Janda, Simbol Kemerdekaan Perempuan di Tengah Kubangan Stigma

Angela Merici Keraf | CNN Indonesia
Selasa, 23 Jun 2026 08:15 WIB
Hari Janda Internasional
Ilustrasi. Di tengah stigma, status janda sebenarnya menyiratkan rasa merdeka dan hidup lebih bahagia. (Getty Images/iStockphoto/tun723)
Jakarta, CNN Indonesia --

Status janda di Indonesia kerap sepaket dengan pandangan negatif masyarakat. Namun ternyata bagi sebagian perempuan, status ini justru jadi simbol kemerdekaan diri.

Perceraian mendatangkan konsekuensi berupa perubahan status perkawinan. Laki-laki berstatus duda, sedangkan perempuan berstatus janda. Baik duda maupun janda, keduanya menunjukkan kondisi seseorang yang mengakhiri hubungan dengan pasangan sahnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akan tetapi, berbeda dengan laki-laki, status janda yang disematkan pada perempuan mengandung konsekuensi berbeda. 

Pegiat isu perempuan, Poppy Dihardjo mengatakan stigma terhadap janda tidak bisa dilepaskan dari budaya patriarki yang masih kuat di masyarakat.

Menurut dia, perempuan kerap dinilai berdasarkan status relasinya dengan orang lain, seperti menjadi istri atau ibu. Ketika status tersebut hilang, sebagian masyarakat justru memandang perempuan secara berbeda.

"Perempuan itu selalu dianggap sebagai hak milik. Sebagai objek milik keluarga, lalu milik suami. Begitu ikatannya putus, perempuan dianggap tidak bertuan dan pada akhirnya dianggap mengancam keteraturan sosial yang dibangun di atas kepemilikan itu," kata Poppy kepada CNNIndonesia.com, Senin (22/6).

Poppy menilai kondisi tersebut berbeda dengan laki-laki.  Dia menyebut laki-laki tidak pernah didefinisikan oleh status relasionalnya. Laki-laki, lanjutnya, didefinisikan oleh dirinya sendiri, bukan oleh status sosialnya.

Beberapa studi pun mengamini bahwa status janda di Indonesia memang penuh dengan stigma.

Melansir penelitian yang diterbitkan di Indonesia and the Malay World, status janda sering kali tidak hanya dipandang sebagai kondisi kehilangan pasangan atau perceraian, tetapi juga dikaitkan dengan penilaian moral dan seksualitas perempuan.

Temuan lain yang tak kalah mengejutkan adalah perempuan yang juga kepala keluarga masih kerap mendapat stereotip sebagai sosok yang lemah, tidak berdaya, hingga dicurigai sebagai perebut suami orang.

Kemudian penelitian di Indonesia bertajuk A Critical Study of the Discrimination of Widow menunjukkan perempuan yang berstatus janda cenderung menerima stigma lebih besar dibanding duda, meski keduanya sama-sama mengalami perceraian atau kehilangan pasangan.

Lebih bahagia saat menjanda

Hari Janda InternasionalIlustrasi. Sejumlah penelitian menemukan bahwa status janda justru berdampak positif terhadap perempuan. Perempuan lebih bahagia setelah bercerai ketimbang berada dalam hubungan perkawinan. (Freepik.com/ Freepik)

Meski stigma masih kuat, sejumlah penelitian justru menemukan bahwa pengalaman menjadi janda tidak selalu identik dengan penurunan kualitas hidup.

Mengutip riset yang diterbitkan di jurnal International Psychogeriatric Association, laki-laki umumnya lebih bahagia saat menikah, sedangkan kesejahteraan dan rasa kebebasan perempuan sering meningkat setelah menjadi janda.

Temuan ini tidak serta merta berarti kehilangan pasangan membuat seseorang bahagia. Namun, setelah melewati masa berduka, sebagian perempuan merasa memiliki lebih banyak ruang untuk menentukan hidupnya sendiri.

Hasil serupa juga ditemukan peneliti dari University of Padova, Italia. Penelitian mereka menunjukkan bahwa perempuan lanjut usia yang berstatus janda mengalami tingkat stres dan kerapuhan fisik yang lebih rendah dibanding perempuan yang masih menikah.

Kenapa bisa demikian? Berdasar penelitian, ada beberapa alasan yang berulang muncul.

Perempuan sering memikul beban domestik dan perawatan yang lebih besar dalam rumah tangga. Setelah hidup sendiri, sebagian merasa memiliki lebih banyak waktu dan energi untuk dirinya sendiri.

Mereka memiliki keleluasaan lebih besar dalam mengambil keputusan sehari-hari, mulai dari mengatur keuangan, aktivitas sosial, hingga cara menghabiskan waktu luang.

Hari Janda InternasionalIlustrasi. Jaringan pertemanan membuat perempuan mudah beradaptasi menjalani hidup tanpa pasangan. (Getty Images/staticnak1983)

Perempuan umumnya memiliki jaringan pertemanan dan dukungan sosial yang lebih luas. Dukungan tersebut membantu mereka beradaptasi ketika harus menjalani hidup tanpa pasangan.

Poppy yang merupakan seorang ibu tunggal menambahkan perceraian justru membawa kebanggaan apalagi buat perempuan yang sebelumnya menjalani relasi perkawinan yang tidak sehat.

"Yang kami banggakan bukan cerainya, terutama buat perempuan-perempuan yang menjadi korban KDRT. Yang kami banggakan adalah bagaimana kami akhirnya mampu keluar dari relasi yang buruk," tuturnya.

Rasa bahagia usai memperoleh kemerdekaan ini kadang dirayakan meski tak semewah perayaan pernikahan. Sempat berseliweran konten di media sosial yang memperlihatkan perempuan yang menenteng berkas putusan cerai dengan wajah sumringah. Seperti halnya mendapat rapor tanpa nilai merah, ia juga dihujani ucapan selamat oleh teman-temannya.

Fenomena ini menunjukkan perceraian itu tidak selalu lekat dengan kesedihan dan derita. Poppy pun menyebut perceraian tidak bisa selalu dibaca sebagai kegagalan.

"Perceraian itu bukan prestasi, tapi perceraian itu adalah perpisahan yang patut untuk dirayakan. Tidak semua perkawinan patut untuk dipertahankan. Begitu juga dengan perceraian, tidak semua perceraian tidak patut dirayakan," imbuhnya.

(els) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]