Telur Dadar Dicampur Tepung, Benarkah Gizinya Menyusut?

CNN Indonesia
Senin, 08 Jun 2026 08:15 WIB
Telur Dadar Dicampur Tepung, Benarkah Gizinya Menyusut?
Ilusterasi. Telur dadar campur tepung konon bisa kurangi gizinya. (iStockphoto/Golfcuk)
Jakarta, CNN Indonesia --

Telur menjadi salah satu menu andalan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) karena kaya protein, mudah diolah, dan relatif terjangkau. Namun, Presiden Prabowo Subianto menyoroti cara pengolahan telur yang diberikan kepada anak-anak penerima manfaat program tersebut.

Dalam acara Building Indonesia's Future Generations Through Nutrition di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Rabu (3/6), Prabowo mengingatkan agar telur dalam program MBG tidak diolah menjadi telur dadar yang dicampur berbagai bahan tambahan.

Menurut Prabowo, praktik tersebut berisiko menurunkan kualitas gizi yang diterima anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang kedua, telur jangan bikin dadar. Saya sudah lama jadi orang Indonesia, kalau telur dadar nanti dicampur macam-macam itu. Iya kan? Tepungnya lebih banyak dari telurnya," kata Prabowo mengutip Detik.

Pernyataan itu memunculkan pertanyaan, benarkah telur ceplok lebih bergizi dibanding telur dadar yang dicampur tepung?

Kandungan gizi telur tetap tinggi

Telur dikenal sebagai salah satu bahan pangan dengan kepadatan gizi yang tinggi. Berdasarkan Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) 2017, satu butir telur ayam mengandung sekitar 70 kilokalori energi, 6-7 gram protein, serta sekitar 5 gram lemak.

Selain protein berkualitas tinggi, telur juga mengandung berbagai vitamin dan mineral penting yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.

Ketika telur diolah menjadi telur ceplok, kandungan protein pada dasarnya tidak berubah karena sumber proteinnya tetap berasal dari telur. Perbedaan utama terletak pada tambahan minyak yang digunakan saat proses memasak.

Penggunaan minyak saat menggoreng dapat menambah sekitar 40-50 kilokalori energi dan sekitar 4-5 gram lemak. Dengan demikian, satu butir telur ceplok dapat mengandung sekitar 110-120 kilokalori energi dengan total lemak sekitar 9 gram.

Masalah utama bukan terletak pada tepung itu sendiri, melainkan pada proporsi telur yang digunakan dalam satu porsi makanan.

Penambahan tepung memang dapat membuat ukuran telur dadar tampak lebih besar dan mengenyangkan. Namun, tepung tidak menambah kandungan protein hewani yang menjadi nilai gizi utama dari telur.

Dalam praktik tertentu, sejumlah telur dicampur dengan tepung lalu dibagi menjadi lebih banyak porsi. Akibatnya, setiap anak memperoleh protein yang lebih sedikit dibandingkan jika menerima satu butir telur utuh.

Sebagai ilustrasi, tiga butir telur yang dicampur tepung dapat menghasilkan telur dadar berukuran besar dan kemudian dibagi menjadi enam bagian. Dalam kondisi tersebut, setiap anak hanya memperoleh sebagian kecil protein yang berasal dari tiga butir telur tersebut.

Sementara itu, tepung lebih banyak menyumbang karbohidrat. Ditambah lagi, proses penggorengan dapat meningkatkan jumlah kalori karena adanya minyak yang terserap ke dalam makanan.

Telur ceplok atau telur dadar?

Secara gizi, telur ceplok dan telur dadar yang dibuat dari jumlah telur yang sama sebenarnya memiliki kandungan protein yang relatif setara. Namun, perbedaannya muncul ketika telur dadar dicampur tepung dalam jumlah cukup banyak lalu dibagi ke lebih banyak porsi.

Dalam konteks Program Makan Bergizi Gratis, kekhawatiran yang disampaikan Prabowo berkaitan dengan kemungkinan berkurangnya asupan protein yang diterima setiap anak. Semakin sedikit jumlah telur yang dikonsumsi per porsi, semakin rendah pula protein hewani yang diperoleh.

Karena itu, penggunaan telur utuh atau olahan yang tetap mempertahankan proporsi telur yang memadai dinilai lebih efektif untuk memastikan kebutuhan protein anak terpenuhi sesuai tujuan program MBG.

Baca selengkapnya di sini

(tis/tis) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]