Jepang Naikkan Pajak Turis Demi Atasi Overtourism

CNN Indonesia
Senin, 13 Apr 2026 07:30 WIB
Mulai Juli 2026, Jepang menaikkan pajak turis dan hotel untuk mengatasi lonjakan wisatawan serta menjaga keberlanjutan destinasi.
Ilustrasi. Jepang akan naikkan pajak turis per Juli 2026. (AFP PHOTO / Martin BUREAU)
Jakarta, CNN Indonesia --

Jepang selama ini dikenal piawai menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas, kuil kuno berdiri berdampingan dengan gemerlap lampu kota, sementara ritual teh tetap hidup di tengah teknologi mutakhir.

Namun, lonjakan wisatawan global dalam beberapa tahun terakhir mulai menguji keseimbangan tersebut.

Kini, Jepang mengambil langkah baru, yakni menaikkan pajak wisatawan dan memperluas pungutan hotel sebagai strategi menghadapi overtourism.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mulai Juli 2026, wisatawan yang berkunjung ke Jepang akan menghadapi kenaikan pajak keberangkatan internasional serta bertambahnya pajak akomodasi. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mengelola lonjakan wisata sekaligus meningkatkan kualitas infrastruktur pariwisata.

Pajak turis naik tiga kali lipat

Jepang sebenarnya sudah menerapkan pajak turis sejak 2019. Namun, mulai Juli 2026, tarifnya akan naik dari 1.000 yen menjadi 3.000 yen per orang.

Melansir Traveler Outlook, pajak ini berlaku bagi semua wisatawan yang meninggalkan Jepang melalui jalur udara atau laut, dan biasanya sudah termasuk dalam harga tiket pesawat atau kapal. Anak-anak di bawah usia dua tahun umumnya dibebaskan dari pungutan ini.

Meski kenaikannya terlihat kecil, sekitar Rp200 ribu tambahan kebijakan ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memperbaiki bandara, memperlancar sistem transportasi, menyediakan layanan informasi multibahasa, hingga mengembangkan destinasi wisata di daerah.

Lonjakan wisatawan pascapandemi di kota-kota besar seperti Tokyo, Osaka, dan Kyoto turut menjadi alasan di balik kebijakan ini. Kepadatan di transportasi umum, kawasan bersejarah, hingga fasilitas publik kian terasa.

Pajak Hotel diperluas

Selain pajak keberangkatan, Jepang juga memperluas sistem pajak akomodasi yang ditetapkan oleh pemerintah daerah.

Berbeda dengan pajak nasional, tarif pajak hotel ditentukan masing-masing kota atau prefektur, menyesuaikan tekanan wisata dan kebutuhan lokal. Hingga awal 2026, setidaknya 20 wilayah telah menerapkan atau menyetujui kebijakan ini.

Besarannya relatif kecil, berkisar antara 100 hingga 500 yen per orang per malam, tergantung harga kamar. Penginapan murah dikenakan tarif rendah, sementara hotel dengan harga lebih tinggi dikenai pajak lebih besar.

Beberapa wilayah mulai menerapkan skema berbeda. Di Hokkaido, pajak dihitung berdasarkan harga kamar. Sementara Hiroshima telah memberlakukan pajak untuk mendukung fasilitas wisata dan infrastruktur kota.

Wilayah lain seperti Miyagi Prefecture, Sendai, Gifu, hingga Yugawara juga mulai menerapkan kebijakan serupa. Bahkan Okinawa tengah menyiapkan pajak sebesar 2 persen dari total biaya akomodasi mulai tahun fiskal 2026.

Di antara semua daerah, Kyoto menjadi yang paling agresif dalam menerapkan kebijakan ini.

Sejak Maret 2026, kota tersebut memberlakukan pajak akomodasi tertinggi di Jepang. Tarifnya meningkat tajam mengikuti harga kamar. Untuk hotel kelas menengah hingga mewah, pajak bisa mencapai hingga 10.000 yen per orang per malam.

Langkah ini diambil sebagai respons atas tekanan overtourism yang semakin terasa di kawasan bersejarah Kyoto. Mulai dari bus yang penuh sesak, kuil yang dipadati pengunjung, hingga jalan-jalan sempit yang sulit dilalui warga lokal.

Kawasan Gion bahkan kerap menjadi sorotan karena wisatawan berdesakan demi berfoto, memicu perdebatan soal etika berwisata.

Pemerintah kota berharap pajak yang lebih tinggi dapat membantu pendanaan pelestarian budaya, perbaikan infrastruktur, serta perlindungan kawasan bersejarah.

Bagi wisatawan, dampak biaya tambahan ini mungkin tidak terlalu besar. Liburan selama seminggu di hotel kelas menengah hanya akan menambah beberapa ribu yen. Namun, untuk perjalanan panjang lintas kota atau menginap di hotel mewah, totalnya bisa terasa signifikan.

Lebih dari sekadar soal biaya, kebijakan ini mencerminkan perubahan arah pariwisata Jepang. Fokusnya bukan lagi sekadar jumlah wisatawan, melainkan kualitas pengalaman dan keberlanjutan.

(tis/tis) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]