Rumput Fatimah untuk Persalinan, Aman atau Justru Berisiko?

CNN Indonesia
Jumat, 10 Apr 2026 19:30 WIB
Mengonsumsi air rebusan rumput Fatimah dipercaya dapat membantu persalinan, tapi studi menunjukkan potensi risiko serius bagi ibu hamil.
Mengonsumsi air rebusan rumput Fatimah dipercaya dapat membantu persalinan, tapi studi menunjukkan potensi risiko serius bagi ibu hamil. (Achmad Reyhan Dwianto/detikHealth)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menjelang persalinan, tidak sedikit ibu hamil menerima saran turun-temurun dari keluarga. Salah satunya adalah mengonsumsi air rebusan rumput Fatimah agar proses melahirkan lebih cepat dan lancar.

Di sisi lain, tenaga medis kerap membagikan pengalaman di media sosial tentang pasien yang justru mengalami kondisi memburuk setelah mengonsumsi ramuan ini.

Bagi sebagian orang, rumput Fatimah dianggap alami dan aman, apalagi telah digunakan sejak lama. Namun di balik kepercayaan tersebut, sejumlah temuan ilmiah dan laporan medis justru mengingatkan potensi risiko dari penggunaan tanaman ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rumput Fatimah atau Labisia pumila bukan hal baru di Indonesia. Studi dalam Indonesian Journal of Medical Anthropology dari Universitas Sumatera Utara menemukan bahwa tanaman ini masih banyak digunakan oleh ibu muda, terutama untuk kesehatan reproduksi, pemulihan setelah melahirkan, hingga meningkatkan produksi ASI.

Namun, penggunaan tersebut lebih banyak didorong oleh kepercayaan keluarga dan lingkungan, bukan berdasarkan bukti klinis yang kuat terkait keamanannya. Artinya, praktik ini masih sangat bergantung pada tradisi, bukan standar medis.

Tidak dianjurkan untuk ibu hamil

Di Eropa, peringatan terkait penggunaan tanaman ini sudah cukup tegas. Badan Keamanan Pangan Eropa (EFSA) dalam penilaian tahun 2022 menyatakan bahwa ekstrak Labisia pumila hanya dinilai aman untuk orang dewasa, bukan untuk ibu hamil maupun menyusui.

Regulasi Uni Eropa juga mewajibkan label bahwa suplemen ini hanya untuk usia di atas 18 tahun, tidak boleh dikonsumsi saat hamil dan menyusui, serta memiliki batas dosis maksimal sekitar 350 mg per hari untuk ekstrak terstandar.

Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan rumput Fatimah pada ibu hamil justru masuk dalam kategori berisiko.

Salah satu kekhawatiran utama adalah efeknya terhadap rahim. Laporan kasus dalam International Medical Case Reports Journal menyebutkan adanya pasien yang mengalami komplikasi serius setelah rutin mengonsumsi rebusan rumput Fatimah selama kehamilan.

Dalam kasus tersebut, diduga terjadi kontraksi rahim yang tidak normal dan berlebihan, yang berujung pada kondisi serius seperti robekan rahim (ruptur uteri).

Peneliti menjelaskan bahwa hal ini kemungkinan berkaitan dengan kandungan fitoestrogen dalam tanaman tersebut, yang dapat meningkatkan aktivitas otot rahim.

Meski laporan kasus belum bisa membuktikan hubungan sebab-akibat secara pasti, temuan ini menjadi sinyal peringatan penting, terutama karena sejalan dengan larangan penggunaannya pada ibu hamil.

Risiko lebih besar pada racikan tradisional

Hal lain yang sering luput dari perhatian adalah bentuk dan dosis penggunaan. Penilaian aman dari EFSA hanya berlaku untuk ekstrak yang sudah terstandar, dengan komposisi dan dosis yang jelas.

Sementara itu, yang banyak dikonsumsi di masyarakat justru berupa:

• rebusan daun atau akar,

• racikan tradisional,

• atau produk tanpa standar yang jelas.

Akibatnya, kadar zat aktif dalam ramuan tersebut bisa sangat bervariasi dan sulit dikontrol.

[Gambas:Video CNN]

Labisia pumila memang memiliki potensi manfaat, terutama terkait kesehatan reproduksi. Namun, dari sisi keamanan khususnya untuk ibu hamil, bukti ilmiahnya masih terbatas dan membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Di lapangan, penggunaan rumput Fatimah masih sering terdengar. Ada yang merasa terbantu, tetapi tidak sedikit pula yang mengalami komplikasi.

Hal yang perlu diingat, alami tidak selalu berarti aman, terutama dalam kondisi sensitif seperti kehamilan. Tanpa pengawasan medis, penggunaan bahan herbal tertentu justru bisa membawa risiko yang tidak terduga.

Karena itu, konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap menjadi langkah paling aman sebelum mencoba metode apa pun. Pada akhirnya, bukan hanya soal melahirkan lebih cepat, tetapi memastikan ibu dan bayi tetap sehat dan selamat.

(anm/tis) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]