Studi Temukan Pola Asuh Keras Bisa Pengaruhi Otak Anak
Banyak orang tua mungkin masih merasa bersikap tegas bahkan keras adalah cara paling ampuh agar anak jera dan tidak mengulang kesalahan. Apalagi jika tujuannya baik, ingin anak belajar dan tidak salah langkah lagi.
Namun, penelitian menunjukkan bahwa hal tersebut cukup berdampak pada anak. Pola asuh keras seperti membentak, mengancam, atau merendahkan bukan cuma berpengaruh sesaat, tapi juga bisa berdampak pada kesehatan mental anak, bahkan hingga perkembangan otaknya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Anak bisa terdampak secara emosi dan perilaku
Sebuah studi yang sifatnya observasi dalam Journal of Youth and Adolescence yang melibatkan 1.137 keluarga mengikuti perkembangan anak sejak usia sekitar 7-11 tahun.
Hasilnya menunjukkan, anak yang sering terpapar tindakan kasar psikologis dari orang tua seperti membentak, mempermalukan, atau merendahkan cenderung mengalami lebih banyak masalah, baik secara emosional maupun perilaku.
Masalah ini muncul dalam dua bentuk:
- Internalizing, seperti cemas, murung, dan menarik diri
- Externalizing: seperti marah, melawan, atau perilaku agresif
Artinya, dampak dari kebiasaan ini tak cuma bikin anak jadi sedih, tapi juga bisa dilihat dari cara anak bersikap ke lingkungan sekitar.
Penelitian ini juga menekankan bahwa yang berpengaruh adalah pola yang berulang, bukan sekadar sekali-dua kali orang tua kehilangan emosi.
Paparan yang terus terjadi dari masa kecil hingga menjelang remaja bisa memberi efek yang menumpuk pada perkembangan anak.
2. Anak dan remaja lebih rentan depresi
Dampak ini juga terlihat saat anak beranjak remaja, jurnal dari Scientific Reports yang melibatkan lebih dari 5 ribu remaja menemukan bahwa pola asuh keras berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi.Yang menarik, peneliti juga menemukan bagaimana proses itu terjadi.
Setidaknya, ada dua jalur utama. Di antaranya adalah rumination, di mana remaja cenderung terus memikirkan hal-hal negatif. Lalu ada victimization, di mana remaja lebih rentang mengalami perlakuan buruk dari teman sebaya.
Dalam jangka panjang, pengalaman ini bisa membentuk cara pandang anak terhadap dirinya sendiri. Mereka lebih mudah merasa tidak berharga, cemas, hingga kehilangan harapan.
Dengan kata lain, dampaknya bukan hanya soal takut dimarahi, tapi bisa masuk ke identitas diri
3. Berpengaruh pada perkembangan otak
Dampak pola asuh keras ternyata juga terlihat pada sisi biologis. Penelitian yang sifatnya observasi dalam jurnal Biological Psychiatry: Cognitive Neuroscience and Neuroimaging menganalisis perkembangan otak 246 anak melalui data MRI pada usia 8-13 tahun.
Hasilnya menunjukkan bahwa pola asuh keras dan tidak konsisten berkaitan dengan perubahan pada struktur otak, termasuk penurunan luas permukaan di area tertentu, serta perubahan pola penipisan korteks otak.
Area yang terdampak ini berhubungan dengan fungsi sosial, emosi, dan sensorimotor. Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman pengasuhan tidak hanya memengaruhi perasaan, tapi juga berpotensi memengaruhi bagaimana otak berkembang.
Temuan-temuan ini bukan berarti orang tua tidak boleh tegas. Disiplin tetap penting dalam pengasuhan. Namun, pendekatan yang terlalu keras, terutama jika dilakukan berulang, justru bisa membawa dampak jangka panjang yang tidak diinginkan.
(anm/asr) Add
as a preferred source on Google
