Pesawat yang Akan Lakukan Penerbangan 22 Jam 'Delay' Hingga 2027

CNN Indonesia
Kamis, 28 Mei 2026 09:10 WIB
Ilustrasi sayap pesawat. Project Sunrise Qantas harus 'delay' penerbangan terpanjangnya, karena Airbus baru mengirim pesawat pada April 2027.
Ilustrasi. Project Sunrice milik Qantas harus 'delay' penerbangan terpanjangnya di dunia, karena pengiriman pesawat oleh Airbus baru dilakukan April 2027. (Ross Parmly via Unsplash)
Jakarta, CNN Indonesia --

Inovasi terus berkembang untuk memenuhi kebutuhan penumpang pesawat dan mempercepat penerbangan antarbenua. Salah satu proyek ambisius yang sedang dinantikan, yakni Project Sunrise milik Qantas, maskapai nasional Australia.

Namun, kabar terbaru menyebutkan pesawat utama, A350-1000ULR, yang akan mendukung rencana ini mengalami penundaan hingga tahun 2027.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini dikonfirmasi oleh produsen pesawat, Airbus. Pesawat A350 pertama yang sebelumnya dijadwalkan dikirim pada akhir 2026, akan mengalami delay hingga paruh pertama 2027.

Pengiriman ditunda hingga April 2027

Ada lima pesawat yang sedang dinantikan oleh Qantas. Maskapai ini diharapkan bisa menerima kelimanya hingga November tahun depan.

"A350-1000ULR [ultra-long range] pertama sekarang akan bergabung dengan armada Qantas pada April 2027 (dengan pengiriman selanjutnya akan menyusul dengan cepat)," kata seorang juru bicara Airbus, dilansir laman Stuff pada Selasa (26/5).

Soal keterlambatan, juru bicara tersebut masalah rantai pasokan menjadi penyebab utama. Adapun pesawat ini nantinya akan dipakai Qantas untuk melayani penerbangan Sydney-London dan Sydney-New York.

Jika sudah beroperasi, kedua rute ini akan menjadi penerbangan terpanjang di dunia. Rute Sydney-London saja mencapai jarak sekitar 17.000 km dengan durasi penerbangan selama 22 jam.

Project Sunrise sendiri merupakan ambisi Qantas untuk menghubungkan Australia dengan sejumlah kota besar dunia tanpa perlu transit. Rencana ini sebenarnya sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu.

Namun peluncurannya sempat tertunda karena berbagai tantangan teknis, termasuk pengembangan pesawat yang mampu menempuh jarak sangat jauh, serta dampak pandemi Covid-19 terhadap industri penerbangan.

Meski pengiriman pesawat pertama ditunda, Qantas menyatakan penundaan ini tak akan memengaruhi pengiriman pesawat berikutnya.

"Meskipun pengiriman pesawat pertama telah diundur ke April 2027, empat pesawat berikutnya akan menyusul dengan cepat, sehingga kami kembali ke jadwal semula pada bulan November," kata juru bicara Qantas.

"Kami terus bekerja sama erat dengan Airbus dalam proses pengiriman dan sertifikasi yang akan memungkinkan kami untuk mulai mengoperasikan penerbangan ultra-jarak jauh bersejarah ini," tutur juru bicara Qantas lagi.

Pesawat Airbus A350 pertama yang akan dikirim, saat ini sedang berada di bengkel pengecatan di Toulouse, Prancis. Adapun penerbangan uji coba akan dimulai dalam beberapa minggu.

Mengenal A350, pesawat yang akan terbang 22 jam nonstop

Qantas sudah memesan 12 pesawat A350-1000ULR sejak Mei 2022. Pesawat ini dirancang khusus memiliki tangki bahan bakar tambahan hingga 20.000 liter di bagian belakang tengah.

Dengan tambahan tangki ini, pesawat bisa melakukan penerbangan sejauh 18.500 km. Jarak ini cukup untuk melakukan perjalanan langsung dari Sydney ke London.

Project Sunrise ini memungkinkan penumpang untuk hemat hingga empat jam waktu perjalanan karena tak perlu transit. Selama ini, perjalanan dari Australia ke Inggris biasanya memerlukan satu kali penghentian, misalnya di Singapura, Dubai, Doha, atau Perth.

Hanya saja, penumpang harus betah menunggu selama 22 jam di atas pesawat sebelum tiba di tujuan.

Namun penumpang tak perlu khawatir. Mengutip Daily Mail, Qantas menyebut akan menghadirkan area khusus di dalam kabin untuk peregangan, minum, dan bergerak ringan.

Fitur seperti pencahayaan kabin, pengaturan waktu makan, hingga desain kursi juga menjadi bagian dari upaya mengurangi jet lag.

Dengan pesawat yang mampu menempuh jarak jauh tanpa transit, pengalaman terbang dari Australia ke berbagai kota besar dunia akan berubah secara signifikan, terutama bagi penumpang.

(rti) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]