Stop! Ini 7 Mitos Soal Sushi yang Tak Boleh Lagi Kamu Percaya

CNN Indonesia
Kamis, 07 Mei 2026 01:00 WIB
Ada sejumlah mitos seputar sushi yang masih banyak dipercaya orang. Ketahui fakta-faktanya agar makan sushi jadi lebih nikmat.
Ilustrasi. Ada sejumlah mitos seputar sushi yang masih banyak dipercaya orang. Ketahui fakta-faktanya agar makan sushi jadi lebih nikmat. (Istockphoto/ Ridofranz)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Sushi merupakan salah satu kuliner Jepang yang populer di banyak negara, termasuk Indonesia. Hidangan ini digemari karena rasanya yang segar, tampilannya menarik, dan pilihannya beragam.

Namun, di balik kepopulerannya, masih banyak mitos sushi yang dipercaya begitu saja oleh banyak orang. Padahal, tidak semua anggapan tentang sushi itu benar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mitos seputar sushi

Supaya tidak salah paham saat menikmati makanan Jepang ini, yuk kenali fakta di balik sejumlah mitos sushi berikut ini:

1. Suhu nasi untuk sushi tidak penting

Salah satu mitos sushi yang paling umum, yakni anggapan bahwa suhu nasi tidak berpengaruh. Faktanya, nasi untuk sushi atau shari justru harus disajikan dalam kondisi hangat.

Suhu nasi memengaruhi cara cuka, gula, garam, dan bahan lain menyatu dengan butiran nasi.

"Nasi sushi harus disajikan hangat dan hanya ada waktu yang sangat singkat di mana nasi tersebut akan tetap hangat," kata koki Joel Hammond yang juga murid koki sushi legendaris, Masaharu Morimoto, seperti dikutip dari Tasting Table.

2. Sushi bisa dibuat dengan jenis beras apa pun

Banyak orang mengira beras jenis apa pun bisa dipakai untuk membuat sushi. Kenyataannya, sushi membutuhkan beras jenis tertentu, biasanya berbutir pendek, yang memiliki kandungan pati lebih tinggi, sehingga menghasilkan tekstur lengket dan kenyal.

Jika memakai beras yang salah, bentuk sushi bisa mudah hancur dan rasa akhirnya juga berbeda. Jadi, tidak semua nasi cocok untuk menghasilkan sushi yang autentik.

3. Wasabi hanya untuk menambah rasa

In this picture taken on December 1, 2020, Japanese sushi master Toshiya Matsushita shreds fresh wasabi at his restaurant in Tokyo. - If you've eaten sushi, you might assume you've tried wasabi. But chances are it was an artificial version that Japanese growers say is a world away from their 'green gold'. (Photo by Charly TRIBALLEAU / AFP) / To go with AFP story Japan-food-agriculture-economy-health-virus, FOCUS by Mathias CENAFoto: AFP/CHARLY TRIBALLEAU
Ilustrasi wasabi.

Selama ini wasabi identik sebagai pelengkap sushi yang memberi sensasi pedas. Namun, wasabi justru digunakan untuk alasan keamanan makanan, bukan sekadar rasa.

Wasabi mengandung senyawa antimikroba yang dapat membantu melawan beberapa jenis bakteri, bahkan memiliki fungsi antiparasit. Dalam tradisi sushi klasik, wasabi bahkan diletakkan langsung di antara nasi dan ikan.

4. Omakase harus berisi sushi saja

Omakase merupakan gaya bersantap Jepang yang mana para tamu restoran mempercayakan koki untuk menyusun hidangan. Secara harfiah, omakase sendiri artinya, "saya serahkan semuanya kepada Anda."

Jadi, omakase bertumpu pada pilihan koki dan tak selalu berkaitan dengan menu sushi. Menu omakase bisa beragam, seperti tempura, yakitori, wagyu panggang, atau hidangan tahu ringan.

"Omakase dapat berisi berbagai macam hidangan dan lebih mendefinisikan gaya pelayanan," kata Hammond.

5. Sushi wajib dimakan dengan sumpit

Tidak sedikit yang merasa harus memakai sumpit saat makan sushi agar terlihat "tepat". Dalam banyak tradisi, sushi justru boleh dan bahkan lebih disarankan dimakan dengan tangan.

"Meskipun paling umum menggunakan sumpit, saya merekomendasikan makan sushi dengan jari, agar keutuhan nigiri tetap terjaga," ujar koki sushi Kwang Kim, dilansir CNET.

6. Sushi selalu menggunakan ikan mentah

Banyak pula yang menganggap sushi identik dengan ikan mentah, padahal tidak selalu demikian. Sushi modern sangat beragam, bahkan ada yang memakai sayuran, telur, ayam, atau sama sekali tanpa ikan.

Menurut NDTV, yang membuat hidangan ini disebut sushi, yakni nasi yang dibumbui cuka, garam, dan gula. Jadi, sushi bukan soal ikan mentah semata, melainkan kombinasi rasa dan teknik penyajiannya.

7. Sushi harus selalu dicelup ke soyu

Sushi memang sering disajikan dengan soyu kecap asin, tetapi bukan berarti harus selalu dicelup. Ini juga termasuk mitos sushi yang perlu stop dipercaya. Jika sushi sudah terasa pas bumbunya, kamu tidak wajib menambahkan kecap asin.

Hal yang sama berlaku untuk wasabi dan acar jahe atau gari. Semua kembali ke selera masing-masing. Tidak ada aturan mutlak yang mengharuskan semua pelengkap dipakai dalam setiap suapan.

Itu dia daftar mitos seputar sushi. Memahami fakta di balik sushi bisa membuat pengalaman makan jadi lebih enak dan autentik. Selamat menikmati sushi!

[Gambas:Video CNN]

(rti) Add as a preferred
source on Google