Jangan Remehkan Penyakit Jantung, Dampaknya Bisa Berlipat

CNN Indonesia
Kamis, 18 Jun 2026 20:33 WIB
ilustrasi jantung
Ilustrasi. Sakit jantung bisa berdampak kemana-mana, bahkan biayanya pun bisa sangat membengkak. (iStockphoto/magicmine)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kenaikan biaya kesehatan menjadi salah satu tantangan yang semakin dirasakan masyarakat Indonesia. Jika harga kebutuhan pokok terus merangkak naik dari tahun ke tahun, biaya layanan kesehatan ternyata bergerak lebih cepat lagi.

Laporan MMB Asia Health Trends 2026 memproyeksikan inflasi medis di Indonesia mencapai 17,8 persen pada 2026. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di Asia dan berada di atas rata-rata kawasan yang mencapai 12,5 persen.

Salah satu contoh yang paling nyata adalah penyakit jantung. Penyakit yang selama ini identik dengan usia lanjut itu kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Bayushi Eka Putra menjelaskan bahwa penyakit tidak menular masih menjadi tantangan kesehatan utama di Indonesia.

Penyakit jantung menjadi salah satu yang paling sering ditemukan dan dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko, mulai dari hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, kurang aktivitas fisik, tingkat stres yang tinggi, pola makan tidak sehat, hingga kebiasaan merokok.

"Banyak faktor risiko tersebut sebenarnya dapat dicegah atau dikendalikan sejak dini. Namun ketika penyakit sudah terjadi, penanganannya sering kali membutuhkan proses yang panjang dan kompleks," kata Bayushi dalam diskusi soal keberlanjutan perlindungan kesehatan beberapa waktu lalu. 

Mulai dari pemeriksaan awal, tindakan medis, penggunaan alat kesehatan, hingga terapi obat-obatan lanjutan, seluruhnya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dampaknya bukan hanya dirasakan pada kondisi kesehatan pasien, tetapi juga pada stabilitas finansial keluarga.

"Banyak faktor risiko penyakit jantung sebenarnya dapat dicegah dan dikendalikan sejak dini. Namun, ketika risiko terjadi, penanganannya sering kali membutuhkan tindakan yang kompleks dan biaya yang tidak sedikit," ujar Bayushi. 

Ia menambahkan, perkembangan teknologi medis memang membawa banyak manfaat bagi pasien. Diagnosis dapat dilakukan lebih cepat dan akurat, sementara pilihan terapi menjadi semakin beragam.

Namun di sisi lain, kemajuan teknologi tersebut juga turut memengaruhi biaya layanan kesehatan yang harus ditanggung masyarakat.

"Karena itu, langkah pencegahan melalui pola hidup sehat tetap menjadi strategi yang paling efektif. Aktivitas fisik yang cukup, menjaga berat badan ideal, mengendalikan tekanan darah dan kadar gula darah, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat membantu menurunkan risiko penyakit kritis di kemudian hari," kata dia.

Sementara itu, Head of Product Allianz Life Syariah Indonesia, Rina Triana menjelaskan bahwa kenaikan biaya medis dipengaruhi banyak faktor. Selain inflasi umum dan perkembangan teknologi kesehatan, kondisi ekonomi juga turut berperan.

Sebagian obat-obatan dan alat kesehatan yang digunakan di Indonesia masih bergantung pada impor. Karena itu, pelemahan nilai tukar rupiah dapat berdampak pada meningkatnya biaya layanan kesehatan.

Data Allianz Indonesia menunjukkan rata-rata biaya perawatan sejumlah penyakit kritis mengalami kenaikan signifikan dalam periode 2020 hingga 2025. Biaya perawatan penyakit jantung meningkat hingga 219 persen, kanker 179 persen, dan stroke 169 persen.

Angka tersebut menggambarkan bagaimana penyakit kritis tidak hanya menjadi persoalan kesehatan, tetapi juga dapat menguras tabungan dan mengganggu kondisi ekonomi keluarga apabila tidak dipersiapkan dengan baik.

Menurut Rina, tantangan ke depan bukan hanya memastikan masyarakat memperoleh akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas saat ini, tetapi juga menjaga agar perlindungan kesehatan tetap relevan dan berkelanjutan di tengah perubahan biaya medis yang sangat dinamis.

"Karena itu, perencanaan kesehatan dan keuangan perlu berjalan beriringan. Menyiapkan dana darurat, menerapkan gaya hidup sehat, serta memiliki perlindungan kesehatan yang sesuai kebutuhan dapat menjadi langkah untuk mengurangi risiko finansial saat menghadapi penyakit serius," kata dia.

(tis/tis) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]