Negara Paling Bahagia, Warga Bhutan Senang Mengingat Kematian
Bhutan dikenal sebagai salah satu negara yang sering dikaitkan dengan kebahagiaan. Menariknya, salah satu kebiasaan yang dipercaya membantu warganya hidup lebih bahagia justru terdengar tidak biasa: mengingat kematian.
Bagi banyak orang, kematian adalah topik yang berat dan sebisa mungkin dihindari. Namun, di Bhutan, kematian justru dipandang sebagai pengingat untuk menjalani hidup dengan lebih sadar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, apa rahasia bahagia orang Bhutan dari kebiasaan mengingat kematian tersebut?
1. Jadi pengingat bahwa waktu terbatas
Mengingat kematian membuat seseorang sadar bahwa hidup tidak berlangsung selamanya. Kesadaran ini bisa membantu seseorang berhenti menunda hal penting dan lebih fokus pada apa yang benar-benar berarti.
Profesor psikologi dari Washington University in St. Louis, Brian Carpenter, mengatakan bahwa menerima kematian dapat mendorong rasa kebersamaan dan makna hidup, seperti yang dikutip dari CNN.
2. Membuat orang lebih berani menghadapi rasa takut
Kematian sering dianggap sebagai hal yang menakutkan. Padahal, geropsikolog dari Rush University, Erin Emery-Tiburcio, mengatakan bahwa banyak orang sebenarnya lebih takut pada penderitaan menjelang akhir hidup, seperti sakit atau kehilangan kendali.
Dengan membicarakannya secara lebih terbuka, kematian tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang sepenuhnya gelap. Sebaliknya, topik ini bisa membantu orang memahami rasa takutnya sendiri.
3. Mengajarkan bahagia tidak selalu soal uang
Bhutan dikenal dengan konsep Gross National Happiness atau Kebahagiaan Nasional Bruto. Ukuran bahagia di negara ini tidak hanya dilihat dari ekonomi, tetapi juga kesehatan spiritual, sosial, budaya, dan lingkungan.
Mengutip dari Financial Times, masyarakat Bhutan hidup dekat dengan alam, komunitas, dan praktik spiritual. Pengingat tentang kematian juga hadir dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari bendera doa, simbol spiritual, tempat ibadah, hingga tradisi mengenang orang yang telah meninggal.
4. Membantu menerima kenyataan hidup
Dalam dokumenter Agent of Happiness, sutradara Arun Bhattarai pun menyoroti cara masyarakat Bhutan memandang kebahagiaan. Salah satu pelajaran yang ia temukan adalah kemampuan menerima kenyataan saat ini.
Menerima bukan berarti menyerah. Justru, sikap ini membantu seseorang lebih kuat menghadapi kesulitan dan tidak menghabiskan energi untuk melawan hal yang tidak bisa dikendalikan.
5. Membuat hubungan terasa lebih penting
Saat sadar hidup tidak selamanya, seseorang bisa lebih terdorong untuk menjaga hubungan dengan orang terdekat. Misalnya, lebih sering menghubungi keluarga, meminta maaf, menyampaikan perasaan, atau meluangkan waktu bersama orang yang berarti.
6. Mengajak lebih menikmati hari ini
Memikirkan kematian tidak harus dilakukan sampai membuat cemas.Emery-Tiburcio menyarankan agar kesadaran tentang hidup yang terbatas justru dipakai untuk kembali menikmati momen saat ini.
Caranya bisa sederhana, seperti hadir penuh saat bersama orang tersayang, merawat tubuh, menyelesaikan hal penting, atau berhenti menunda sesuatu yang bermakna.
Pada akhirnya, kebiasaan orang Bhutan mengingat kematian bukan soal menjadi. muram. Sebaliknya, kebiasaan ini menjadi pengingat bahwa hidup perlu dijalani dengan lebih sadar, lebih penuh, dan lebih menghargai hal-hal kecil yang sering terlewat.
(anm/asr) Add
as a preferred source on Google

