Liminal Space di 'Backrooms', Kenapa Ruang Kosong Bikin Cemas?
Ada tempat-tempat yang terasa biasa saat ramai, tapi berubah jadi aneh ketika kosong. Misalnya lorong panjang, kantor sepi, ruang tunggu tanpa ada orang, atau mal yang sudah tutup.
Rasa tidak nyaman seperti ini kerap dikaitkan dengan istilah liminal space. Mengutip studi akademik The Backrooms and Liminal Spaces: Explorations of a Digital Urban Legend, istilah ini banyak dipakai dalam budaya internet untuk menggambarkan ruang kosong yang terasa familiar, tetapi terasa janggal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sederhananya, liminal space berarti ruang 'di antara' atau 'di ambang'. Ruang seperti ini biasanya bukan tempat untuk menetap, melainkan hanya dilewati. Contohnya lorong, tangga, bandara yang sepi, sekolah yang kosong, hotel hallway, kantor pada malam hari, atau mal yang sudah tutup.
Dalam film Backrooms (2026), ruang semacam itu dibuat terasa lebih menyeramkan. Lorong panjang, ruangan yang berulang, lampunya monoton, dan tidak ada manusia. Tempat yang sebenarnya biasa saja akhirnya berubah jadi terasa asing, tidak nyaman, bahkan menakutkan.
Lalu, kenapa liminal space sebenarnya bisa terasa menyeramkan? Berikut penjelasannya, merangkum berbagai sumber.
Familiar, tapi terasa janggal
Salah satu alasan liminal space terasa mengganggu adalah karena ruangnya tampak familiar, tetapi tidak sesuai dengan harapan.
Kantor, sekolah, mal, atau bandara biasanya identik dengan aktivitas manusia. Ketika tempat seperti itu terlihat kosong total, otak menangkapnya sebagai sesuatu yang tidak biasa.
Studi dari Journal of Environmental Psychology menjelaskan, rasa uncanny atau perasaan mengganjal tidak hanya bisa muncul dari wajah atau robot, tetapi juga dari ruang fisik. Menurut studi tersebut, ruang bisa terasa aneh ketika bentuk atau strukturnya menyimpang dari pola yang akrab.
Ruang kosong membuat otak kehilangan petunjuk
Manusia biasanya membaca ruang lewat banyak tanda, seperti suara, arah, cahaya, aktivitas, atau keberadaan orang lain. Tanda-tanda itu membantu otak memahami apakah sebuah tempat terasa aman dan normal.
Dalam liminal space, banyak petunjuk itu hilang. Tidak ada orang, tidak ada aktivitas, dan tidak jelas ruang itu mengarah ke mana. Liminal space di lingkungan kampus, terutama koridor dan tangga, menunjukkan ruang transisi dapat memengaruhi kesan pertama seseorang terhadap sebuah tempat.
Ketika koridor atau tangga terasa kosong, sunyi, atau minim tanda kehidupan, ruang itu bisa terasa asing dan tidak nyaman.
Penuh ketidakpastian
Rasa takut dalam liminal space juga berkaitan dengan ketidakpastian. Ruang seperti ini sering tidak memberi jawaban yang jelas, ini tempat apa, kenapa kosong, ke mana ujungnya, dan apakah ada orang lain di sana?
Dalam psikologi, ketidakpastian dapat memperkuat rasa cemas pada sebagian orang. Semakin sulit otak membaca situasi, semakin besar pula kemungkinan muncul rasa tidak nyaman. Karena itu, liminal space tidak selalu perlu menghadirkan sosok menyeramkan untuk membuat orang gelisah.
Apakah liminal space berdampak pada mental?
Liminal space tidak bisa disebut sebagai penyebab langsung gangguan mental. Namun, ruang yang kosong, ambigu, berulang, dan terasa tidak wajar dapat memicu rasa tidak nyaman, cemas, disorientasi, atau takut pada sebagian orang.
Mengutip dari Verywell Mind, kondisi liminal, baik secara fisik maupun emosional, dapat terasa menegangkan karena seseorang berada di fase transisi. Ia tidak lagi berada di tempat lama, tetapi juga belum sampai ke tempat baru. Dalam konteks ruang fisik, perasaan itu bisa muncul ketika otak sulit membaca situasi.
Meski begitu, efeknya tidak selalu negatif. Bagi sebagian orang, liminal space justru terasa menarik, tenang, atau memancing refleksi. Itu sebabnya foto-foto ruang kosong bisa terasa merinding, tapi sekaligus membuat orang penasaran.
(anm/asr) Add
as a preferred source on Google

