Benarkah Garam Kalium Klorida Aman untuk Hipertensi? Ini Penjelasannya

CNN Indonesia
Selasa, 03 Mar 2026 10:45 WIB
Garam bisa meningkatkan tekanan darah, tetapi ada garam kalium klorida yang jadi alternatif lebih aman. Ini penjelasannya.
Ilustrasi. Garam bisa meningkatkan tekanan darah, tetapi ada garam kalium klorida yang jadi alternatif lebih aman. (iStockphoto/Detry26)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mengontrol asupan garam merupakan salah satu aturan penting dalam menjaga kesehatan jantung, terutama bagi penderita hipertensi atau tekanan darah tinggi. Ada alternatif lain, yakni garam kalium klorida (KCl), tetapi benarkah aman untuk hipertensi?

Mengutip Harvard Health Publishing, tingginya natrium yang merupakan komponen utama dalam garam biasa, menjadi penyebab hipertensi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sekitar sepertiga orang sehat dan 60 persen penderita hipertensi memiliki sensitivitas terhadap garam. Artinya, tekanan darah mereka naik signifikan saat mengonsumsi garam berlebih.

Tubuh merespons kelebihan natrium dengan menahan air untuk mengencerkan natrium tersebut. Hal ini membuat volume darah bertambah dan tekanan di pembuluh darah meningkat. Lalu, apakah garam kalium klorida bisa jadi pengganti yang efektif?

Apa itu garam kalium klorida dan manfaatnya untuk tekanan darah?

Garam kalium klorida, atau yang sering disebut garam kalium, merupakan alternatif pengganti garam meja biasa yang mengandung natrium klorida.

Dalam garam kalium, sebagian atau seluruh natriumnya digantikan oleh kalium. Hal ini membuat rasa dan tekstur garam kalium hampir mirip dengan garam biasa, tetapi dengan manfaat tambahan bagi kesehatan jantung.

Mengganti garam natrium dengan garam kalium dapat menurunkan tekanan darah hingga sekitar 5.6/2.9 mm Hg. Angka ini cukup penting untuk menjaga tekanan darah tetap normal, yakni kurang dari 120/80 mm Hg.

"Kalium dan natrium saling menyeimbangkan untuk keseimbangan cairan, karena natrium adalah ion ekstraseluler utama dan kalium adalah ion intraseluler utama," ujar ahli nutrisi Amy Brownstein, seperti dikutip dari Eating Well.

Brownstein menjelaskan bagaimana perubahan kecil mineral bisa memengaruhi tekanan darah. Natrium menarik cairan ke dalam pembuluh darah sehingga meningkatkan tekanan. Di sisi lain, kalium melebarkan pembuluh darah dan meningkatkan pengeluaran natrium melalui urine, yang membuat tekanan darah turun.

Garam kalium sendiri mudah ditemukan di toko dan dijual secara online pula. Penggunaan garam ini bisa dilakukan sebagai pengganti sebagian garam biasa saat memasak, misalnya menaburkan di atas makanan atau membumbui daging dan sayuran.

Namun, garam kalium sebaiknya digunakan secara terbatas dan lebih baik dijadikan pengganti sebagian, bukan sepenuhnya menggantikan garam biasa, agar rasa tetap enak dan tidak pahit.

Siapa yang tak cocok mengonsumsi garam kalium klorida?

Meskipun garam kalium bermanfaat menurunkan risiko hipertensi dan stroke, tidak semua orang aman mengonsumsinya.

Penderita penyakit ginjal, gangguan fungsi ginjal, atau yang sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu seperti ACE inhibitor, ARB (Angiotensin II Receptor Blocker), dan diuretik penghemat kalium, sebaiknya tidak menggunakan garam kalium tanpa konsultasi dokter.

Kadar kalium yang tinggi dalam darah bisa berbahaya bagi kelompok orang ini dan menyebabkan komplikasi serius. Untungnya, garam bukanlah satu-satunya cara untuk menambah rasa pada makanan.

"Alternatif garam terbaik mungkin adalah tanpa garam sama sekali, tetapi menggunakan rempah-rempah, bumbu, cuka, dan jus lemon serta jeruk nipis untuk memberi rasa pada makanan," kata Brownstein. 

(rti)