4 Penyebab Anak Alami Depresi yang Sering Luput dari Orang Tua

CNN Indonesia
Rabu, 11 Feb 2026 04:30 WIB
Depresi pada anak bisa dipicu kurang perhatian, kekerasan emosional, hingga gizi buruk. Orang tua perlu peka dan hadir secara emosional sejak dini.
Ilustrasi. Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan anak mengalami depresi. (Pixabay/buerserberg)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Depresi pada anak kerap terjadi tanpa disadari lingkungan terdekat, termasuk orang tua. Tak sedikit orang tua baru menyadari kondisi tersebut ketika anak sudah menunjukkan perubahan perilaku yang cukup berat, seperti menarik diri, mudah marah, atau kehilangan minat pada hal-hal yang sebelumnya disukai.

Psikolog anak Mira Amir menjelaskan, depresi pada anak umumnya tidak muncul secara tiba-tiba. Kondisi ini merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling berkaitan, terutama yang berasal dari lingkungan keluarga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut sejumlah penyebab anak bisa mengalami depresi menurut Mira Amir:

1. Kurangnya perhatian dan komunikasi

Minimnya perhatian dari orang tua menjadi salah satu faktor utama yang membuat anak rentan mengalami depresi. Anak tidak hanya membutuhkan pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga kehadiran emosional dari orang tuanya.

Pengabaian ini kerap terjadi ketika komunikasi di rumah hanya berjalan satu arah. Orang tua merasa sudah berkomunikasi dengan anak, padahal yang dilakukan sebatas menasihati atau menegur tanpa benar-benar mendengarkan.

"Orang tua melalaikan tanggung jawabnya hanya sebatas memberikan kebutuhan fisik. Kasih makan, kasih pendidikan, mungkin bahkan sekolah mahal, tapi minim interaksi, minim komunikasi," kata Mira saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (5/2).

2. Kekerasan emosional dan kebiasaan membandingkan anak

Faktor lain yang kerap memicu depresi pada anak adalah kekerasan, baik fisik, verbal, maupun emosional, yang sering kali dilakukan tanpa disadari.

Menurut Mira, banyak orang tua meniru pola asuh yang mereka terima di masa kecil dan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar untuk diterapkan kembali.

"Orang tua menganggap bahwa bagaimana mereka diasuh ketika kecil adalah layak juga diterapkan pada anak-anaknya. Apa yang terjadi? Perilaku kekerasan, abusive, fisik, mental, verbal," ujarnya.

Termasuk dalam kekerasan emosional adalah kebiasaan membandingkan anak dengan anak lain, baik dengan saudara kandung maupun anak seusianya.

"Orang tua membanding-bandingkan antara anak yang satu dengan anak yang lain. Itu bisa berpotensi membuat seorang anak masuk ke gejala depresi," kata Mira.

3. Anak tidak didengarkan secara emosional

Mira menekankan bahwa komunikasi yang sehat bukan hanya soal berbicara, tetapi juga mendengarkan.

"Komunikasi adalah juga kemampuan orang tua untuk mampu mendengarkan si anak," ujarnya.

Ketika anak merasa pendapat dan perasaannya tidak didengar atau dianggap sepele, mereka cenderung memendam emosi. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memicu gangguan kesehatan mental, termasuk depresi.

4. Gizi dan gaya hidup anak terabaikan

Selain relasi dalam keluarga, gaya hidup juga berpengaruh pada ketahanan mental anak. Mira menyoroti pola makan dan aktivitas fisik yang kurang seimbang sebagai faktor risiko yang sering luput dari perhatian.

"Faktor nutrisi dan aktivitas pada anak itu juga sama pentingnya. Hanya melulu konsumsi junk food, tidak ada keseimbangan gizi, itu rentan," kata Mira.

Ia menjelaskan, kondisi fisik yang tidak prima dapat membuat anak lebih rapuh saat menghadapi tekanan. Ketika ada masalah atau situasi yang menekan, daya tahan tubuh dan mental anak menjadi lebih mudah goyah.

Mira menegaskan, depresi pada anak biasanya merupakan akumulasi dari berbagai faktor yang saling berkaitan. Karena itu, kepekaan orang tua untuk hadir secara emosional, membangun komunikasi dua arah, serta menciptakan lingkungan yang aman dan suportif menjadi kunci penting dalam mencegah depresi pada anak sejak dini.

(nga/tis)


[Gambas:Video CNN]