Kurang Sinar Matahari Bisa Bikin Susah Tidur, Ini Penjelasan Dokter

CNN Indonesia
Rabu, 15 Jul 2026 19:30 WIB
Pejalan kaki di kawasan Sudirman, Jakarta, Rabu, 12 Maret 2023. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi indeks ultraviolet (UV) sinar matahari di sejumlah wilayah Indonesia akan mencapai kategori 'ekstrem' pada pukul 09.00 hi
Ilustrasi. Paparan sinar matahari. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Rutinitas masyarakat modern membuat banyak orang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan. Berangkat kerja saat matahari belum terlalu terik, berada di kantor hingga sore, lalu pulang tanpa banyak terpapar cahaya alami. Kebiasaan yang tampak sepele ini ternyata dapat berdampak pada kualitas tidur.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Rony Marethianto Santoso, mengatakan pola tidur masyarakat Indonesia terus memburuk dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu penyebabnya adalah minimnya paparan sinar matahari akibat gaya hidup yang semakin didominasi aktivitas di dalam ruangan.

"Kita menyoroti bahwa pola tidur orang Indonesia itu semakin jelek. Terlalu banyak gadget, blue light, dan lain sebagainya. Kita kan indoor terus, enggak kena sinar matahari. Produksi hormon melatoninnya juga jelek banget, dan itu berpengaruh pada siklus tidur kita," ujar Rony dalam Media Gathering Primaya Hospital Tangerang di Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, Selasa (14/7).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Rony, gangguan tidur yang berlangsung dalam jangka panjang bukan hanya membuat tubuh mudah lelah, tetapi juga dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit di kemudian hari.

Cahaya matahari mengatur jam biologis tubuh

Selama ini sinar matahari lebih sering dikaitkan dengan pembentukan vitamin D. Padahal, cahaya alami juga berperan penting dalam mengatur ritme sirkadian atau jam biologis tubuh.

Ritme sirkadian merupakan sistem internal yang mengatur siklus tidur dan bangun, rasa segar, kantuk, hingga produksi berbagai hormon. Salah satu hormon yang dipengaruhi adalah melatonin, yaitu hormon yang membantu tubuh bersiap untuk tidur pada malam hari.

Mengacu pada jurnal Building and Environment, paparan cahaya alami, terutama pada pagi hingga siang hari, membantu menyelaraskan ritme sirkadian. Sebaliknya, jika tubuh jarang mendapatkan cahaya alami, pelepasan melatonin dapat terganggu sehingga kualitas tidur ikut menurun.

Tubuh membutuhkan sinyal dari cahaya matahari pada siang hari agar mengetahui kapan saatnya mulai memproduksi melatonin pada malam hari.

Masalahnya, gaya hidup modern membuat banyak orang menghabiskan hampir seluruh waktunya di dalam gedung. Aktivitas bekerja di kantor, belajar, hingga berada di pusat perbelanjaan membuat paparan sinar matahari semakin minim.

Belum lagi kebiasaan menggunakan gawai hingga larut malam. Cahaya biru (blue light) dari layar ponsel, tablet, maupun komputer memberi sinyal kepada otak seolah hari masih siang. Akibatnya, produksi melatonin tertunda sehingga seseorang lebih sulit mengantuk, waktu tidur bergeser lebih larut, dan kualitas tidur menurun.

Temuan dalam jurnal Lighting Research & Technology juga menunjukkan bahwa lingkungan dengan minim cahaya alami dapat mengganggu sinkronisasi jam biologis tubuh. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini tidak hanya memengaruhi kualitas tidur, tetapi juga berdampak pada kesehatan secara keseluruhan.

Tidur berkualitas penting untuk kesehatan

Rony menegaskan bahwa tidur bukan sekadar waktu tubuh beristirahat. Saat tidur, tubuh melakukan berbagai proses pemulihan penting, mulai dari memperbaiki metabolisme hingga menjaga kesehatan jantung. Karena itu, gangguan tidur yang terjadi terus-menerus dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis.

"Produksi hormon melatonin yang terganggu akan memengaruhi siklus tidur kita dan itu sangat buruk di kemudian hari," kata Rony.

Untuk membantu menjaga ritme sirkadian tetap optimal, ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan:

• Luangkan waktu terpapar sinar matahari pada pagi hingga siang hari selama sekitar 15-30 menit.

• Kurangi penggunaan gawai menjelang waktu tidur untuk meminimalkan paparan blue light.

• Pertahankan jadwal tidur dan bangun yang konsisten setiap hari.

• Perbanyak aktivitas di luar ruangan jika memungkinkan.

Memperbaiki kualitas tidur tidak selalu harus dimulai dengan obat atau suplemen. Kebiasaan sederhana seperti rutin mendapatkan paparan sinar matahari pada pagi hingga siang hari dapat membantu tubuh mengenali kapan waktunya tetap terjaga dan kapan saatnya beristirahat.

(anm/tis) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]