UNESCO Tetapkan Sebastia Jadi Warisan Dunia Dari Palestina

CNN Indonesia
Selasa, 28 Jul 2026 10:30 WIB
A boy walks in the amphitheatre at the archaeological site of Sebastia, west of the occupied West Bank city of Nablus on February 12, 2026. Israeli cultural watchdog Emek Shaveh denounced on November 24 on 2025, a decision to expropriate nearly 500 a
Ilustrasi. Sebastia, Palestina ditetapkan jadi warisan budaya oleh UNESCO. (AFP/ZAIN JAAFAR)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebastia, sebuah desa kuno di Tepi Barat (West Bank), Palestina, resmi masuk dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO. Penetapan ini disambut pemerintah Palestina sebagai langkah penting untuk melindungi situs bersejarah tersebut dari ancaman kerusakan dan perubahan di tengah konflik yang masih berlangsung dengan Israel.

Dalam sidang Komite Warisan Dunia UNESCO di Busan, Korea Selatan, Jumat (25/7), Sebastia tak hanya masuk dalam World Heritage List, tetapi juga List of World Heritage in Danger atau daftar warisan dunia yang berada dalam kondisi terancam.

Status ganda itu diberikan melalui prosedur darurat UNESCO untuk melindungi situs-situs budaya yang menghadapi ancaman serius akibat konflik, perubahan tata kelola, maupun kerusakan fisik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengutip Reuters, Palestina disebut berharap pengakuan ini mampu memperkuat dukungan internasional terhadap upaya pelestarian Sebastia, yang selama bertahun-tahun menjadi pusat tarik-menarik kepentingan politik dan sejarah.

Jejak peradaban ribuan tahun

Sebastia merupakan salah satu kawasan arkeologi paling penting di Palestina. Menurut UNESCO, situs ini menyimpan peninggalan dari berbagai era yang membentang lebih dari 2.800 tahun.

Kawasan tersebut diyakini pernah menjadi ibu kota Kerajaan Israel pada abad ke-9 sebelum Masehi. Setelah itu, Sebastia berkembang melewati berbagai masa pemerintahan, mulai dari periode Helenistik, Romawi, Bizantium, Islam, Perang Salib (Crusader), hingga Kesultanan Ottoman.

Bentang alamnya dipenuhi kebun zaitun yang mengelilingi sisa-sisa bangunan kuno berupa kolom-kolom Romawi, tembok batu, tangga bersejarah, hingga amfiteater. Dalam tradisi Kristen dan Islam, Sebastia juga dipercaya sebagai lokasi makam Yohanes Pembaptis (John the Baptist), menjadikannya salah satu destinasi wisata religi yang penting.

Harapan baru bagi warga Palestina

Bagi warga desa Sebastia yang hidup berdampingan dengan situs arkeologi tersebut, keputusan UNESCO membawa secercah harapan.

Sebagian besar penduduk menggantungkan penghasilan dari sektor pariwisata. Namun, aktivitas ekonomi mereka terancam setelah Israel mengumumkan rencana mengambil alih sekitar 1.800 dunam atau sekitar 445 acre lahan di kawasan itu untuk pengembangan wilayah.

Wakil Wali Kota Sebastia, Nizar Kayed, berharap status baru dari UNESCO dapat membantu menjaga kelestarian situs tersebut.

"Kami berharap keputusan ini memungkinkan kami melestarikan Sebastia," ujarnya mengutip Al Jazeera.

Pemerintah Palestina menilai pengakuan UNESCO dapat menjadi dasar untuk menghimpun dukungan internasional dalam menghadapi berbagai kebijakan Israel yang dinilai mengancam keberadaan situs tersebut. Selain penyitaan lahan, otoritas Palestina juga mengkhawatirkan rancangan undang-undang Israel yang berpotensi memperluas kendali sipil Israel atas situs-situs purbakala di Tepi Barat.

Jika diberlakukan, aturan itu dinilai akan mengurangi kewenangan Otoritas Palestina dalam mengelola kawasan bersejarah yang selama ini berada di bawah pengawasan mereka berdasarkan Kesepakatan Oslo pada 1990-an.

(FILES) This picture taken on February 12, 2026 shows a view of the archaeological site of Sebastia, west of the Israeli-occupied West Bank city of Nablus. The UN's cultural agency on July 24, 2026, placed locations including a Lebanese castle recently conquered by Israeli forces and an archaeological site in the occupied West Bank on its list of World Heritage in Danger. Sebastia is thought to be the ancient Israeli and later Roman city of Samaria, whose name Israel still uses to refer to the northern West Bank. In recent years, Israeli authorities have taken an interest in the site, which sits near the modern Palestinian town of Sebastia but is in an area controlled exclusively by Israel. In 2025, they expropriated around 200 hectares of Palestinian land near the site, saying it was for preservation and development purposes. (Photo by Zain JAAFAR / AFP)Sebastia, Palestina. (Photo by Zain JAAFAR / AFP) Foto: AFP/ZAIN JAAFAR

Israel sebut keputusan bermuatan politik

Di sisi lain, Israel mengecam keputusan UNESCO tersebut. Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar menyebut penetapan Sebastia sebagai Warisan Dunia merupakan bagian dari upaya Palestina untuk mengaburkan keterkaitan sejarah bangsa Yahudi dengan kawasan tersebut.

"Tak ada satu pun pemungutan suara di organisasi internasional yang dapat mengubah sejarah," kata Saar dalam pernyataan resminya.

Israel sendiri telah keluar dari UNESCO sejak 2019 dengan alasan badan kebudayaan PBB itu bersikap bias. Kini Israel hanya berstatus sebagai pengamat dalam organisasi tersebut.

Selain Sebastia, UNESCO juga menetapkan lima benteng bersejarah di Lebanon selatan sebagai Warisan Dunia sekaligus situs yang terancam. Penetapan itu dilakukan karena berbagai lokasi budaya di kawasan Timur Tengah dinilai menghadapi risiko tinggi akibat konflik bersenjata yang terus berlangsung.

(tis/tis) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]