Ramai Tren Gamis 'Bini Orang', Pakar Ingatkan Makna Negatifnya
Tren busana Lebaran setiap tahun selalu menghadirkan kejutan. Menjelang Lebaran 2026, publik di media sosial ramai membicarakan nama-nama gamis yang terdengar unik sekaligus jenaka, seperti 'Gamis Bini Orang', 'Gamis Kebanggaan Mertua', hingga 'Gamis Istri Sultan'.
Nama-nama tersebut cepat viral dan menjadi incaran pembeli di berbagai pusat perbelanjaan busana muslim seperti Pasar Tanah Abang dan Thamrin City. Namun di balik kesan humorisnya, sejumlah pihak menilai penamaan tersebut menyimpan makna yang patut dipertanyakan.
Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Asri Saraswati, menilai tren penamaan ini bisa mengandung pesan yang problematis terhadap perempuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang perlu dikhawatirkan rasanya adalah penamaan sejumlah istilah yang misoginis," ujar Asri mengutip Wolipop.
Menurutnya, istilah seperti 'bini orang' atau 'kebanggaan mertua' berpotensi memunculkan gambaran bahwa perempuan harus bersaing satu sama lain untuk menarik perhatian orang lain.
Ia juga menilai penggunaan nama-nama tersebut bisa disalahartikan, seolah-olah perempuan berpakaian untuk mengesankan pihak lain, bukan sebagai bentuk ekspresi diri.
"Penggunaan nama-nama ini juga berpotensi disalahartikan, hingga seakan mendorong perempuan untuk berpakaian demi mengesankan orang lain dan bukan untuk kebahagiaan dan ekspresinya sendiri," jelas akademisi yang banyak meneliti hubungan antara fashion dan identitas dalam konteks global tersebut.
Sekadar strategi pemasaran
Dari sisi desain, sebenarnya gamis yang disebut-sebut sebagai tren Lebaran 2026 ini tidak jauh berbeda dengan koleksi modest wear yang sudah beredar sebelumnya. Perbedaan utamanya justru terletak pada cara penamaan yang terasa lebih provokatif dan mudah diingat.
Desainer busana muslim Denny Wirawan menilai fenomena ini tidak lepas dari strategi pemasaran di era media sosial.
"It's a trick. Mungkin di era media sosial, orang lebih mudah terpanggil dengan gimik. Nama baju tersebut juga semakin mudah tersebar lewat media sosial sampai akhirnya viral," ujarnya.
Nama yang unik dan mudah diingat dinilai membuat produk lebih cepat menarik perhatian, terutama ketika penjualan dilakukan melalui platform digital seperti live shopping.
Asri juga mengakui bahwa penamaan tersebut dapat dilihat dari sudut pandang lain, yakni sebagai bentuk kreativitas bahasa di dunia pemasaran.
Menurutnya, penggunaan kata-kata yang catchy memudahkan penjual menggambarkan karakter pakaian secara cepat kepada calon pembeli, terutama di platform seperti TikTok atau Shopee Live yang mengandalkan komunikasi singkat dan cepat.
"Dengan beberapa kata yang catchy, sejumlah makna tersampaikan sekaligus. Saat penjualan baju banyak dilakukan lewat platform seperti TikTok dan Shopee Live, penamaan ini jadi bermanfaat karena penjual bisa menggambarkan pakaian secara singkat dan cepat yang bisa langsung dipahami calon konsumen," katanya.
Pakaian sebagai simbol harapan
Melihat antusiasme pembeli terhadap tren ini, Asri menilai fenomena tersebut menunjukkan bahwa pakaian sering kali memiliki makna lebih dari sekadar penutup tubuh.
Dalam banyak kasus, busana juga menjadi medium untuk mengekspresikan harapan atau emosi tertentu. Misalnya, keinginan untuk diterima oleh keluarga pasangan, tampil lebih mapan, atau sekadar terlihat menarik di hadapan orang lain.
"Misal keinginan seseorang untuk diterima oleh keluarga mertua, atau keinginan mencapai kemapanan selayaknya 'sultan' seakan bisa dicapai melalui baju. Pakaian dengan demikian menjadi semacam medium untuk menautkan harapan," ujar pengajar Program Studi Inggris tersebut.
Nama-nama gamis yang terdengar humoris itu juga bisa dilihat sebagai cerminan kreativitas sekaligus selera humor masyarakat. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, humor ringan dalam dunia fashion tampaknya menjadi cara lain bagi publik untuk tetap menikmati tren.
(tis/tis)[Gambas:Video CNN]

