Laporan Temukan Banyak Orang Keluhkan Kesehatan Mental saat Ramadan

CNN Indonesia
Kamis, 12 Mar 2026 06:27 WIB
Keluhan kesehatan mental ditemukan kerap meningkat selama bulan Ramadan. Apa sebabnya?
Ilustrasi. Keluhan kesehatan mental dilaporkan meningkat selama Ramadan tahun ini. (Istockphoto/valentinrussanov)
Jakarta, CNN Indonesia --

Keluhan kesehatan mental dilaporkan kerap meningkat selama Ramadan. Apa sebabnya?

Temuan tersebut disampaikan oleh Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria, berdasarkan analisis data kesehatan pengguna Halodoc yang dirangkum dalam laporan Indonesia Health Insights Q1 2026. Analisis ini menggunakan data pasien yang berkonsultasi via Halodoc pada periode Ramadan 2025.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Fibriyani, jenis keluhan kesehatan masyarakat selama Ramadan cenderung berubah dari minggu ke minggu.

Pada awal Ramadan, masyarakat lebih banyak berkonsultasi terkait masalah fisik seperti gangguan lambung dan pencernaan. Namun, memasuki pertengahan bulan puasa, keluhan mulai bergeser ke kesehatan mental.

"Kalau kita lihat data, sebetulnya keluhan yang semakin meningkat seiring minggu ke minggu itu adalah terkait dengan kesehatan mental," kata Fibriyani dalam acara Halodoc Talks, Selasa (10/3).

Ia menjelaskan bahwa peningkatan tersebut sebenarnya sudah mulai terlihat sejak minggu pertama puasa. Namun, intensitasnya terus meningkat hingga mencapai puncak pada minggu ketiga Ramadan.

"Dari minggu pertama puasa itu sudah mulai meningkat dibandingkan minggu-minggu sebelum puasa. Tapi memang puncaknya terjadinya justru di minggu ketiga," ujarnya.

Bentuk keluhan yang paling sering muncul adalah gangguan tidur. Perubahan pola aktivitas selama Ramadan, termasuk waktu sahur dan berkurangnya waktu istirahat malam, diduga menjadi salah satu pemicunya.

Selain insomnia atau kesulitan tidur, sejumlah masyarakat juga melaporkan gejala fisik yang berkaitan dengan kecemasan, seperti jantung berdebar dan sesak dada.

"Keluhannya bisa dalam bentuk gangguan tidur, paling banyak itu gangguan tidur. Lalu juga diikuti dengan misalnya mulai kayak sesak napas atau jantung berdebar," kata Fibriyani.

Data menunjukkan bahwa keluhan kecemasan tersebut meningkat hingga 27 persen dibandingkan rata-rata periode sebelum Ramadhan.

Tekanan sosial Idulfitri bisa jadi pemicu

Ilustrasi paranoidIlustrasi. Peningkatan kecemasan saat Ramadan juga bisa dipengaruhi oleh tekanan sosial jelang Idulfitri. (iStock/Koldunov)

Fibriyani mengatakan, peningkatan kecemasan selama Ramadhan tidak hanya dipicu oleh perubahan pola hidup, tetapi juga berbagai tekanan sosial dan emosional yang muncul menjelang Idulfitri.

Salah satu faktor yang sering muncul adalah tekanan ekonomi serta ekspektasi sosial selama Ramadan dan Lebaran.

Selain itu, rasa kesepian juga menjadi pemicu bagi sebagian orang, terutama bagi mereka yang merantau dan tidak dapat pulang untuk berkumpul bersama keluarga.

"Kadang-kadang yang juga berat, kesepian di saat sedang merantau. Mungkin enggak bisa pulang, ada hal-hal yang menghalangi," ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat memicu peningkatan kecemasan karena momen Ramadan dan Lebaran biasanya identik dengan kebersamaan keluarga.

Kondisi psikologis yang tidak stabil juga dapat berdampak pada kesehatan fisik. Tekanan stres diketahui dapat memengaruhi daya tahan tubuh sehingga membuat seseorang lebih rentan mengalami gangguan kesehatan.

"Karena ada masalah kecemasan, ternyata itu juga berdampak kepada kondisi fisik," katanya.

Berdampak pada masalah pencernaan

Dokter spesialis penyakit dalam, Waluyo Dwi Cahyono menjelaskan bahwa stres dan kecemasan memang memiliki hubungan erat dengan sistem pencernaan.

Menurutnya, ketika seseorang mengalami stres, tubuh akan meningkatkan produksi hormon kortisol yang dapat memicu peningkatan asam lambung.

"Kalau orang lagi stres, hormon kortisolnya naik, terus memicu produksi asam lambungnya meningkat," kata Waluyo.

Produksi asam lambung yang berlebihan dapat mengiritasi lambung dan memicu berbagai gangguan pencernaan.

Oleh karena itu, tidak jarang seseorang mengalami keluhan seperti nyeri lambung atau gangguan pencernaan ketika berada dalam kondisi stres.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain menjaga pola tidur yang cukup, mengelola stres, serta tetap menjaga komunikasi dengan keluarga atau orang terdekat.

Dengan menjaga keseimbangan antara aktivitas ibadah, pekerjaan, dan waktu istirahat, masyarakat diharapkan dapat menjalani Ramadhan dengan kondisi fisik dan mental yang lebih sehat.

(nga/asr)