7 Cara Menghilangkan Lendir di Tenggorokan dan Paru
Lendir di tenggorokan dan paru-paru kerap muncul saat pilek, flu, atau infeksi saluran pernapasan. Meski berfungsi sebagai bagian dari sistem pertahanan tubuh, produksi lendir yang berlebihan bisa memicu batuk terus-menerus, rasa sesak, hingga nyeri dada.
Dalam kondisi tertentu, lendir yang menumpuk juga berisiko meningkatkan infeksi lanjutan, termasuk pneumonia.
Melansir Cleveland Clinic, lendir bertindak seperti perisai untuk mencegah masuknya kuman berbahaya (patogen), sekaligus memungkinkan oksigen dan nutrisi tetap masuk ke dalam tubuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, ketika konsistensinya terlalu kental dan sulit dikeluarkan, lendir justru dapat menyumbat saluran napas dan memperparah peradangan.
Sementara itu, menurut Verywell Health, pada penderita penyakit paru kronis seperti bronkitis kronis atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), pengelolaan lendir menjadi bagian penting dari terapi jangka panjang.
Berikut sejumlah cara menghilangkan lendir di tenggorokan dan paru-paru yang bisa dicoba, mulai dari metode alami hingga bantuan obat:
1. Perbanyak minum cairan hangat
Cairan hangat dapat membantu mengencerkan lendir yang kental sehingga lebih mudah dikeluarkan melalui batuk. Teh hangat, kaldu, atau air hangat dengan perasan lemon bisa menjadi pilihan.
Teh hijau juga mengandung antioksidan yang berpotensi membantu mengurangi peradangan di saluran napas. Namun, efektivitasnya masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
2. Menghirup udara lembap
Mengutip Health, udara lembap dapat membantu melonggarkan lendir di paru-paru. Anda bisa menggunakan humidifier atau menghirup uap air hangat.
Cara sederhana lainnya adalah mandi air hangat atau duduk di kamar mandi dengan pancuran menyala agar uapnya terhirup. Uap membantu membuka saluran napas dan memudahkan lendir keluar saat batuk.
3. Konsumsi bahan herbal
Beberapa bahan herbal seperti jahe, kunyit, dan bawang putih diketahui memiliki sifat antiinflamasi.
Jahe dapat membantu meredakan iritasi tenggorokan. Kurkumin dalam kunyit berpotensi menekan peradangan, sedangkan senyawa aktif dalam bawang putih pada studi laboratorium hewan menunjukkan kemampuan mengurangi produksi lendir.
Meski demikian, bukti klinis pada manusia masih terbatas.
4. Gunakan minyak esensial
Minyak peppermint (mentol) dan eucalyptus sering digunakan untuk membantu pernapasan terasa lebih lega. Mentol dapat memberikan sensasi lega dan membantu mengurangi rasa tersumbat.
Minyak eucalyptus kerap ditemukan dalam balsem atau produk pelega napas. Penggunaan secara topikal (dioleskan pada dada) atau dihirup sebagai uap dapat membantu meredakan kongesti.
Namun, minyak esensial harus diencerkan sebelum digunakan dan tidak boleh diminum langsung. Eucalyptus murni yang tertelan dapat berbahaya.
5. Berkumur dengan air garam
Melansir Healthline, berkumur dengan air garam hangat dapat membantu melonggarkan dan mengencerkan lendir. Air garam hangat bekerja dengan memecah lendir berlebih di tenggorokan.
Sejumlah penelitian menunjukkan berkumur air garam dapat membantu meredakan gejala pilek. Campurkan satu cangkir air hangat dengan ½ hingga ¾ sendok teh garam. Gunakan untuk berkumur selama 30-60 detik, lalu buang.
6. Minum obat pengencer lendir
Obat pengencer lendir (ekspektoran) dapat membantu melonggarkan lendir sehingga lebih mudah dikeluarkan saat batuk. Obat ini umumnya mengandung guaifenesin sebagai bahan aktif.
Guaifenesin bekerja pada kelenjar penghasil lendir di tenggorokan dan dada untuk membantu mengencerkan lendir dan mempermudah pengeluarannya.
7. Konsumsi madu
Madu dikenal memiliki sifat antiinflamasi dan dapat membantu meredakan batuk, terutama pada malam hari pada anak-anak.
Beberapa penelitian menunjukkan madu lebih efektif dibandingkan tanpa pengobatan atau plasebo dalam meredakan batuk. Meski begitu, efektivitasnya dapat berbeda pada setiap individu.
Produksi lendir pada dasarnya merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh. Namun, jika jumlahnya berlebihan, menetap, atau disertai gejala berat seperti sesak napas dan demam tinggi, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis. Penanganan yang tepat penting untuk mencegah komplikasi dan menjaga fungsi paru tetap optimal.
(tis/tis)

