Tampak Sepele, Tapi Gigitan Kucing Bisa Berisiko Serius
Digigit kucing sering dianggap hal sepele. Apalagi kalau lukanya terlihat kecil, hanya seperti titik tusukan atau goresan tipis. Banyak orang cukup membilasnya sebentar, lalu menganggapnya tidak perlu penanganan lebih lanjut.
Padahal, justru di situlah masalahnya. Luka gigitan kucing sering tampak ringan di permukaan, tapi bisa menyimpan risiko di dalam. Gigi kucing yang tajam dapat menembus kulit cukup dalam, membawa bakteri masuk ke jaringan tanpa terlihat jelas dari luar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip Medical News Today, gigitan kucing justru termasuk salah satu jenis luka yang cukup berisiko tinggi infeksi.
Masalahnya, luka seperti ini sulit dibersihkan secara menyeluruh. Akibatnya, bakteri dari mulut kucing bisa terjebak di dalam jaringan kulit.
Saat permukaan luka menutup, bakteri tersebut bisa berkembang dan memicu infeksi.
Mengutip dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sekitar 20 persen hingga 80 persen kasus gigitan atau cakaran kucing dapat berujung infeksi.
Infeksi yang bisa terjadi
Kucing membawa berbagai jenis bakteri dan mikroorganisme. Salah satu yang paling umum adalah Pasteurella multocida. Bakteri ini ditemukan pada 70-90 persen kucing, dalam kasus gigitan, sekitar 75 persen luka mengandung bakteri ini.
Infeksi biasanya muncul dalam waktu 24-48 jam, dengan gejala seperti nyeri,bengkak,kemerahan serta peradangan.
Jika tidak ditangani, infeksi bisa berkembang menjadi:
- selulitis (infeksi kulit lebih dalam),
- abses (nanah),
- menyebar ke aliran darah (sepsis), meski kasusnya jarang.
Gigitan kucing juga bisa menularkan beberapa penyakit lain, seperti berikut ini.
1. Cat scratch disease
Penyakit ini disebabkan bakteri Bartonella henselae. Gejalanya bisa muncul dalam 1-3 minggu, seperti demam dan pembengkakan kelenjar getah bening.
2. Rabies
Meski jarang pada kucing peliharaan yang divaksin, risiko tetap ada, terutama dari kucing liar.
3. Tetanus
Gigitan hewan juga berisiko membawa bakteri penyebab tetanus, terutama jika luka tidak ditangani dengan baik.
4. Infeksi jamur (sporotrichosis)
Dalam kasus tertentu, gigitan atau cakaran kucing bisa menularkan infeksi jamur yang menyebabkan luka pada kulit.
Selain infeksi, gigitan kucing juga bisa menimbulkan komplikasi lain, tergantung lokasi dan kedalaman luka, mulai dari kerusakan saraf,cedera tendon (terutama di tangan), fragmen gigi kucing yang tertinggal di luka hingga bekas luka permanen.
Jika tergigit kucing, langkah awal yang disarankan adalah sebagai berikut:
- Cuci luka dengan air mengalir dan sabun selama minimal 5 menit.
- Jangan langsung menutup luka.
- Segera cari pertolongan medis
Lihat Juga : |
Kapan harus ke dokter?
Banyak orang menunda memeriksakan diri karena luka terlihat kecil. Padahal, ahli menyarankan untuk tidak menunggu gejala memburuk.
Segera periksa ke dokter jika:
- luka dalam atau sulit dibersihkan,
- muncul kemerahan, bengkak, atau nyeri,
- demam atau merasa tidak enak badan,
- tidak tahu status vaksin rabies kucing,
- sudah lebih dari 5 tahun sejak vaksin tetanus terakhir.
Gigitan kucing memang tidak selalu berujung serius. Dengan penanganan cepat, sebagian besar kasus bisa diatasi dengan antibiotik. Namun, risikonya tetap ada, terutama karena jenis lukanya yang dalam dan bakteri yang mudah masuk ke jaringan.
Karena itu, gigitan kucing sebaiknya tidak dianggap remeh. Luka kecil pun tetap perlu diperhatikan, agar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
(anm/asr) Add
as a preferred source on Google

