Awas! Ini yang Terjadi pada Otak Anak Saat Nonton Video Pendek
Konten-konten video pendek kian mendominasi media sosial. Di satu sisi, orang semakin kreatif berekspresi. Namun di sisi lain, ada dampak serius yang perlu diperhatikan terlebih terhadap otak anak. Orang tua perlu sadar inilah yang terjadi pada otak anak saat menonton video pendek.
Video berdurasi sekian detik atau kurang dari dua menit belakangan massif dikonsumsi pengguna media sosial. Beberapa platform media sosial pun mengikuti TikTok dengan menyediakan fitur video singkat seperti Short pada YouTube dan Reels di Instagram.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Buat anak yang sudah memegang gadget, tentu aktivitas berselancar di media sosial semakin bervariasi. Melansir dari Psychology Today, video pendek didesain untuk keterlibatan berulang. Pengguna tinggal menonton tanpa mengatur apa yang mau ditonton berikutnya.
Seiring berjalan waktu, kebiasaan scrolling video pendek membentuk bagaimana perhatian, suasana hati, dan motivasi diatur pada anak-anak dan remaja yang otaknya masih berkembang.
Apa yang terjadi pada otak anak saat nonton video pendek?
Melansir dari laman Kathy Child Psychology, video pendek biasanya berdurasi 90 detik. Kebanyakan anak dan remaja tidak menonton sampai selesai. Mereka mungkin cuma menonton di 14-45 detik awal lalu video digeser.
Saat video digeser, otak melepas dopamin di area yang disebut nukleus accumbens yang merupakan pusat penghargaan (reward) otak. Suntikan dopamin di wilayah ini memicu perasaan senang dengan apa yang dilakukan atau baru saja dilakukan. Kemudian juga menyebabkan anak menginginkan lebih banyak perasaan itu.
Persediaan video pun tak terbatas sehingga tak heran anak bisa berlama-lama dengan gadget-nya. Seiring anak sering menonton video pendek, nukleus accumbens menyesuaikan diri dengan lonjakan dopamin. Lama-kelamaan, area ini jadi membutuhkan stimulasi serupa dan bisa mengarah pada kecanduan.
Kecanduan gadget mungkin baru satu dampak dari beberapa dampak yang sama seriusnya.
Melansir dari Science Alert, konsumsi video pendek bisa mengganggu tidur anak. Paparan cahaya dari gadget dapat menunda pelepasan melatonin yang membantu tidur.
Ilustrasi. Konsumsi video pendek pada anak berimbas pada tidur si kecil. Tidur jadi terganggu sehingga memengaruhi kesehatan anak. (iStockphoto/SB Arts Media) |
Tidur yang terganggu dapat memengaruhi suasana hati, daya tahan tubuh, dan daya ingat.
Selain itu, otak anak sulit tenang akibat konten yang memicu emosi naik turun. Studi menemukan paparan video pendek yang berlebihan pada remaja berkaitan dengan kualitas tidur yang buruk dan kecemasan sosial yang tinggi.
Ketika beranjak remaja, perlahan anak akan menginternalisasi standar popularitas, penampilan, atau kesuksesan yang tidak realistis seperti di media sosial.
Hal ini jelas harus jadi perhatian orang tua. Mungkin sebagian orang tua sudah menerapkan pembatasan screen time. Namun yang tak kalah penting adalah mengenali kenapa anak betah scrolling video pendek.
Apa anak bosan? Kesepian? Sudah jadi kebiasaan? Kemudian sesuaikan pokok masalah dengan solusi yang sehat.
(els) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]


