PCOS dan Kista Ovarium, Apa Bedanya?

CNN Indonesia
Senin, 02 Mar 2026 14:30 WIB
PCOS dan kista ovarium menghadirkan gejala yang hampir serupa. Lantas, apa beda antara keduanya?
Ilustrasi. PCOS dan kista ovarium menghadirkan gejala yang hampir serupa. (iStockphoto/Menshalena)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Siklus haid tidak teratur, nyeri panggul, atau sulit hamil sering membuat perempuan bertanya-tanya, apakah ini tanda kista ovarium atau justru PCOS?

Sekilas, keduanya memang terdengar mirip karena sama-sama berkaitan dengan ovarium. Namun, apa sebenarnya perbedaan PCOS dan kista ovarium?

Meski sering tertukar, kista ovarium dan polycystic ovary syndrome (PCOS) adalah dua kondisi yang berbeda, baik dari penyebab, gejala, hingga dampaknya terhadap kesuburan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa itu kista ovarium?

Dikutip dari laman London Women's Centre, kista ovarium adalah kantung berisi cairan yang tumbuh di dalam atau di permukaan ovarium.

Kista sangat umum terjadi pada perempuan usia reproduktif. Sebagian besar kista terbentuk secara alami sebagai bagian dari siklus menstruasi.

Dalam banyak kasus, kista tidak menimbulkan gejala dan dapat menghilang sendiri dalam beberapa minggu atau bulan tanpa pengobatan. Karena itu, tak sedikit perempuan yang baru mengetahui adanya kista saat pemeriksaan USG rutin.

Namun, jika ukurannya membesar atau tidak kunjung hilang, kista bisa menimbulkan keluhan seperti nyeri panggul, perut terasa penuh atau kembung, nyeri saat menstruasi, hingga rasa tidak nyaman saat berhubungan seksual.

Menurut Thomson Medical, kista ovarium umumnya tidak memengaruhi kesuburan. Hanya pada kondisi tertentu, misalnya, kista berukuran besar atau mengganggu fungsi ovarium, barulah peluang hamil bisa terdampak.

Apa itu PCOS?

Berbeda dengan kista ovarium, PCOS merupakan kondisi hormonal dan metabolik yang bersifat kronis. London Women's Centre bahkan menyebut PCOS memengaruhi sekitar satu dari 10 perempuan.

Pada PCOS, ovarium memiliki banyak folikel kecil akibat gangguan proses ovulasi. Penting dipahami, perempuan dengan PCOS biasanya tidak memiliki kista dalam arti sebenarnya, melainkan kumpulan folikel yang gagal berkembang dan melepaskan sel telur.

PCOS terjadi karena ketidakseimbangan hormon, terutama peningkatan hormon androgen (hormon pria). Kondisi ini dapat menyebabkan haid tidak teratur atau tidak haid sama sekali, jerawat, pertumbuhan rambut berlebih di wajah atau tubuh, kenaikan berat badan, hingga penipisan rambut di kepala.

Untuk mendiagnosis PCOS, seseorang biasanya harus memenuhi setidaknya dua dari tiga kriteria berikut: siklus haid tidak teratur, kadar hormon androgen tinggi, serta gambaran ovarium polikistik pada USG.

Perbedaan PCOS dan kista ovarium

Perbedaan antara PCOS dan kista ovaroum bisa dilihat dari beberapa faktor. Berikut di antaranya.

1. Faktor hormonal

Perbedaan paling mendasar antara kista ovarium dan PCOS terletak pada faktor hormonalnya. Pada kista ovarium, kadar hormon umumnya normal, meski bisa terjadi perubahan sementara. Sementara pada PCOS, tes darah sering menunjukkan ketidakseimbangan hormon, termasuk peningkatan androgen dan resistensi insulin.

2. Penyebab

Dari sisi penyebab, kista ovarium biasanya muncul sebagai bagian dari siklus haid normal atau dipicu kondisi tertentu seperti endometriosis dan infeksi panggul.

Sebaliknya, PCOS berkaitan dengan faktor genetik, resistensi insulin, serta gangguan hormon jangka panjang.

3. Efek terhadap kesuburan

Dampaknya terhadap kesuburan juga berbeda. Kista ovarium jarang menyebabkan gangguan kesuburan permanen. Sementara pada PCOS, ovulasi yang tidak teratur dapat menyulitkan proses kehamilan, meski tetap bisa ditangani dengan terapi yang tepat.

Karena gejalanya bisa tumpang tindih, penting untuk tidak langsung menyimpulkan diagnosis sendiri. Pemeriksaan medis seperti USG dan tes hormon diperlukan untuk memastikan apakah keluhan yang dialami merupakan kista ovarium atau PCOS.

Jika mengalami haid tidak teratur, nyeri panggul berkepanjangan, atau kesulitan hamil, konsultasi dengan dokter kandungan menjadi langkah terbaik untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang sesuai.

(anm/asr)