Bahaya Ikan Asin Berformalin, Ini Ciri dan Dampaknya bagi Kesehatan
Bahaya ikan asin berformalin kembali menjadi perhatian setelah pemerintah menemukan sejumlah produk ikan asin yang masih mengandung bahan pengawet berbahaya tersebut di pasar.
Padahal, formalin merupakan bahan kimia yang dilarang digunakan dalam makanan karena dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari keracunan hingga risiko kanker.
Masyarakat pun diimbau untuk lebih waspada saat memilih produk pangan, khususnya makanan laut yang dijual di pasar tradisional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menjelang Hari Raya Idul Fitri, konsumsi ikan asin biasanya meningkat. Karena itu, pemerintah meminta masyarakat lebih teliti sebelum membeli.
Ikan asin yang diawetkan dengan formalin memiliki karakteristik berbeda dibandingkan ikan asin yang diproses secara alami melalui penggaraman dan pengeringan.
Berikut beberapa ciri yang perlu diperhatikan:
1. Tekstur terlalu keras
Ikan asin berformalin biasanya terasa sangat kaku dan keras. Bahkan saat ditekan atau direndam air, teksturnya tidak mudah hancur.
2. Aroma tidak amis
Ikan asin normal memiliki bau laut yang khas dan cukup tajam. Sebaliknya, ikan asin berformalin biasanya hampir tidak berbau.
3. Warna lebih cerah
Penampilannya terlihat lebih bersih dan cerah secara tidak wajar dibandingkan ikan asin alami.
4. Kenyal saat dimasak
Ikan asin alami cenderung rapuh saat dikunyah. Namun ikan yang mengandung formalin justru terasa kenyal dan tidak mudah hancur.
Di tengah temuan tersebut, masyarakat perlu memahami bahwa bahaya ikan asin berformalin tidak hanya terjadi jika dikonsumsi dalam jumlah besar. Paparan kecil tetapi berulang juga dapat menimbulkan efek buruk bagi tubuh.
Dampak kesehatan ikan asin berformalin
Formalin merupakan bahan kimia yang biasa digunakan sebagai pengawet mayat atau bahan industri. Jika masuk ke dalam tubuh melalui makanan, zat ini dapat bersifat toksik dan merusak sel tubuh.
Dalam jangka pendek, konsumsi ikan yang mengandung formalin dapat memicu berbagai keluhan seperti mual, muntah, sakit perut, diare, hingga pusing. Beberapa orang juga dapat mengalami reaksi alergi.
Sementara dalam jangka panjang, dampaknya bisa jauh lebih serius. Paparan formalin secara terus-menerus berisiko menyebabkan kerusakan organ seperti hati, ginjal, dan jantung, serta gangguan pada sistem saraf.
Tidak hanya itu, formalin juga bersifat karsinogenik atau dapat memicu kanker, terutama kanker nasofaring. Zat ini bersifat korosif dan iritatif sehingga mampu merusak jaringan tubuh dan bahkan memicu perubahan genetik.
Cara aman membeli ikan asin
Agar terhindar dari risiko tersebut, konsumen disarankan membeli ikan asin dari pedagang yang terpercaya dan memperhatikan kondisi produk secara saksama.
Beberapa tanda lain yang patut dicurigai adalah ikan yang tidak dihinggapi lalat, terasa sangat kaku, serta tidak memiliki bau amis khas ikan asin.
Pengawasan dari pemerintah memang terus dilakukan, namun kewaspadaan konsumen tetap menjadi kunci penting dalam mencegah peredaran pangan berbahaya. Dengan mengenali ciri-cirinya, masyarakat dapat lebih terlindungi dari bahaya ikan asin berformalin yang mengancam kesehatan dalam jangka pendek maupun panjang.
(tis/tis)[Gambas:Video CNN]

