Bukan Cuma Pola Makan, Perlemakan Hati Juga Disebabkan Faktor Ini
Perlemakan hati sering dianggap muncul karena pola makan buruk. Namun bagi pengidapnya, tidak semua orang mengalami penumpukan lemak di hati dengan tingkat yang sama, meski gaya hidupnya terlihat mirip.
Menurut Mayo Clinic, perlemakan hati biasanya risikonya lebih tinggi pada orang dengan kelebihan berat badan, obesitas, atau kondisi metabolik lainnya, seperti diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, atau kolesterol tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi orang yang mengalami berbagai penyakit tersebut, penumpukan lemak pada hatinya bisa berbeda satu sama lain. Hal ini terjadi karena ada banyak faktor yang ikut berperan, mulai dari genetik hingga kondisi metabolik tubuh.
Hal ini diungkapkan oleh dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dan hepatologi RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Rino Alvani Gani.
"Terjadinya fatty liver itu tidak hanya tergantung oleh makanannya, tetapi juga banyak hal-hal lain, seperti aktivitas, kemudian faktor-faktor metaboliknya, genetik, kemudian jumlah tidurnya. Jadi, ada hal-hal lain yang berpengaruh, tidak hanya makanan," ujar Rino dalam Diskusi Media Global Fatty Liver Day 2026 yang digelar Novo Nordisk bersama Kemenkes RI di Jakarta Pusat, Kamis (11/6).
Rino melanjutkan, makanan memang menjadi salah satu faktor besar penumpukan lemak hati. Namun penumpukan tersebut bisa dipengaruhi oleh jenis aktivitas yang dipilih seseorang.
"Olahraga misalnya, juga bisa berpengaruh. Kalau [dua orang] makannya sama-sama banyak, tetapi satu olahraga satu tidak, tentu yang lebih besar risikonya adalah yang tidak olahraga," kata Rino.
Ia mengatakan, berbagai perbedaan kecil dalam gaya hidup seseorang bisa sangat menentukan seberapa tinggi atau rendah penumpukan lemak dalam hatinya.
Mikrobiota dalam usus hingga polusi udara
Tak hanya itu, ada beberapa faktor lainnya yang juga memengaruhi perlemakan hati. Rino mengatakan, belakangan perlemakan hati dikaitkan pula dengan mikrobiota di dalam usus hingga polusi di udara. Hal ini terbukti dari sejumlah studi.
Menurut sebuah tinjauan dalam jurnal Frontiers in Microbiology (Juli 2025) oleh Siwen Shen et al., ditemukan bahwa bakteri di usus ternyata punya peran penting dalam muncul dan berkembangnya perlemakan hati.
Usus dan hati ternyata saling terhubung lewat apa yang disebut gut-liver axis atau jalur usus-hati. Artinya, kesehatan usus sangat berpengaruh pada kesehatan hati. Jika bakteri usus tidak seimbang, hati bisa lebih mudah mengalami penumpukan lemak dan peradangan.
Terkait polusi udara, hal ini diungkap pula dalam tinjauan Xingyi He et al. dalam jurnal Ecotoxicology and Environmental Safety (Januari 2025).
Berdasarkan meta-analisis terhadap 14 studi, ditemukan beberapa jenis polusi seperti PM2.5, PM10, NOx, PM1, asap rokok pasif, dan polusi dari bahan bakar padat, berkaitan dengan peningkatan risiko perlemakan hati.
Fakta lainnya dalam studi tersebut, ditemukan dampak polusi PM2.5 terhadap perlemakan hati lebih besar di negara berkembang dibanding negara maju. Jadi kesimpulannya, wilayah dengan kualitas udara yang buruk berperan meningkatkan risiko penyakit ini.
Lalu bagaimana dengan faktor genetik?
Dicky Levenus Tahapary, dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrinologi, metabolik, dan diabetes dari RSCM mengungkapkan, di luar negeri memang sudah banyak penelitian yang mengaitkan faktor genetik dengan perlemakan hati.
"Jadi, di RSCM kami meneliti pasien-pasien diabetes, kurang lebih 4.500 [pasien] ... dari pasien-pasien diabetes itu, fatty liver banyak sekali. Sekitar 50-70 persen fatty liver," ujar Dicky dalam kesempatan yang sama.
Namun dari penelitian yang sedang digarapnya bersama rekan-rekan lain di RSCM, belum menunjukkan keterkaitan antara faktor genetik dan peningkatan risiko perlemakan hati.
"Jadi, faktor genetik tadi kita akan teliti lagi lebih dalam lagi ya, karena mungkin itu bisa juga menjadi salah satu pendekatan nantinya ke depannya. Kira-kira mana nih, pasien-pasien kita yang akan fatty liver, atau menjadi fibrosisnya berat sampai sirosis," Dicky menuturkan.
(rti) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
