Tren Estetika Bergeser, Wajah Natural Kini Jadi Incaran Gen Z

CNN Indonesia
Minggu, 05 Jul 2026 00:05 WIB
ilustrasi perawatan wajah
Ilustrasi. Perawatan wajah natural kini makin dimintai. (Istockphoto/ Andresr)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tren perawatan estetika terus mengalami perubahan. Jika dulu wajah dengan perubahan yang dramatis menjadi tujuan utama, kini semakin banyak orang yang justru menginginkan hasil natural, segar, dan tetap terlihat seperti diri sendiri.

Perubahan tren ini juga terlihat pada kalangan Gen Z. Bagi generasi muda, perawatan kulit dan estetika tak lagi sekadar solusi saat masalah muncul, melainkan sudah menjadi bagian dari gaya hidup untuk menjaga kesehatan kulit dalam jangka panjang.

Keinginan tampil sehat dan awet muda membuat berbagai prosedur estetika semakin diminati. Pilihan treatment pun kian beragam, mulai dari skin booster, filler, collagen stimulator, hingga kombinasi beberapa prosedur yang disesuaikan dengan kondisi kulit masing-masing.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, banyaknya pilihan justru kerap membuat orang bingung menentukan perawatan yang paling sesuai. Founder Beauty Sister Clinic, Elizabeth Lisa, mengatakan tidak ada satu jenis treatment yang cocok untuk semua orang.

Menurutnya, setiap individu memiliki kondisi kulit, struktur wajah, serta proses penuaan yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang bersifat personal.

"Dokter akan menentukan prioritas perawatan setelah melihat kebutuhan masing-masing orang. Tidak ada wajah yang sama. Kita harus mengecek kondisi kulit, bentuk wajah, proporsi wajah, simetri wajah, termasuk ekspresinya karena setiap orang memiliki tipe yang berbeda, termasuk proses aging-nya," ujar Elizabeth Lisa dalam keterangannya saat temu media dalam Unlock the Natural Combination Treatment PLLA-SCA & NASHA-OBT di Jakarta beberapa waktu lalu.

Lantas, bagaimana dengan penuaan, apakah perlu dicegah sejak usia 20-an?

Penuaan merupakan proses alami yang tidak bisa dihindari. Seiring bertambahnya usia, kulit secara bertahap kehilangan elastisitas dan kekenyalannya sehingga mulai muncul tanda-tanda penuaan seperti kulit kendur, garis halus, hingga keriput.

Salah satu penyebab utamanya adalah berkurangnya produksi kolagen, protein yang berfungsi sebagai penopang alami kulit. Saat kadar kolagen menurun, kulit menjadi kurang kencang dan elastis.

Di sisi lain, berkurangnya volume lemak pada lapisan bawah kulit juga menyebabkan munculnya cekungan di beberapa area wajah, seperti bawah mata dan pipi. Kondisi ini membuat garis-garis wajah tampak semakin jelas.

Menurut Dokter yang kerap disapa Lisa ini, penurunan kolagen sebenarnya sudah dimulai sejak usia 20 tahun.

"Mulai usia 20 tahun, kolagen yang hilang sekitar 1 persen setiap tahun. Pada usia 40 tahun, sekitar 20 persen kolagen sudah hilang. Jadi lebih baik melakukan perawatan sebagai pencegahan daripada menunggu tanda penuaan semakin banyak yang akhirnya membutuhkan biaya lebih besar," jelasnya.

Maraknya konten kecantikan di media sosial membuat banyak orang tertarik mencoba berbagai prosedur estetika. Namun, Lisa mengingatkan agar masyarakat, khususnya Gen Z yang baru pertama kali mencoba treatment, tidak memilih prosedur hanya karena sedang viral.

Ia menyarankan setiap orang berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter yang kompeten agar mendapatkan rekomendasi perawatan sesuai kebutuhan.

Menurutnya, evaluasi dokter tidak hanya melihat kondisi kulit, tetapi juga mempertimbangkan anatomi wajah, proporsi, simetri, hingga ekspresi sehingga hasil akhir tetap harmonis dan alami.

"Pemilihan terapi sebaiknya dilakukan berdasarkan kebutuhan masing-masing melalui konsultasi dengan dokter yang kompeten sehingga hasil yang didapat tidak hanya optimal, tetapi juga tetap natural, harmonis, dan aman," katanya.

Tren kombinasi treatment makin diminati

Seiring berkembangnya teknologi estetika, pendekatan kombinasi beberapa treatment kini semakin banyak digunakan dibandingkan hanya mengandalkan satu prosedur. Salah satu kombinasi yang mulai banyak diminati adalah collagen stimulator PLLA-SCA (Poly-L-Lactic Acid-Sterile Carboxymethylcellulose) dengan filler berteknologi NASHA dan OBT.

Menurut Lisa, PLLA-SCA bekerja merangsang pembentukan kolagen alami tubuh sehingga membantu mengencangkan kulit, meningkatkan elastisitas, sekaligus memberikan efek lifting secara bertahap.

Sementara itu, filler NASHA dan OBT memiliki karakteristik berbeda untuk menyesuaikan kebutuhan setiap area wajah. Area yang membutuhkan struktur lebih kuat menggunakan teknologi NASHA, sedangkan area yang lebih banyak bergerak menggunakan OBT yang lebih fleksibel.

"Dengan dua teknologi ini, dokter dapat melakukan personalized treatment sehingga hasilnya lebih natural, proporsional, dan sesuai kebutuhan masing-masing pasien. Filler memberikan efek instan untuk mengisi cekungan di bawah mata, pipi, dagu, atau rahang, sedangkan collagen stimulator bekerja bertahap dan hasilnya semakin terlihat seiring waktu," jelasnya.

Ia menambahkan, efek collagen stimulator PLLA-SCA dapat bertahan hingga sekitar 25 bulan atau sekitar dua tahun dan dapat diaplikasikan bersamaan dengan filler karena keduanya bekerja pada area dan mekanisme yang berbeda. Kombinasi tersebut dinilai mampu memberikan hasil yang lebih optimal dalam mengatasi tanda-tanda penuaan sekaligus mempertahankan tampilan wajah yang alami.

(tis/tis) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]