Kesenjangan Beban Kontrasepsi, 96,7 Persen Peserta KB Masih Perempuan

CNN Indonesia
Selasa, 30 Jun 2026 14:00 WIB
Alat kontrasepsi.
Ilustrasi. Data Kemendukbangga/BKKBN tahun 2025 mencatat, sebanyak 96,7 persen peserta KB merupakan perempuan. (iStockphoto/Menshalena)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kesetaraan dalam kesehatan reproduksi di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Hingga kini, penggunaan alat kontrasepsi masih didominasi perempuan, sementara partisipasi pria sebagai akseptor keluarga berencana (KB) masih sangat rendah.

Berdasarkan hasil Pemutakhiran Pendataan Keluarga 2025, sebanyak 96,7 persen peserta KB merupakan perempuan. Sebaliknya, peserta KB pria masih didominasi penggunaan kondom sebesar 3,14 persen, sementara peserta vasektomi hanya 0,13 persen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Deputi Bidang Bina Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Kemendukbangga/BKKBN, Wahidin mengatakan, kesenjangan tersebut menjadi salah satu persoalan yang masih dihadapi dalam program keluarga berencana di Indonesia.

"Problem yang lain, mungkin yang relevan dengan diskusi kita hari ini adalah kesenjangan pengguna kontrasepsi," kata Wahidin dalam media briefing bertema 'Sinergitas Program: Melibatkan Pria dalam Kesetaraan Reproduksi', Selasa (30/6).

Menurutnya, dari sekitar 40 juta pasangan usia subur, terdapat sekitar 25 juta pengguna kontrasepsi aktif. Namun, jumlah pengguna kontrasepsi pria masih mendekati 1 juta orang.

Ia merinci, pengguna kondom tercatat sekitar 920 ribu orang, sedangkan peserta metode operasi pria (MOP) atau vasektomi sekitar 31 ribu orang.

"Kalau dari sisi persentase memang masih kecil. Tentu ini dari satu aspek, dari sisi peran sebagai pengguna kontrasepsi," ujarnya.

Wahidin mengatakan, rendahnya partisipasi pria bukan disebabkan satu faktor saja. Menurutnya, persoalan tersebut cukup kompleks, mulai dari keterbatasan pilihan kontrasepsi hingga berbagai faktor sosial lainnya.

"Pilihan untuk pria memang sementara ini baru dua pilihan, antara kondom dan vasektomi atau MOP. Sehingga ini menjadi salah satu kendala," katanya.

[Gambas:Video CNN]

Kemendukbangga, lanjut Wahidin, juga telah mendorong berbagai riset mengenai kontrasepsi pria, termasuk suntik KB untuk pria. Namun, hingga kini hasilnya belum dapat diterapkan sebagai program nasional.

"Kami juga pernah melakukan webinar dengan dokter dan profesor yang berpengalaman melakukan riset, terutama suntik untuk pria. Tapi memang sampai sejauh ini belum feasible untuk kemudian bisa menjadi sebuah kesimpulan yang bisa diterapkan menjadi program," jelasnya.

Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan metode kontrasepsi pria akan berkembang seiring kemajuan penelitian.

Kemendukbangga pun mulai menempatkan peningkatan partisipasi pria sebagai salah satu sasaran khusus dalam kebijakan keluarga berencana.

"Kami mencoba memetakan bahwa program antarwilayah tidak harus sama, tetapi sesuai kondisi daerah. Salah satu sasaran khusus yang kami tetapkan adalah bagaimana partisipasi pria ini harus lebih didorong," katanya.

(anm/asr) Add as a preferred
source on Google