah drastis setelah Perang Saudara Spanyol berakhir pada 1939.

Desa ini diketahui menjadi tempat berlindung kelompok perlawanan yang berpihak kepada Republik. Setelah pemerintahan diktator Francisco Franco berkuasa, El Acebuchal dituduh membantu gerilyawan anti-pemerintah.

Pada 1949, pemerintah memerintahkan pengosongan desa. Penduduk dipaksa meninggalkan rumah mereka, sementara bangunan-bangunan dibiarkan rusak dan terbengkalai.

Sejak saat itu, El Acebuchal berubah menjadi desa mati. Rumah-rumah kosong, jalanan sunyi, dan reruntuhan bangunan menjadi saksi bisu sejarah kelam yang berlangsung selama hampir lima dekade.

Bangkit berkat tekad satu keluarga

Menukil Visit Andaluca, harapan baru muncul pada 1998 ketika Antonio García, yang dikenal dengan julukan El Zumbo, memutuskan kembali ke desa leluhurnya bersama sang istri, Virtudes Sánchez.

Antonio merupakan cucu dari salah satu penduduk asli El Acebuchal. Berbekal foto-foto lama, cerita keluarga, dan bantuan warga serta pemerintah setempat, ia mulai membangun kembali desa yang telah lama terlupakan.

Proses restorasi dilakukan hampir seluruhnya secara manual. Satu demi satu rumah diperbaiki menggunakan teknik bangunan tradisional agar tetap mempertahankan karakter aslinya. Perjuangan itu tidak mudah. Hingga 2003, desa ini bahkan belum memiliki aliran listrik maupun air bersih.

Meski demikian, kerja keras tersebut akhirnya membuahkan hasil. Saat ini, El Acebuchal telah dihuni kembali dengan sekitar 30 rumah yang telah dipugar, sebuah kapel kecil, serta restoran Bar El Acebuchal yang dikelola langsung oleh Antonio dan keluarganya.

Selain restoran, keluarga Antonio juga mengelola sejumlah rumah liburan dan penginapan bergaya bed and breakfast yang banyak diminati wisatawan.

Alih-alih dipenuhi bangunan modern, desa ini tetap mempertahankan suasana tradisional. Sinyal telepon seluler masih terbatas, televisi hanya mengandalkan satelit, bahkan sebagian tempat belum menerima pembayaran dengan kartu sehingga pengunjung disarankan membawa uang tunai.

Keaslian inilah yang justru menjadi daya tarik utama. Pengunjung dapat berjalan kaki menyusuri gang-gang sempit, menikmati deretan rumah putih berhias pot bunga warna-warni, hingga bertemu keledai dan bagal yang masih digunakan warga sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Jalur pendakian hingga desa tercantik di Spanyol

El Acebuchal juga menjadi tujuan favorit pencinta alam. Salah satu rute trekking paling populer menghubungkan desa ini dengan Frigiliana, yang kerap masuk dalam daftar desa paling indah di Spanyol. Jalur sepanjang sekitar 13 kilometer tersebut menawarkan panorama pegunungan, lembah hijau, hingga pemandangan Laut Mediterania dari kejauhan.

Sesampainya di Frigiliana, wisatawan akan disambut lorong-lorong berbatu, rumah bercat putih dengan aksen biru, atap genteng terakota, serta bunga bougainvillea yang menghiasi hampir setiap sudut desa.


Bagi wisatawan yang ingin merasakan sisi lain Spanyol, El Acebuchal menawarkan pengalaman berbeda. Bukan sekadar menikmati keindahan alam Andalusia, tetapi juga menyaksikan bagaimana sebuah desa yang pernah menjadi 'desa hantu' berhasil bangkit dan menemukan identitas barunya.

(tis/tis) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]