Rutin Memasak, Lansia Bisa Turunkan Risiko Demensia hingga 30 persen

CNN Indonesia
Rabu, 10 Jun 2026 07:30 WIB
Lansia memasak.
Ilustrasi. Lansia yang masih rutin memasak ternyata bisa turunkan risiko terkena demensia. (Istockphoto/Halfpoint)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lansia yang memasak lebih rendah alami demensia menjadi temuan menarik dari sebuah penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa aktivitas sederhana di dapur dapat memberikan manfaat besar bagi kesehatan otak.

Penelitian tersebut menemukan bahwa orang lanjut usia yang rutin memasak setidaknya sekali dalam seminggu memiliki risiko mengalami demensia yang lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang memasak.

Temuan ini dipublikasikan dalam Journal of Epidemiology & Community Health. Mengutip Antara, studi tersebut menggunakan data lebih dari 10.000 warga Jepang berusia 65 tahun ke atas yang mengikuti proyek Japan Gerontological Evaluation Study (JAGES) selama sekitar enam tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para peneliti meneliti hubungan antara frekuensi memasak, kemampuan memasak, dan risiko terjadinya demensia pada peserta. Frekuensi memasak diukur berdasarkan seberapa sering seseorang menyiapkan makanan sendiri, bukan mengonsumsi makanan siap saji atau makanan yang sudah jadi.

Selain itu, tim peneliti juga mengevaluasi keterampilan memasak peserta melalui sejumlah kemampuan dasar, seperti mengupas buah, merebus sayuran, hingga memanggang ikan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta yang memasak setidaknya sekali dalam seminggu memiliki risiko mengalami demensia sekitar 30 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang memasak kurang dari sekali dalam seminggu.

Hubungan tersebut tetap terlihat meskipun peneliti telah memperhitungkan berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi kesehatan otak, seperti usia, tingkat pendidikan, pendapatan, dan kondisi kesehatan awal.

Temuan mengenai lansia memasak rendah alami demensia terlihat semakin kuat pada kelompok yang memiliki keterampilan memasak rendah. Pada kelompok ini, kebiasaan memasak setidaknya sekali seminggu dikaitkan dengan risiko demensia sekitar 70 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang memasak.

Menurut para peneliti, memasak bukan sekadar aktivitas menyiapkan makanan. Kegiatan ini melibatkan berbagai fungsi kognitif secara bersamaan, mulai dari merencanakan menu, mengingat bahan yang diperlukan, mengambil keputusan, hingga melakukan aktivitas fisik.

Mengapa memasak baik untuk kesehatan otak?

Memasak dapat menjadi bentuk stimulasi mental yang membantu menjaga fungsi otak tetap aktif. Saat memasak, seseorang perlu berpikir, mengatur waktu, mengikuti langkah-langkah tertentu, serta beradaptasi jika terjadi kesalahan atau perubahan dalam proses memasak.

Tak hanya itu, aktivitas ini juga sering kali melibatkan interaksi sosial, misalnya saat memasak bersama pasangan, anggota keluarga, atau teman. Interaksi sosial sendiri diketahui memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental dan kognitif pada usia lanjut.

Peneliti menduga kombinasi antara aktivitas fisik ringan, stimulasi mental, dan keterlibatan sosial inilah yang berkontribusi terhadap penurunan risiko demensia.

Menariknya, peserta yang sejak awal memiliki kemampuan memasak tinggi memang menunjukkan risiko demensia yang lebih rendah. Namun, peningkatan frekuensi memasak tidak memberikan manfaat tambahan yang signifikan pada kelompok tersebut.

Meski hasil penelitian cukup menjanjikan, para peneliti mengingatkan bahwa studi ini bersifat observasional. Artinya, penelitian belum dapat membuktikan bahwa memasak secara langsung menyebabkan penurunan risiko demensia.

Ada kemungkinan bahwa orang yang masih aktif memasak memang memiliki kondisi fisik dan kognitif yang lebih baik sejak awal dibandingkan mereka yang jarang memasak.

Selain itu, penelitian dilakukan pada populasi lansia di Jepang sehingga hasilnya belum tentu sepenuhnya berlaku pada masyarakat di negara lain yang memiliki pola makan, budaya, dan kebiasaan memasak yang berbeda.

(tis/tis) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]