Desa di Atas Awan Wae Rebo Ditutup Sementara Imbas Longsor

CNN Indonesia
Jumat, 15 Mei 2026 19:05 WIB
Kampung Adat Wae Rebo tutup sementara untuk wisatawan akibat longsor. Cuaca ekstrem membuat jalur pendakian menuju 'Desa di Atas Awan' itu berbahaya.
Desa Wae Rebo yang berada di ketinggian sekitar 1.200 mdpl, Nusa Tenggara Timur (NTT). (iStockphoto/Margareta Yuliana)
Manggarai Barat, CNN Indonesia --

Pemerintah menutup sementara kunjungan wisata ke Kampung Adat Wae Rebo, destinasi ikonik di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dikenal sebagai "Desa di Atas Awan".

Keputusan ini diambil otoritas setelah hujan deras selama sepekan terakhir memicu longsor yang menutup total jalur pendakian utama menuju situs warisan budaya dunia tersebut.

Tumpukan tanah, bebatuan, dan material longsor kini menimbun sepanjang jalur setapak. Akses menuju 'Desa di Atas Awan' itu pun tidak bisa dilewati sama sekali.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seluruh rute pendakian kini berubah menjadi sangat licin, berlumpur, dan struktur tanahnya menjadi labil, sehingga sangat berisiko bagi siapa saja yang memaksakan diri mendaki.

Situasi kian diperburuk oleh cuaca ekstrem yang masih berlangsung, disertai angin kencang yang mengancam bisa menumbangkan pepohonan di sepanjang jalur hutan yang lebat.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai, Aloysius Jebarut, menegaskan penutupan ini adalah langkah pencegahan tegas dengan mengutamakan keselamatan.

Dia mengatakan pemerintah daerah tidak ingin mengambil risiko apa pun yang bisa membahayakan nyawa pengunjung maupun warga setempat.

"Kami imbau wisatawan untuk menunda dulu rencana perjalanan ke Wae Rebo, karena jalurnya tertutup longsor dan belum bisa dilewati. Kondisi jalur saat ini sangat berbahaya, licin, tidak stabil, dan ada potensi pohon tumbang. Keselamatan setiap orang yang berkunjung adalah prioritas mutlak kami," ujar Aloysius dalam keterangannya, Jumat (15/5).

Senada dengan itu, Ketua Lembaga Pelestari Budaya Wae Rebo, Mikael Tonso, membenarkan bahwa kondisi di lapangan masih tergolong kritis.

Ia menjelaskan dampak hujan deras tidak hanya menimbun jalan, tetapi juga membuat struktur tanah di sepanjang rute menjadi lemah dan tidak aman.

"Kondisi saat ini menunjukkan, selain tertutup material longsor, jalur pendakian jadi sangat licin dan berisiko tinggi bagi pendaki. Ditambah cuaca buruk dan angin kencang, ancaman pohon tumbang di sepanjang hutan itu nyata adanya," ungkap Mikael saat dihubungi,, Jumat Siang

Pihaknya pun telah berkoordinasi erat dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan pelaku usaha wisata agar informasi ini tersebar luas.

Menurutnya hal tersebut penting agar tidak ada wisatawan yang datang tanpa mengetahui kondisi sebenarnya, lalu akhirnya terjebak atau kesulitan di tengah jalan karena akses terputus.

Selain itu, berdasarkan informasi yang diterima, saat ini tim gabungan yang terdiri dari pemerintah dan warga adat terus memantau perkembangan cuaca serta kestabilan tanah di lokasi.

Proses pembersihan dan perbaikan akses baru akan dimulai setelah hujan berhenti total dan pihak berwenang menyatakan kondisi lingkungan aman untuk dikerjakan.

"Kami baru akan mulai membersihkan jalur kalau situasi sudah aman sepenuhnya. Kami minta pengertian dan kesabaran wisatawan, harap tunda kunjungan sampai ada pengumuman resmi dibuka kembali. Sebelum menyambut tamu lagi, kami pastikan jalur sudah aman dan nyaman dilalui," tambah Mikael.

Dia pun menyarankan bagi wisatawan yang berencana berkunjung, diimbau terus memantau informasi resmi dari pemerintah daerah maupun pengelola Wae Rebo sebelum menjadwalkan ulang perjalanan.

(lou/kid) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]