Orang Tua Wajib Tahu, Ini Panduan Jarak Aman Bayi Menonton TV
Jarak aman bayi menonton TV perlu jadi perhatian orang tua di era digital seperti sekarang.
Kehadiran televisi, gawai, dan berbagai perangkat layar membuat anak-anak semakin mudah terpapar tayangan sejak usia dini. Namun, para ahli kesehatan anak menegaskan bahwa bayi, terutama yang berusia di bawah 18 bulan, sebaiknya tidak menonton televisi sama sekali karena dapat memengaruhi perkembangan mata dan tumbuh kembangnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski televisi sering digunakan sebagai sarana hiburan keluarga, paparan layar pada bayi memiliki risiko tersendiri. Selain berpotensi menyebabkan mata cepat lelah, kebiasaan menonton terlalu dini juga dapat mengganggu proses belajar alami yang seharusnya diperoleh melalui interaksi langsung dengan orang tua dan lingkungan sekitar.
Karena itu, orang tua perlu memahami bukan hanya soal durasi menonton, tetapi juga jarak ideal antara anak dan layar televisi.
Berikut beberapa hal penting yang perlu diketahui mengenai kebiasaan menonton televisi pada bayi dan anak.
1. Bayi di bawah 18 bulan tidak menonton TV
Berbagai organisasi kesehatan anak, termasuk American Academy of Pediatrics (AAP) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), tidak merekomendasikan bayi berusia 0 hingga 18 bulan untuk menonton televisi.
Pada usia tersebut, perkembangan otak berlangsung sangat cepat. Bayi lebih membutuhkan stimulasi melalui interaksi langsung, permainan, sentuhan, serta komunikasi dengan orang tua dibandingkan paparan layar.
Selain itu, sinar biru atau blue light dari layar elektronik juga dikhawatirkan dapat memengaruhi kesehatan mata yang masih berkembang.
2. Jarak aman menonton disesuaikan dengan ukuran TV
Jika anak sudah memasuki usia yang diperbolehkan mengenal layar, jarak menonton tetap harus diperhatikan.
Secara umum, jarak aman bayi menonton TV yang sering dianjurkan adalah sekitar lima kali lebar diagonal layar televisi atau berkisar antara 2,5 hingga 3 meter.
Tujuannya untuk mengurangi risiko mata lelah, iritasi, serta membantu anak melihat tayangan dengan lebih nyaman.
3. Jarak ideal berdasarkan ukuran televisi
Setiap ukuran televisi memiliki rekomendasi jarak pandang yang berbeda.
Berikut panduan yang umum digunakan:
- TV 32 inci sekitar 2,5 hingga 4 meter;
- TV 50 inci sekitar 2 meter;
- TV 55 inci sekitar 2,35 meter;
- TV 65 inci sekitar 2,6 meter;
- TV 75 inci sekitar 3 meter.
Menjaga jarak sesuai ukuran layar dapat membantu mengurangi ketegangan pada mata saat menonton.
Lihat Juga : |
4. Anak 18-24 bulan perlu pendampingan orang tua
Ketika anak mulai diperkenalkan dengan tayangan digital pada usia 18 hingga 24 bulan, pendampingan orang tua menjadi sangat penting.
Anak tidak disarankan menonton sendiri. Orang tua perlu membantu menjelaskan isi tayangan serta memastikan konten yang ditonton sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Selain itu, durasi menonton sebaiknya dibatasi maksimal 30 menit per hari.
5. Anak 2-5 tahun tetap perlu dibatasi
Ilustrasi. Ada panduan jarak aman bayi dan anak dalam menonton TV. (iStockphoto/evgenyatamanenko) |
Memasuki usia prasekolah, anak memang lebih mampu memahami informasi visual dari layar.
Namun, bukan berarti waktu menonton bisa diberikan tanpa batas. Para ahli menyarankan, durasi menonton maksimal satu jam per hari dengan memilih tayangan edukatif dan berkualitas.
Waktu selebihnya sebaiknya digunakan untuk aktivitas fisik, bermain, membaca buku, dan berinteraksi dengan keluarga.
6. Perhatikan tanda mata lelah pada anak
Orang tua juga perlu memperhatikan tanda-tanda kelelahan mata akibat terlalu lama menatap layar. Beberapa gejalanya antara lain:
- sering mengucek mata,
- mata tampak merah,
- sulit fokus,
- mudah rewel saat menonton,
- mengeluh pusing pada anak yang lebih besar.
Jika gejala tersebut muncul, waktu layar perlu segera dikurangi.
Memahami jarak aman bayi menonton TV merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan mata dan tumbuh kembang anak.
(asr/asr) Add
as a preferred source on Google


