Sering Overthinking, Tanda Cerdas atau Justru Cemas?
Overthinker sering dianggap sebagai orang yang cerdas dan analitis, tetapi di saat yang sama juga dinilai terlalu cemas dan sulit tenang. Label ini bahkan kerap melekat sebagai bagian dari kepribadian. Lalu sebenarnya, overthinking itu tanda kecerdasan atau justru bentuk kecemasan yang berlebihan?
Belakangan, banyak orang dengan santai menyebut dirinya overthinker. Mereka merasa terbiasa memikirkan sesuatu secara mendalam, mengulang percakapan di kepala, atau membayangkan berbagai kemungkinan sebelum mengambil keputusan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada yang bangga karena merasa lebih detail dan berhati-hati. Namun ada juga yang mengaku lelah karena pikirannya sulit berhenti.
Melansir dari Simply Psychology, overthinking adalah kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan dan berulang-ulang.
Seseorang bisa terus memikirkan hal kecil, membayangkan skenario terburuk, atau terlalu lama mempertimbangkan pilihan karena takut salah. Akibatnya, keputusan justru tertunda dan energi mental terkuras.
Lantas, benarkah overthinker lebih cerdas?
Melansir dari berbagai sumber, sebuah studi yang diterbitkan jurnal Personality and Individual Differences menemukan bahwa kecerdasan verbal berkorelasi dengan kekhawatiran dan kecemasan.
Demikian pula, peneliti di SUNY Downstate Medical Center menemukan bahwa pasien dengan gangguan kecemasan seringkali mendapatkan skor lebih tinggi pada tes yang mengukur kecerdasan verbal.
Kemampuan ini memang merupakan bagian dari kecerdasan, terutama dalam hal penalaran dan pemecahan masalah. Kemampuan untuk memprediksi risiko dan memikirkan kemungkinan ancaman juga dianggap membantu manusia bertahan hidup.
Orang yang mampu mengantisipasi bahaya lebih dulu memiliki peluang lebih besar untuk selamat. Dari sinilah muncul dugaan bahwa kecenderungan berpikir jauh ke depan dan khawatir bisa berkaitan dengan kapasitas kognitif yang tinggi.
Sementara itu, berpikir kritis dan overthinking sama-sama melibatkan proses pertimbangan dan perenungan. Namun, keduanya tetap memiliki perbedaan dalam hasil dan dampaknya pada kehidupan sehari-hari.
Berpikir kritis memiliki tujuan untuk mencapai keputusan rasional atau memecahkan masalah. Hal ini berakar dari pola pikir rasa ingin tahu dan keterbukaan pikiran.
Overthinking cenderung berputar di tempat. Fokusnya bukan lagi mencari solusi, melainkan terus memikirkan kemungkinan, kesalahan, dan kekhawatiran.
Ilustrasi. Overthinking dan berpikir kritis itu berbeda. Overthinking cenderung tidak mencari solusi dan berputar di tempat, sedangkan berpikir kritis bertujuan untuk memecahkan masalah. (freepik.com) |
Penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan ruminasi berkaitan erat dengan risiko gangguan kecemasan dan depresi. Pikiran yang terus berputar membuat otak sulit beristirahat. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa mengganggu kualitas tidur, konsentrasi, bahkan hubungan sosial.
Overthinker juga kerap memiliki standar tinggi terhadap diri sendiri. Perfeksionisme membuat mereka takut melakukan kesalahan. Akibatnya, rasa percaya diri bisa menurun karena terlalu fokus pada kekurangan.
Hal ini membuat kecerdasan yang dimiliki justru bisa memperkuat kecemasan. Semakin mampu seseorang membayangkan berbagai kemungkinan, semakin banyak pula skenario negatif yang dapat ia ciptakan di kepala.
Lihat Juga : |
Kemampuan menganalisis secara mendalam adalah kekuatan. Namun ketika analisis berubah menjadi kekhawatiran berulang yang tidak produktif, bisa menjadi beban.
Sebaiknya belajar belajar mengelola pikiran, misalnya membatasi waktu untuk memikirkan suatu masalah, fokus pada hal yang bisa dikendalikan, serta membedakan antara fakta dan asumsi.
Overthinking bukan semata soal cerdas atau cemas. Semuanya bergantung pada bagaimana seseorang mengarahkan cara berpikirnya. Jika dikelola dengan baik, kemampuan analitis bisa menjadi aset. Namun jika dibiarkan, pikiran yang terlalu aktif justru bisa melelahkan diri sendiri
(nga/els)[Gambas:Video CNN]

Ilustrasi. Overthinking dan berpikir kritis itu berbeda. Overthinking cenderung tidak mencari solusi dan berputar di tempat, sedangkan berpikir kritis bertujuan untuk memecahkan masalah. (freepik.com)