Pertolongan Pertama saat Anak Diduga Alergi Susu Sapi, Jangan Panik

CNN Indonesia
Rabu, 24 Jun 2026 10:30 WIB
Ada beberapa hal penting yang perlu dilakukan orang tua saat mencurigai anak mengalami alergi susu sapi.
Ilustrasi. Ada beberapa hal penting yang perlu dilakukan orang tua saat mencurigai anak mengalami alergi susu sapi. (iStockphoto/aniaostudio)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Melihat anak tiba-tiba ruam, muntah, diare, batuk, atau mengalami gejala lain setelah mengonsumsi susu sapi bisa membuat orang tua panik. Apalagi jika keluhan itu muncul berulang.

Dalam kondisi seperti ini, orang tua sering kali buru-buru mencari jawaban sendiri, mulai dari menghentikan susu, mengganti makanan, hingga mencari informasi dari internet. Padahal, langkah yang keliru bisa membuat anak terlambat mendapat penanganan yang tepat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Medical and Scientific Affairs Director Sarihusada, Ray Wagiu Basrowi, mengatakan ada beberapa hal penting yang perlu dilakukan orang tua saat mencurigai anak mengalami alergi susu sapi.

"Yang pertama tentu saja jangan panik, jangan stres, jangan marah-marah, jangan kaget-kaget," kata Ray dalam acara jelang World Allergy Week 2026 bersama Sarihusada, Jakarta, Kamis (11/6).

Menurut Ray, orang tua perlu tetap tenang agar bisa mengamati gejala anak dengan lebih jelas. Panik justru bisa membuat orang tua terburu-buru mengambil keputusan, termasuk mencoba berbagai makanan atau produk tanpa arahan dokter.

Berikut lima pertolongan pertama yang bisa dilakukan saat anak diduga mengalami alergi susu sapi.


1. Jangan panik

Langkah pertama adalah menenangkan diri. Saat anak menunjukkan gejala yang mencurigakan, orang tua perlu melihat kondisinya dengan lebih jernih.

Perhatikan gejala yang muncul, kapan mulai terjadi, makanan atau minuman apa yang baru dikonsumsi, dan apakah keluhan pernah muncul sebelumnya.


2. Kenali dan catat gejala awal

Gejala alergi susu sapi bisa muncul di kulit, saluran cerna, atau saluran napas. Misalnya ruam, gatal, muntah, diare, kolik, konstipasi, batuk, pilek alergi, atau napas berbunyi.

Ray mengatakan orang tua dapat melakukan penyaringan awal terhadap gejala anak, lalu membawa catatan itu saat berkonsultasi.

"Kita hanya men-screening gejala awal, mencoba menilai gejala awalnya. Setelah gejalanya mulai muncul, itu untuk laporan ke dokter," kata Ray.


3. Jangan jadi 'dokter internet'

Mencari informasi dari internet boleh saja, tetapi jangan sampai orang tua mendiagnosis sendiri kondisi anak hanya berdasarkan bacaan atau pengalaman orang lain.

Ray mengingatkan, informasi di internet belum tentu sesuai dengan kondisi setiap anak. Karena itu, informasi dari internet sebaiknya dipakai sebagai pengetahuan awal, bukan dasar untuk mengganti makanan, menghentikan nutrisi, atau memberikan penanganan tertentu tanpa konsultasi.


4. Jangan coba-coba makanan tanpa arahan dokter

Ray mengatakan orang tua perlu memastikan sumber alergen atau pemicu alergi anak melalui pemeriksaan dokter, bukan sekadar coba-coba.

"Kalau sudah memastikan sumber alergennya apa, itu berdasarkan dokter atau hasil screening, jangan trial and error lagi," kata Ray.

Menurutnya, kebiasaan mencoba berbagai makanan atau produk secara sembarangan dapat memperpanjang proses toleransi makanan pada anak dan meningkatkan risiko gangguan tumbuh.


5. Segera konsultasi ke dokter

Langkah paling aman adalah berkonsultasi dengan dokter, terutama jika gejala muncul berulang atau orang tua mulai mencurigai anak mengalami alergi susu sapi.

Dokter dapat membantu memastikan apakah keluhan anak benar berkaitan dengan alergi, menilai tingkat keparahan, serta menentukan kebutuhan nutrisi yang sesuai.

Alergi susu sapi pada anak memang bisa membuat orang tua khawatir. Pertolongan pertama yang tepat bukan dengan panik atau mencoba-coba sendiri, melainkan tetap tenang, mengenali gejala, mencatat pola keluhan, menghindari keputusan sepihak, dan segera berkonsultasi ke dokter.

(anm/fef) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]