Sejarah Hari Donor Darah Sedunia dan Sosok di Balik Peringatannya
Setiap tanggal 14 Juni, masyarakat dunia memperingati Hari Donor Darah Sedunia sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya donor darah. Peringatan ini juga menjadi bentuk penghargaan kepada jutaan pendonor sukarela yang telah membantu menyelamatkan nyawa melalui setetes darah yang mereka berikan.
Dalam peringatan Hari Donor Darah Sedunia 2026, World Health Organization (WHO) mengusung tema "One Drop of Humanity. Give Blood. Save Lives." Tema tersebut menegaskan bahwa setiap tetes darah merupakan wujud kepedulian dan solidaritas antar sesama manusia.
Di balik kampanye global tersebut, terdapat sejarah Hari Donor Darah Sedunia yang panjang dan erat kaitannya dengan perkembangan ilmu transfusi darah modern.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbagai penemuan ilmiah dan inovasi di bidang kesehatan menjadi fondasi penting yang memungkinkan transfusi darah dilakukan dengan aman hingga saat ini. Melalui peringatan tahunan ini, masyarakat diajak memahami pentingnya donor darah secara rutin dan sukarela.
Selain itu, Hari Donor Darah Sedunia juga menjadi sarana edukasi mengenai kebutuhan darah yang terus meningkat di berbagai negara. Oleh karena itu, memahami sejarah Hari Donor Darah Sedunia menjadi langkah penting untuk mengenal perjalanan panjang di balik praktik donor darah modern.
Sejarah Hari Donor Darah Sedunia
Sejarah Hari Donor Darah Sedunia tidak dapat dipisahkan dari perkembangan ilmu transfusi darah yang berlangsung selama ratusan tahun. Mengutip National Library of Medicine, upaya transfusi darah telah dilakukan sejak abad ke-17, meski pada masa itu para ilmuwan masih memiliki pemahaman yang sangat terbatas mengenai sistem peredaran darah dan kecocokan darah antarindividu.
Pada tahun 1666, Richard Lower berhasil melakukan transfusi darah antara dua ekor anjing. Keberhasilan tersebut menjadi tonggak awal penelitian mengenai kemungkinan transfusi darah pada manusia.
Setahun kemudian, dokter asal Prancis Jean Baptiste Denys mencoba melakukan transfusi darah dari anak sapi kepada seorang pasien manusia. Namun, pasien tersebut meninggal dunia akibat reaksi yang kini diketahui sebagai reaksi hemolitik.
Peristiwa itu memicu kontroversi besar hingga praktik transfusi darah sempat dilarang di sejumlah negara Eropa.
Perkembangan penting kembali terjadi pada tahun 1818 ketika James Blundell berhasil menyelamatkan seorang perempuan yang mengalami perdarahan setelah melahirkan melalui transfusi darah dari suaminya.
Keberhasilan tersebut membuktikan bahwa transfusi darah antarmanusia dapat dilakukan dan membuka jalan bagi penelitian yang lebih mendalam mengenai prosedur transfusi yang aman.
Kemajuan terbesar dalam dunia transfusi darah kemudian terjadi pada tahun 1901. Menurut WHO, Karl Landsteiner, seorang ahli biologi dan dokter asal Austria, berhasil menemukan sistem golongan darah ABO.
Penemuan ini menunjukkan bahwa kecocokan golongan darah antara donor dan penerima merupakan faktor penting untuk mengurangi risiko komplikasi saat transfusi. Berkat temuannya tersebut, prosedur transfusi darah menjadi jauh lebih aman dibandingkan sebelumnya.
Penelitian Karl Landsteiner terus berkembang. Pada tahun 1937, bersama Alexander S. Wiener, ia berhasil mengidentifikasi faktor Rhesus (Rh).
Penemuan tersebut semakin meningkatkan keamanan transfusi darah dan membantu tenaga medis menentukan kecocokan darah secara lebih akurat.
Atas kontribusinya yang sangat besar dalam dunia kedokteran, tanggal kelahiran Karl Landsteiner, yaitu 14 Juni, kemudian dipilih sebagai tanggal peringatan Hari Donor Darah Sedunia.
Hari Donor Darah Sedunia pertama kali diperingati pada tahun 2004. Setahun kemudian, tepatnya pada 2005, Majelis Kesehatan Dunia ke-58 menetapkannya sebagai peringatan global tahunan.
Sejak saat itu, Hari Donor Darah Sedunia diperingati setiap 14 Juni untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya donor darah yang aman sekaligus memberikan penghargaan kepada para pendonor sukarela yang telah membantu menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia.
Peringatan ini juga menjadi sarana untuk mendorong ketersediaan darah yang cukup dan aman bagi pasien yang membutuhkan transfusi, baik dalam kondisi darurat, proses persalinan, operasi, maupun pengobatan berbagai penyakit serius.
(gas/tis) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
