Apa Benar Makan Telur Bikin Bisulan? Ternyata Begini Faktanya

CNN Indonesia
Kamis, 07 Mei 2026 13:00 WIB
Benarkah makan telur memicu bisul? Simak penjelasan ilmiah soal infeksi bakteri dan salah kaprah gejala alergi berikut ini.
Ilustrasi. Banyak yang mengira kalau makan telur terlalu banyak bisa bisulan. (iStockphoto/tm_zml)
Jakarta, CNN Indonesia --

Telur kerap dituding sebagai 'tersangka' utama saat benjolan merah berisi nanah tiba-tiba muncul di permukaan kulit. Di Indonesia, anggapan bahwa konsumsi telur berlebih dapat memicu bisul seolah sudah menjadi 'warisan' tutur yang dipercaya lintas generasi.

Biasanya, klaim ini berdasar pada pengalaman personal: setelah mengonsumsi telur, muncul benjolan nyeri di area tubuh tertentu. Namun, secara medis, benarkah protein sejuta umat ini menjadi penyebabnya?

Melansir Mayo Clinic, bisul atau furunkel pada dasarnya disebabkan oleh infeksi bakteri, paling umum adalah Staphylococcus aureus. Bakteri ini menyerang folikel rambut atau kelenjar minyak, sehingga memicu peradangan berupa benjolan merah, nyeri, dan berisi nanah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengapa telur sering disalahkan?

Fenomena 'tuduhan' terhadap telur ini biasanya berakar dari salah kaprah dalam mengenali masalah kulit. Setelah makan telur, seseorang mungkin mengalami reaksi kulit tertentu dan langsung melabelinya sebagai bisul. Padahal, benjolan tersebut bisa jadi merupakan jerawat, iritasi, atau reaksi alergi.

Jika seseorang memiliki alergi telur, gejala yang muncul umumnya berupa gatal-gatal, ruam kemerahan, bentol (urtikaria), hingga mual dan sesak napas. Reaksi alergi ini sangat berbeda dengan mekanisme terbentuknya bisul yang murni akibat infeksi bakteri.

Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan gejala yang muncul. Apakah benjolan tersebut nyeri dan berdenyut (khas bisul), atau cenderung gatal dan muncul merata (khas alergi)?

Mengutip Cleveland Clinic, bisul lebih sering muncul di area tubuh yang mudah berkeringat atau sering mengalami gesekan, seperti leher, wajah, paha, bokong, hingga ketiak.

Kondisi kulit yang lembap, berminyak, atau kurang bersih menjadi lingkungan ideal bagi bakteri untuk berkembang biak. Selain faktor higienitas, risiko bisulan juga meningkat pada orang dengan kondisi medis tertentu, seperti:

• Penderita diabetes.

• Orang dengan daya tahan tubuh lemah.

• Penderita obesitas.

• Kebiasaan berbagi barang pribadi (handuk atau alat cukur).

Karena disebabkan oleh bakteri, bisul juga bersifat menular melalui kontak kulit atau benda yang telah terkontaminasi.

Nutrisi di balik sebutir telur

Di sisi lain, telur merupakan sumber nutrisi yang sangat baik. Mengandung protein tinggi, vitamin B12, vitamin A, selenium, hingga kolin, telur justru membantu tubuh memperbaiki jaringan kulit yang rusak.

Hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah kuat yang menyatakan bahwa telur secara langsung menyebabkan bisul. Anggapan tersebut lebih condong ke arah mitos daripada fakta medis. Selama dikonsumsi dalam batas wajar dan tidak memiliki alergi, telur aman bagi kesehatan kulit.

Meski sebagian besar bisul bisa sembuh dengan sendirinya, Anda disarankan untuk segera berkonsultasi ke dokter jika:

1. Bisul berukuran sangat besar dan sangat nyeri.

2. Disertai demam tinggi.

3. Jumlah bisul bertambah banyak atau sering kambuh.

4. Tidak menunjukkan tanda-tanda membaik setelah lebih dari dua minggu.

Jadi, bagi Anda pencinta telur, tak perlu khawatir berlebih. Fokuslah pada menjaga kebersihan kulit dan daya tahan tubuh agar terhindar dari infeksi bakteri penyebab bisul.

(anm/tis) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]