Dunia Digital Bakal Jadi 'Makanan Harian' Anak, Orang Tua Harus Siap
Generasi yang lahir di era digital mau tidak mau langsung bersentuhan dengan dunia digital. Orang tua khawatir dan bertanya-tanya, kapan sebaiknya anak dikenalkan pada media sosial. Namun, psikolog mengingatkan justru orang tua yang seharusnya bersiap bahwa dunia digital bakal jadi makanan sehari-hari anak.
Dampak negatif paparan dunia digital berlebihan tak perlu ditanya lagi. Orang tua mungkin sudah dibuat kenyang dengan berita-berita negatif yang berhubungan dengan konsumsi konten di internet dan penggunaan media sosial di usia anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menjauhkan anak dari dunia digital? Rasanya tidak mungkin dilakukan di era sekarang. Generasi terkini, terutama Gen Alpha, sangat digital native yang sedari lahir sudah terpapar teknologi digital.
Lantas, agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, kapan kira-kira anak siap terjun ke dunia digital atau memanfaatkan media sosial?
Nisfie M. Hoesein, pikolog klinis anak RSIA Tumbuh Kembang, menyarankan agar orang tua mengubah pola pikir. Gadget dan media sosial sebaiknya tak lagi dilihat sebagai sesuatu yang berbahaya. Justru, orang tua perlu mengarah pada literasi digital.
"Anak kita siapkan untuk siap literasi digital, ya itu [gadget] menjadi media pembelajaran. Kalau jadi media, itu enggak lagi bicara kapan siap atau tidak," terang Nisfie saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Minggu (19/7).
Dia melanjutkan, orang tua perlu menerima bahwa literasi masa kini sudah berbeda. Buku tak lagi jadi satu-satunya sumber informasi. Dunia digital yang diakses lewat gadget kini jadi sumber informasi sekaligus taman bermain anak.
Kuncinya ada di pendampingan
Kalau memang dunia digital adalah makanan sehari-hari dan taman bermain anak, apakah anak kemudian dibiarkan bebas eksplorasi di dalamnya? Tentu saja tidak.
Orang tua, kata Nisfie, harus siap bahwa gadget akan jadi media pembelajaran yang sehat. Namun yang perlu digaris bawahi, seberapa siap orang tua memberikan pendampingan.
"Gadget dan pendampingan itu sudah satu paket. Kasih anak gadget, dikasih doang, itu bahaya mau di umur berapa pun," katanya.
Psikolog yang juga pemilik sekaligus Direktur Ayomi Preschool & Daycare ini mengatakan, anak SD yang diberikan gadget tanpa pendampingan akan lebih berbahaya dibanding anak usia 2 tahun yang mengakses gadget dengan pendampingan.
Ilustrasi. Menurut psikolog klinis Nisfie M. Hoesein, orang tua musti menghadirkan gadget sepaket dengan pendampingan buat anak. (istockphoto/PeopleImages) |
Nisfie mengibaratkan pendampingan itu dengan cockpit. Di sini, anak adalah pilot, sedangkan orang tua adalah co-pilot. Co-pilot umumnya bertugas menavigasi atau mengarahkan, membuka peta; sementara pilot bertugas memegang kemudi atau kendali.
"Anak pegang HP enggak apa-apa, orang tua mengarahkan misal, boleh mengakses ini, enggak boleh yang itu, lalu konten yang sudah ditonton anak diminta untuk diceritakan ulang isinya apa, atau apa yang dialami anak ketika mengakses situs tertentu," jelasnya.
Nisfie mengingatkan, pendampingan ini bukan kemudian menuntut orang tua untuk terus-menerus mengawasi aktivitas digital anak.
Pendampingan disesuaikan dengan usia anak. Saat usia 2-5 tahun, pendampingan fisik mutlak diperlukan. Orang tua mau tidak mau harus berada di dekat anak.
Saat usia si kecil di atas 8 tahun, orang tua belajar memberikan kepercayaan ke anak. Ada kalanya anak mengakses sendiri tanpa ada orang tua yang hadir secara fisik. Karena sudah mendapat bekal di masa kecilnya, orang tua cukup meminta anak misalnya, diceritakan hal-hal seru saat mengakses konten digital ketika orang tua sudah di rumah.
"Saat sudah lebih besar, baru kita masukkan unsur peringatan misalnya, hati-hati ya kadang enggak semua konten itu seru, ada yang di luar sana enggak baik, orang yang melakukan hal enggak sopan, tidak pantas. Lalu kita bilang ke anak 'tapi kalau nemu, ceritain ya'," jelas Nisfie.
Bahaya bermain gadget tanpa pendampingan
Ilustrasi. Ada sederet bahaya yang musti diwaspadai orang tua ketika memberikan anak gadget tanpa pendampingan. (Getty Images/justocker) |
Orang tua tidak bisa membuat lingkungan digital anak sesteril mungkin. Algoritma dunia digital sangat mungkin membuat anak terpapar konten-konten yang tidak seharusnya atau konten yang tidak sesuai dengan usianya.
Akan tetapi, langkah pendampingan akan membuat anak bisa menavigasi situasi dan tidak terjerumus dalam konten yang tidak sesuai.
"Karena sejak awal sudah dikasih pembelajaran, pendampingan, dia kalau akses konten yang enggak sesuai lalu merasa enggak enak sendiri," imbuh Nisfie.
Hanya saja, Nisfie mewanti-wanti bahaya yang juga perlu jadi kewaspadaan orang tua antara lain. Misalnya saja kepekaan sosial anak ternyata dunia nyata yang tidak berkembang, kurangnya empati terhadap lingkungan sekitar, kurangnya resiliensi saat menghadapi tantangan kehidupan, hingga kurangnya terlatih dalam situasi yang membutuhkan komunikasi verbal serta social skill.
Tak cuma itu, ada juga potensi gangguan perkembangan fisik, metabolik, dan risiko obesitas yang muncul lantaran gerak tubuh yang kurang terolah akibat terlalu sering berinteraksi dengan media sosial.
(els/asr) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]



