Sering Tak Disadari, Ini 9 Tanda Misogini yang Muncul dalam Keseharian

CNN Indonesia
Rabu, 29 Jul 2026 16:00 WIB
Misogini tak selalu tampil sebagai kebencian terbuka terhadap perempuan. Ini bisa hadir dalam bentuk sikap dan perilaku tidak wajar dalam keseharian.
Ilustrasi. Misogini tidak selalu tampil sebagai kebencian terbuka terhadap perempuan. Ia juga bisa hadir dalam bentuk sikap dan perilaku tidak wajar dalam keseharian. (iStockphoto/asiandelight)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Misogini tidak selalu tampil sebagai kebencian terbuka terhadap perempuan, melainkan sering hadir dalam bentuk sikap dan perilaku yang tampak wajar, bahkan kerap tidak disadari oleh pelakunya sendiri.

Melansir dari Very Well Mind, misogini sendiri merupakan prasangka terhadap perempuan yang menegakkan peran gender dan menghukum perempuan yang menentangnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun sering disalahartikan dengan seksisme, misogini lebih dari sekedar diskriminasi. Ia mencerminkan permusuhan, kontrol, bahkan kebencian terhadap perempuan.

Dalam banyak kasus, sikap ini terbentuk sejak awal kehidupan melalui pengalaman emosional yang melibatkan figur perempuan yang dekat, seperti ibu, saudara, atau pasangan.

Pengalaman negatif seperti penolakan, pengabaian, atau relasi yang tidak sehat dapat meninggalkan jejak psikologis yang kemudian memengaruhi cara seseorang memandang perempuan. Proses ini berlangsung perlahan, sehingga tanda-tandanya kerap tidak dikenali sejak awal.

Seiring waktu, pola tersebut dapat berkembang dan memengaruhi cara seseorang berinteraksi, mengambil keputusan, hingga membangun relasi.

Mengutip dari laman Psychology Today, berikut sejumlah tanda misogini yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari.

1. Menarik di awal, lalu berubah drastis

Pada tahap awal, seseorang bisa tampil karismatik, perhatian, dan menyenangkan. Namun, seiring waktu, sikapnya berubah dari ramah menjadi kasar, lalu kembali baik. Perubahan yang tidak konsisten ini membuat orang lain sulit membaca niat sebenarnya.

2. Janji sering tidak ditepati kepada perempuan

Ia cenderung mudah berjanji, tetapi kerap mengingkari komitmennya kepada perempuan. Sebaliknya, ia bisa lebih bertanggung jawab ketika berurusan dengan laki-laki.

3. Memberi perlakuan berbeda antara perempuan dan laki-laki

[Gambas:Video CNN]

Dalam situasi sosial atau profesional, ia mungkin memberikan kebebasan lebih kepada laki-laki, tetapi lebih kritis atau membatasi perempuan. Perbedaan ini sering tidak disadari, namun berdampak nyata.

4. Bersikap dominan, sombong, dan ingin mengontrol

Misogini sering terlihat dari sikap yang merasa lebih unggul, ingin mengatur, serta berpusat pada diri sendiri dalam hubungan dengan perempuan.

5. Tidak nyaman melihat perempuan lebih unggul

Ketika perempuan menunjukkan pencapaian lebih tinggi, respons yang muncul bisa berupa rasa terancam, tidak nyaman, atau meremehkan. Sementara itu, keberhasilan laki-laki lebih mudah diterima secara objektif.

6. Merendahkan perempuan secara halus maupun terbuka

Mereka bisa membuat candaan yang meremehkan, komentar negatif di depan umum, atau sikap yang membuat perempuan merasa tidak dihargai.

7. Memanfaatkan perempuan untuk kepentingan pribadi

Dalam hubungan personal, ia bisa menuntut lebih tanpa memberi timbal balik yang setara. Sementara dalam konteks profesional, bisa mengambil ide perempuan tanpa memberi pengakuan dan penghargaan.

8. Cenderung mengontrol dalam hubungan intim

Dalam hubungan romantis, seorang misoginis biasanya lebih fokus pada kebutuhan diri sendiri, tanpa memperhatikan kenyamanan atau kepuasan pasangan. Hal ini membuat relasi menjadi tidak seimbang.

9. Sulit berkomitmen dan tidak konsisten dalam hubungan

Misogini cenderung akan selingkuh dari wanita yang sedang menjalin hubungan dengannya. Selain itu, mereka juga suka menghindari komitmen, atau tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan, lalu kembali dengan alasan yang membingungkan.

Meski demikian, tidak semua pelaku menunjukkan seluruh tanda tersebut. Justru karena muncul secara bertahap dan tidak selalu ekstrem, misogini sering tidak terdeteksi hingga berdampak lebih besar dalam hubungan.

Memahami tanda-tanda ini menjadi penting agar seseorang dapat lebih peka terhadap pola relasi yang tidak sehat. Dengan mengenali gejala sejak dini, seseorang dapat mengambil langkah yang lebih bijak dalam menjaga diri, membangun hubungan yang setara, serta menciptakan lingkungan sosial yang lebih sehat.

(nga/asr) Add as a preferred
source on Google