Menelusuri Museum Wayang yang Tak Lagi dalam Bayang-bayang

Elise Dwi Ratnasari | CNN Indonesia
Sabtu, 18 Jul 2026 13:10 WIB
Museum Wayang tak hanya memamerkan ribuan koleksi wayang dan benda seni lain tapi juga memberikan edukasi dengan cara kekinian.
Museum Wayang tak hanya memamerkan ribuan koleksi wayang dan benda seni lain tapi juga memberikan edukasi dengan cara kekinian. (CNN Indonesia/ Elise Dwi R)
Jakarta, CNN Indonesia --

Museum kerap memiliki citra gelap, pengap, dan seram. Namun Museum Wayang perlahan mengubah citra itu. Kamu diajak untuk mengenal dunia wayang yang lekat dengan tradisi tapi, tidak dengan cara tradisional. Seperti apa?

Berkunjung ke kawasan Kota Tua Jakarta, sebaiknya sempatkan waktu ke Museum Wayang yang tak jauh dari Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah). Museum Wayang mengajak menyusuri produk budaya Nusantara yang tak hanya jadi sekadar sarana hiburan, tapi juga alat transfer nilai atau ajaran tertentu.

Museum Wayang terbagi dalam beberapa zona guna memudahkan pengunjung menyusuri, mulai dari sejarah wayang, ragam wayang lokal dan mancanegara, hingga kisah-kisah yang dibawakan dalam pertunjukan wayang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menginjakkan kaki di lorong depan, kamu akan disambut tiga tokoh wayang golek berukuran besar yakni, Ramawijaya, Rahwana, dan Duryudana di sisi kiri. Kemudian di sisi kanan terdapat cerita sejarah berdirinya Museum Wayang.

Sebelum ada Museum Wayang, di sini terdapat bangunan gereja bernama oude hollandsche kerk atau Kruiskerk (1632). Setelah bangunan rusak, dibangun gereja baru yang diresmikan pada 1736.

Pada 1808, gereja dibongkar dan dijual usai terdampak gempa. Selanjutnya, gedung berganti fungsi menjadi gudang, lalu baru menjadi museum. Sebelum berakhir menjadi Museum Wayang pada 13 Agustus 1975, gedung berfungsi sebagai Museum Kota (Stedelijk Museum) pada 1939, lalu Museum Jakarta Lama pada 1962.

Berjalan semakin ke dalam, kamu akan menemukan bahwa wayang golek tak hanya ada di Jawa Barat. Ada Wayang Golek Menak Kebumen dan Wayang Golek Menak Pekalongan. Di Jawa Barat saja, ada Wayang Golek Pakuan Bogor dan Wayang Golek Cepak Cirebon.

Di sebelahnya terdapat wayang yang terbuat dari lapisan kayu tipis yang disebut Wayang Klithik. Nama Wayang Klithik berasal dari bunyi 'klithik klithik' yang dihasilkan kayu-kayu tipis yang beradu saat dimainkan.

Di zona awal ini, mungkin kamu heran dengan keberadaan nisan dan sebidang taman kosong. Dulu, di kompleks bangunan gereja terdapat pemakaman Belanda. Di sana ada makam tokoh penting VOC, keluarga, serdadu yang dimakamkan di sini, termasuk Gubernur Jeneral Jan Pieterszoon Coen (1627-1629).

Wayang Nusantara dan mancanegara

Museum Wayang tak hanya memamerkan ribuan koleksi wayang dan benda seni lain tapi juga memberikan edukasi dengan cara kekinian.Suasana Museum Wayang pada Rabu (15/7). Museum memiliki ribuan koleksi wayang dari berbagai daerah di Indonesia juga mancanegara. (CNN Indonesia/ Elise Dwi R)

Wayang tidak hanya ada di Jawa. Menuju ke zona berikutnya di lantai 2, kamu akan dihadapkan pada layar sentuh yang siap memberikan informasi via audio dan visual. Kamu ingin tahu tentang Wayang Potehi? Wayang Palembang? Wayang Papua atau Wayang Sasak? Semua ada.

Sayangnya, keterangan visual hanya berupa peta lokasi dan grafis tulisan dari audio yang diputar. Sebenarnya, bakal lebih menarik jika ada video yang menampilkan cuplikan pertunjukan wayang di tempatnya berasal.

Berikutnya kamu akan menemukan ragam wayang dan pertunjukan boneka dari berbagai negara. Wayang dan boneka-boneka terinspirasi dari pertunjukan wayang di Indonesia yang kemudian disesuaikan dengan budaya setempat.

Museum Wayang tak hanya memamerkan ribuan koleksi wayang dan benda seni lain tapi juga memberikan edukasi dengan cara kekinian.Informasi seputar wayang diberikan lewat media audio visual. Pengunjung tinggal menyentuh layar untuk mengetahui persebaran wayang di Nusantara. (CNN Indonesia/ Elise Dwi R)

Ada wayang dan boneka dari India, Ceko, Suriname, Kamboja, Swedia, AS, Korea Selatan, Sri Lanka, Inggris, Prancis, Rusia, Vietnam, Thailand, dan Malaysia.

Kemudian yang menarik ada Wayang Wahyu yakni, wayang kulit ciptaan biarawan Broeder Timotheus Wignyosubroto (1959) asal Surakarta, lalu dibuat wayangnya oleh dalang Rusradi (1960). Wayang Wahyu digunakan untuk menyebarkan ajaran agama Katolik.

Ada pula Wayang Revolusi atau Wayang Perjuangan dengan tokoh-tokoh era perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia seperti Soekarno dan Mohammad Hatta. Tak heran wayang-wayang ini mengenakan busana serba modern.

Museum Wayang tak hanya memamerkan ribuan koleksi wayang dan benda seni lain tapi juga memberikan edukasi dengan cara kekinian.Ruang Imersif jadi salah satu daya tarik Museum Wayang. Pengunjung diajak 'masuk' ke dalam cerita pewayangan dan menjajal teknologi canggih yang interaktif. (CNN Indonesia/ Elise Dwi R)

Tak sekadar memamerkan koleksi wayang, Museum Wayang juga menghadirkan teknologi kekinian sebagai sarana edukasi. Ruang Imersif jelas jadi sesuatu yang tidak boleh kamu lewatkan.

Di sini, kamu dibuat seolah berada dalam cerita lewat visual dan audio. Kantongi pengalaman menonton film wayang yang seru di Ruang Imersif 360 derajat, lalu bermain di Arena Interaktif dan Ramp Interaktif. Untuk menikmati fasilitas ini, kamu tidak dikenakan biaya tambahan. Cukup lakukan registrasi dan masuk sesuai jadwal yang tersedia.

Untuk Selasa-Jumat, jadwal Ruang Imersif tersedia pada pukul 09.30-15.00 WIB, sedangkan Sabtu-Minggu pada pukul 09.30-18.00 WIB. Kloter dibuka setiap 30 menit.

Punya Museum Passport? Jangan lupa minta stempel museum pada petugas. Terdapat tiga stempel dengan tiga desain berbeda. Kamu bisa gunakan semua!

(asr) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]