Karpet Merah buat Turis RI dan Eropa, Korsel Mau Saingi Jepang
Pemerintah Korea Selatan (Korsel) melakukan perombakan besar-besaran pada strategi pariwisata mereka demi mengejar ketertinggalan dari Jepang.
Salah satu langkah berani yang diambil adalah memberikan fasilitas bebas visa bagi wisatawan asal Indonesia. Kebijakan ini merupakan bagian dari target ambisius Seoul untuk mendatangkan 30 juta wisatawan mancanegara (wisman) pada 2030.
Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, memimpin langsung rapat Strategi Pariwisata Nasional pada 25 Februari lalu, kehadiran pertama seorang presiden dalam rapat tersebut sejak 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jae Myung menegaskan pentingnya pemerataan ekonomi pariwisata agar tidak hanya menumpuk di ibu kota.
"Jika kita puas dengan kenyataan bahwa 80 persen turis asing hanya berkonsentrasi di Seoul, pertumbuhan industri pariwisata kita akan mentok," ujar Lee seperti dikutip dari Korea Herald.
Ambisi Seoul ini dipicu oleh data persaingan yang kontras. Pada 2025, Korea Selatan mencatat rekor 18,9 juta kunjungan wisman, melampaui puncak pra-pandemi sebesar 17,5 juta.
Namun, angka itu belum ada apa-apanya dibanding Jepang. Disokong oleh nilai tukar Yen yang menyentuh rekor terlemah, Jepang berhasil menarik 42,7 juta wisatawan di periode yang sama, lebih dari dua kali lipat total kunjungan ke Korea Selatan.
Menteri Kebudayaan Chae Hwi-young menyebut momen ini sebagai "waktu emas" untuk menjadikan Korea sebagai raksasa pariwisata dunia melalui inisiatif "K-Tourism Embraces the World."
Strategi utama dalam paket kebijakan ini adalah meruntuhkan hambatan masuk. Sebagai salah satu pasar terbesar di Asia Tenggara, turis Indonesia akan diberikan fasilitas bebas visa uji coba untuk turis grup (minimal tiga orang).
Kemudian Visa Multi-Entry, di mana warga China dan Asia Tenggara yang pernah berkunjung ke Korea kini berhak atas visa kunjungan berkali-kali selama 5 tahun. Penduduk kota besar bahkan bisa mengajukan visa hingga 10 tahun.
Lalu, pintu imigrasi otomatis (auto-gate) yang saat ini tersedia di Korsel untuk 18 negara (termasuk Singapura dan Australia) akan diperluas bagi seluruh warga negara Uni Eropa.
Untuk menarik turis keluar dari Seoul, pemerintah akan menambah jadwal penerbangan internasional langsung ke bandara-bandara regional dan memberikan insentif pengurangan biaya bandara.
Akses transportasi juga dipermudah dengan penambahan bus bandara larut malam ke Provinsi Chungcheong dan Gangwon, serta memperpanjang jendela pemesanan tiket kereta cepat KTX.
Selain itu, Korea akan mengadopsi model "parador" Spanyol dengan menyulap rumah tradisional, kuil, dan desa adat menjadi penginapan premium untuk mengatasi kurangnya akomodasi berkualitas di daerah.
Presiden Lee juga mengeluarkan peringatan keras terhadap praktik penentuan harga yang tidak wajar (price gouging) dan perilaku tidak ramah kepada turis.
"Praktik 'getok' harga dan paksaan belanja adalah penyalahgunaan jahat yang merusak ekonomi lokal. Ini harus diberantas sampai ke akarnya," tegas Lee.
Bisnis yang terbukti tidak mencantumkan harga atau melanggar daftar harga yang ada akan langsung dikenakan sanksi pembekuan operasional.
Selain itu, perusahaan sewa mobil di Pulau Jeju akan dibatasi kenaikan harganya saat musim puncak, dan hotel yang membatalkan pesanan sepihak akan dijatuhi penalti berat.
(wiw)[Gambas:Video CNN]