Ternyata Ini 5 Alasan Tidak Ada Sabuk Pengaman di Kursi Kereta Api

CNN Indonesia
Sabtu, 14 Feb 2026 15:40 WIB
Kalau kamu perhatikan, kursi penumpang di kereta api tidak dilengkapi sabuk pengaman. Kok bisa? Ini alasan kursi di kereta tidak dilengkapi sabuk pengaman.
Ilustrasi. Alasan kursi penumpang di kereta api tidak dilengkapi dengan sabuk pengaman. (ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Kalau kamu perhatikan, kursi penumpang di kereta api tidak dilengkapi dengan sabuk pengaman atau seat belt, seperti halnya moda transportasi lain sebut saja mobil, bus, atau pesawat terbang.

Lantas, kenapa kursi di kereta tidak memiliki sabuk pengaman? Padahal, sabuk pengaman merupakan sebuah standar keselamatan dalam perjalanan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kkereta api, baik itu kereta jarak dekat maupun jarak jauh, di kelas ekonomi maupun eksekutif, semuanya tidak memiliki sabuk pengaman.

Jangan salah sangka dulu, ternyata ada alasan kenapa tidak ada sabuk pengaman di kereta. Seorang ahli keselamatan transportasi, Thomas Barth menjelaskan beberapa alasan mengapa kereta api tidak membutuhkan sabuk pengaman.

Singkatnya, dibandingkan moda transportasi lain, kereta api memiliki tingkat keamanan yang cukup tinggi. Belum sampai batas yang mengharuskan penumpang memakai sabuk pengaman selama perjalanan dengan moda kereta.

Mengapa demikian? Simak penjelasannya berikut ini, dilansir dari Reader's Digest.

Kereta api lebih aman dan jarang terjadi kecelakaan

Asosiasi Penumpang Kereta Api menyatakan bahwa bepergian menggunakan kereta api 17 kali lebih aman dibandingkan menggunakan mobil.

Desain interior kereta juga sudah diperhitungkan dengan aman melalui jajaran kursinya yang empuk dan berdekatan, sehingga ketika ada kecelakaan atau guncangan keras, penumpang akan jatuh ke bantalan kursi di sekitarnya.

"Tidak ada moda perjalanan yang 100 persen aman, tetapi desain dan peraturan untuk berbagai moda transportasi telah dikembangkan untuk mengurangi risiko ke tingkat yang dapat diterima. Ketika berbicara tentang kereta api, 'tingkat yang dapat diterima' itu saat ini tidak memerlukan sabuk pengaman," ujar Barth.

Beberapa kali berita menyiarkan kecelakaan kereta api, tetapi kemungkinan besar bisa dihitung jari. Kecelakaan kereta api jauh lebih jarang dibandingkan kecelakaan mobil, bus, atau pesawat terbang. Tingkat kematian korbannya juga lebih sedikit dibandingkan korban kecelakaan di jalan raya.

"Keuntungan kereta api adalah beroperasi di lingkungan yang terkendali (di trek dan dengan operator/penjadwalan). Lingkungannya sangat aman sehingga risikonya kecil meskipun tanpa menggunakan sabuk pengaman," jelasnya.


Kekuatan tabrakannya lebih rendah

Kereta api memiliki kekuatan tabrakan yang relatif lebih rendah dibandingkan kendaraan lain. Ketika terjadi tabrakan, dampak atau seberapa parah kehancuran itu biasanya tergantung dari seberapa cepat kendaraan berhenti.

Saat sebuah mobil menabrak dinding bata, maka mobil itu seketika langsung berhenti. Ini menyebabkan kekuatan tabrakan yang sangat tinggi, kemungkinan akan langsung hancur.

Bagi kereta justru sebaliknya, kendaraan ini sangat besar dan berat sehingga kekuatan tabrakannya juga rendah. Namun, ada beberapa pengecualian kasus yang membuat potensi kekuatan tabrakan kereta menjadi tinggi.

"Tabrakan langsung antara dua kereta atau kereta tergelincir, akan menyebabkan kekuatan tabrakan yang tinggi. Namun ini adalah kejadian yang sangat jarang terjadi," ucap Barth.


Memiliki sistem keselamatan yang berbeda

Sabuk pengaman dibutuhkan demi keselamatan penumpang, tetapi kereta memiliki sistem keselamatannya sendiri. Prioritas keselamatan di kereta adalah fokus agar kereta tidak mengalami tabrakan berat atau tergelincir.

Kereta beroperasi di lingkungan yang lebih terkontrol dibandingkan transportasi lain. Ditambah lagi, saat ini ada sistem baru yang mampu menghindari tabrakan berat atau tergelincir, yaitu Positive Train Control (PTC).

"Ini adalah sistem jaringan nasional yang akan membatasi pergerakan kereta secara otomatis, daripada mengandalkan petugas/awak kereta yang rentan terhadap human error," katanya.


Tidak sepadan dengan biayanya

Beberapa alasan sebelumnya menyimpulkan bahwa kereta tidak membutuhkan sabuk pengaman. Pun jika memaksa memasang sabuk pengaman biayanya akan sangat mahal dan tidak sepadan dengan fungsinya.

Desain kursi kereta saat ini sudah dirancang tanpa fitur sabuk pengaman, kursi empuk dan rapat ini juga cukup efektif untuk mengurangi benturan penumpang di dalamnya kalau terjadi kecelakaan.

Jika ingin ditambahkan sabuk pengaman, maka kereta perlu memiliki desain ulang dan pemasangan besar-besaran yang membutuhkan biaya mahal.

Mengingat jumlah insiden yang rendah, manfaat dari sabuk pengaman ini jadi tidak sebanding dengan harganya yang luar biasa. Penumpang juga mungkin akan jarang menggunakannya, apalagi jika naik kereta yang banyak pemberhentian.

Kursi jadi tidak nyaman bahkan berbahaya

Jika sabuk pengaman benar-benar dipasang di kursi kereta, kemungkinan akan membuat tidak nyaman atau bahkan justru membahayakan penumpang.

Seperti kebanyakan kursi transportasi yang memiliki sabuk pengaman, kursinya terasa lebih kaku karena membuat postur tubuh lebih tegap selama pakai sabuk pengaman.

Kursi seperti ini membahayakan penumpang yang sedang berdiri, berjalan di lorong, atau bahkan penumpang yang tidak mau menggunakan sabuk pengaman.

Ketika terjadi kecelakaan, mereka akan terlempar ke kursi yang sangat kaku tersebut. Akibatnya bisa fatal, cedera, atau bahkan berisiko kematian.

(ana/fef)


[Gambas:Video CNN]