Telinga Harus Sering Dibersihkan atau Enggak? Ini Faktanya

CNN Indonesia
Selasa, 24 Mar 2026 10:40 WIB
Menjaga kebersihan telinga jadi bagian perawatan diri. Tapi, cara membersihkan telinga yang keliru justru bisa memicu masalah kesehatan.
Ilustrasi. Cara membersihkan telinga yang keliru bisa memicu masalah kesehatan. (iStockphoto/ronstik)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menjaga kebersihan telinga sering dianggap sebagai bagian dari rutinitas perawatan diri. Tapi, cara membersihkan telinga yang keliru justru bisa memicu masalah kesehatan.

Alih-alih membersihkan terlalu sering atau menggunakan alat sembarangan, penting untuk memahami cara merawat telinga yang benar agar tidak memicu gangguan pada saluran telinga. Lalu sebenarnya bagaimana cara yang tepat?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebuah studi yang dimuat di National Library of Medicine menunjukkan, praktik membersihkan telinga sendiri cukup umum dilakukan. Hampir seluruh responden membersihkan telinga sendiri, dengan cotton bud sebagai alat yang paling sering digunakan. Sebagian dari mereka justru mengaku pernah mengalami cedera saat membersihkan telinga.

Secara alami, liang telinga memang memiliki sistem pembersihan sendiri. Kulit di saluran telinga akan luruh dan bergerak keluar secara perlahan, membawa serta serumen atau kotoran telinga.

Proses tersebut membuat telinga dapat membersihkan dirinya tanpa perlu dikorek hingga ke bagian dalam.

Karena itu, membersihkan telinga terlalu dalam menggunakan cotton bud atau benda lain justru dapat mendorong kotoran semakin masuk ke dalam saluran telinga.

Masalah biasanya muncul bukan karena telinga jarang dibersihkan, melainkan ketika kotoran telinga menumpuk dan tidak bisa keluar secara alami. Kondisi ini dikenal sebagai cerumen impaction atau sumbatan kotoran telinga.

Penumpukan serumen dapat menimbulkan sejumlah keluhan, seperti:
- nyeri telinga,
- rasa gatal,
- telinga terasa penuh atau tersumbat,
- penurunan pendengaran.

Penumpukan kotoran juga dapat membuat dokter kesulitan memeriksa bagian dalam telinga dengan jelas.Jika dibiarkan, kondisi ini bisa menyebabkan ketidaknyamanan. Dalam beberapa kasus, kondisi ini bisa memicu infeksi telinga luar (otitis externa).

Bolehkah menggunakan cairan pembersih telinga?

Mengutip American Medical Association (AMA), cairan seperti peroxide pada dasarnya dapat digunakan dalam kondisi tertentu untuk membantu melonggarkan kotoran telinga. Beberapa produk tetes telinga yang dijual bebas juga bekerja dengan cara serupa.

Namun, penggunaan cairan tersebut tidak selalu cocok untuk semua kondisi. Jika telinga sedang kering, gatal, pernah menjalani operasi telinga, atau terdapat lubang pada gendang telinga, penggunaannya justru dapat memperburuk keadaan.

Karena itu, pemakaiannya sebaiknya tidak dilakukan sembarangan.

Cara menjaga kesehatan telinga

Selain soal kebersihan, kesehatan telinga juga dipengaruhi kebiasaan sehari-hari. AMA mengingatkan pentingnya melindungi telinga dari paparan suara bising yang berlebihan karena dapat menyebabkan gangguan pendengaran.

Beberapa cara sederhana untuk menjaga kesehatan telinga antara lain:
- tidak mengorek telinga terlalu dalam,
- membersihkan bagian luar telinga saja,
- menghindari paparan suara terlalu keras,
- menggunakan pelindung telinga jika diperlukan,
- memeriksakan telinga jika muncul keluhan.

Jarang membersihkan telinga tidak selalu berdampak buruk bagi kesehatan. Dalam banyak kasus, telinga justru bekerja optimal ketika dibiarkan menjalankan mekanisme pembersihan alaminya. Yang perlu diwaspadai adalah jika muncul tanda penumpukan kotoran atau gangguan pada telinga.

(anm/asr) Add as a preferred
source on Google