Dokter Bagikan Tips Aman Traveling Buat Bumil, Tetap Healing No Worry
Kehamilan bukan berarti harus menghentikan seluruh aktivitas, termasuk bepergian atau traveling. Namun, ibu hamil tetap perlu memperhatikan kondisi kesehatan dan usia kehamilan sebelum memutuskan melakukan perjalanan jarak jauh.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi RS Universitas Indonesia (RSUI), Natasya Prameswari mengatakan perjalanan jarak jauh pada ibu hamil umumnya masih diperbolehkan, terutama saat memasuki trimester kedua kehamilan.
Menurutnya, trimester kedua sering disebut sebagai periode paling nyaman dalam kehamilan karena risiko komplikasi relatif lebih rendah dibandingkan trimester pertama maupun trimester ketiga yang sudah mendekati persalinan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada trimester kedua, biasanya kehamilan sudah tidak terlalu berisiko seperti di trimester pertama maupun trimester ketiga yang sudah mendekati persalinan," kata Natasya mengutip Antara.
Meski demikian, ia menekankan bahwa ibu hamil tetap harus berkonsultasi dengan dokter kandungan sebelum melakukan perjalanan. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan tidak ada penyulit kehamilan yang dapat meningkatkan risiko selama perjalanan.
Berikut tips yang dibagikan Natasya:
1. Pilih transportasi yang nyaman
Natasya menjelaskan ibu hamil dapat menggunakan berbagai moda transportasi, baik darat, laut, maupun udara. Namun, faktor kenyamanan harus menjadi pertimbangan utama.
Ia tidak menyarankan ibu hamil melakukan perjalanan dengan kondisi yang membuat tubuh cepat lelah atau tidak nyaman selama perjalanan berlangsung.
Selain itu, calon ibu juga perlu memahami tanda-tanda bahaya kehamilan yang mungkin muncul sewaktu-waktu, seperti kontraksi, perdarahan, pecah ketuban, atau nyeri yang tidak biasa.
Karena itu, penting untuk mengetahui lokasi fasilitas kesehatan di tempat tujuan maupun sepanjang rute perjalanan. Langkah ini dapat membantu ibu hamil memperoleh pertolongan medis dengan cepat jika terjadi kondisi darurat.
2. Jangan duduk terlalu lama
Perjalanan jarak jauh membuat seseorang harus duduk dalam waktu lama. Pada ibu hamil, kondisi ini dapat meningkatkan risiko terjadinya Deep Vein Thrombosis (DVT) atau pembekuan darah di pembuluh vena.
Untuk mengurangi risiko tersebut, Natasya menyarankan penggunaan stoking kompresi selama perjalanan. Selain itu, ibu hamil juga perlu melakukan peregangan ringan secara berkala.
"Stretching ringan, mungkin meregangkan kaki, meregangkan tangan, bahkan jalan-jalan, asalkan tidak berada dalam satu posisi terus-menerus setiap dua sampai tiga jam apabila traveling jarak jauh," ujarnya.
3. Jika bepergian sendiri, beri tahu petugas
Bagi ibu hamil yang terpaksa melakukan perjalanan seorang diri, Natasya menyarankan untuk memberitahukan status kehamilan kepada petugas transportasi atau pihak berwenang yang bertugas.
Dengan begitu, jika terjadi masalah kesehatan selama perjalanan, petugas dapat memberikan bantuan atau penanganan lebih cepat.
Selain itu, ibu hamil juga dianjurkan tidak membawa terlalu banyak barang yang melebihi kemampuan fisiknya. Mengangkat beban berat berisiko menimbulkan kelelahan dan ketidaknyamanan selama perjalanan.
4. Jangan lupa bawa buku kontrol kehamilan
Satu hal penting yang kerap terlupakan adalah membawa dokumen kesehatan selama bepergian. Natasya mengingatkan ibu hamil untuk selalu membawa kartu identitas dan buku kontrol kehamilan.
Dokumen tersebut dapat membantu tenaga kesehatan di lokasi tujuan memahami riwayat kehamilan jika sewaktu-waktu diperlukan pemeriksaan atau penanganan medis.
"Ibu hamil saat traveling yang jelas harus membawa kartu identitas. Pastikan juga membawa buku kontrolnya. Apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, ada catatan pemeriksaan sebelumnya yang bisa dilihat dokter di tempat tujuan," katanya.
4. Waspadai kelelahan dan stres
Menurut Natasya, risiko perjalanan pada ibu hamil tidak hanya dipengaruhi oleh moda transportasi, tetapi juga jarak tempuh dan kondisi fisik selama perjalanan.
Kelelahan berlebihan dan stres dapat memicu munculnya kontraksi, termasuk kontraksi palsu. Namun, jika kontraksi berlangsung terus-menerus, disertai perdarahan atau pecah ketuban, ibu hamil harus segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Karena itu, sebelum merencanakan liburan atau perjalanan dinas, pastikan kondisi kehamilan telah dinyatakan aman oleh dokter. Dengan persiapan yang matang, traveling saat hamil tetap bisa dilakukan dengan nyaman tanpa mengorbankan kesehatan ibu maupun janin.
(tis/tis) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

