Menilik Cara Kerja Sunscreen: Apa yang Dilakukannya untuk Kulit?
Belakangan ini, siang hari terasa makin terik, panas matahari kadang seperti menyengat sampai ke kulit bahkan terasa perih dan tidak nyaman. Banyak orang mengandalkan sunscreen sebelum beraktivitas di luar ruangan.
Tabir surya atau sunscreen memang sering dipakai sehari-hari. Teksturnya ringan, mudah diaplikasikan, bahkan jadi bagian dari rutinitas rangkaian perawatan kulit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ternyata, sunscreen punya cara kerja yang cukup kompleks dan penting untuk dipahami, terutama kalau ingin perlindungannya benar-benar maksimal.
Sinar matahari membawa radiasi ultraviolet (UV), terutama UVA dan UVB. Mengutip dari BBC, keduanya punya efek berbeda pada kulit:
- UVB lebih banyak menyebabkan kulit terbakar dan merusak DNA.
- UVA bisa menembus lebih dalam ke kulit dan berkaitan dengan penuaan dini seperti keriput.
Paparan berlebihan dari keduanya juga meningkatkan risiko kanker kulit.
Cara kerja sunscreen di kulit
Dilansir Scientific American, sunscreen bekerja seperti perisai tipis di permukaan kulit yang mencegah sinar UV masuk lebih dalam. Umumnya, ada dua mekanisme utama:
1. Menyerap sinar UV
Kandungan kimia dalam sunscreen akan menyerap energi dari sinar UV, lalu mengubahnya menjadi panas yang tidak berbahaya.
2. Memantulkan dan menyebarkan sinar UV
Beberapa sunscreen, biasanya yang mengandung mineral seperti zinc oxide atau titanium dioxide, bekerja dengan memantulkan dan menyebarkan sinar UV agar tidak menembus kulit.
Kombinasi dua cara ini membantu mengurangi kerusakan sel kulit, termasuk pembentukan radikal bebas dan kerusakan DNA.
Apa arti SPF di sunscreen?
Angka SPF (sun protection factor) sering jadi pertimbangan utama saat memilih sunscreen. SPF menunjukkan seberapa lama kulit terlindungi dari paparan sinar UVB, jenis sinar yang paling berperan menyebabkan kulit terbakar.
Misalnya, penggunaan sunscreen dengan SPF 30 berarti kulit bisa terlindungi hingga sekitar 30 kali lebih lama dibandingkan jika tidak memakai sunscreen sama sekali.
Meski begitu, perlindungannya tidak sepenuhnya menutup sinar UV. SPF 30 masih memungkinkan sekitar 3 persen sinar UVB menembus kulit, sedangkan SPF 50 sekitar 2 persen.
Hal ini menunjukkan, tidak ada sunscreen yang benar-benar memblokir 100 persen sinar UV. Banyak orang merasa sudah pakai sunscreen, tetapi kulit tetap terasa panas atau bahkan menggelap. Ada beberapa alasannya:
- Pemakaian kurang banyak (umumnya orang pakai terlalu sedikit)
- Tidak diulang
- Tidak merata, ada bagian kulit yang terlewat
- Terlalu lama terpapar matahari
Selain itu, sunscreen memang bukan tameng absolut, perlindungan terbaik tetap kombinasi dari sunscreen, pakaian, topi, dan menghindari paparan sinar matahari langsung ke kulit.
Paparan sinar UV memang tidak selalu langsung terasa. Dalam jangka pendek mungkin hanya kulit kemerahan, tetapi dalam jangka panjang bisa menyebabkan penuaan dini seperti keriput, flek, kerusakan sel kulit, hingga peningkatan risiko kanker kulit
Oleh karena itu, sunscreen bukan hanya soal estetika, tetapi juga perlindungan kesehatan kulit. Di tengah cuaca yang makin panas, kebiasaan sederhana seperti pakai sunscreen bisa jadi langkah kecil dengan dampak besar untuk kesehatan kulit.
(anm/rti) Add
as a preferred source on Google
