Sepanjang 2025, Indonesia Catat Lebih Dari 161 Ribu Kasus Dengue
Sepanjang tahun 2025, Indonesia kembali dihadapkan pada ancaman serius penyakit dengue. Data menunjukkan, tercatat sebanyak 161.752 kasus dengue dengan 673 kematian yang tersebar di hampir seluruh wilayah Tanah Air.
Angka ini menegaskan bahwa dengue bukan sekadar penyakit musiman, melainkan masalah kesehatan yang berpotensi mengancam nyawa dan membutuhkan perhatian serius.
Dengue hingga kini masih menjadi salah satu tantangan utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Bahkan, data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memperlihatkan tren peningkatan kasus dengue dalam lima dekade terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Puncaknya terjadi pada 2024, dengan 257.271 kasus dan 1.461 kematian, angka tertinggi dalam sejarah pencatatan dengue nasional.
Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Eka Ginanjar, menegaskan bahwa dengue merupakan ancaman nyata yang masih dihadapi masyarakat Indonesia hingga saat ini.
"Dengue bukan hanya persoalan klinis, tetapi juga tantangan kesehatan masyarakat yang berdampak luas. Penyakit ini dapat terjadi sepanjang tahun, meski pada musim hujan risiko penularannya meningkat dan fasilitas kesehatan kembali berpotensi menghadapi lonjakan kasus," ujarnya dalam acara yang digelar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) bertajuk Musim Hujan Risiko Dengue Meningkat: Saatnya Perkuat Perlindungan Jangka Panjang bagi Anak dan Dewasa, dengan dukungan PT Takeda Innovative Medicines di Jakarta, Rabu (4/2).
Menurut Eka, fokus utama penanganan dengue seharusnya berada pada upaya pencegahan, bukan semata-mata saat kasus sudah terjadi. Edukasi yang berkelanjutan, kewaspadaan terhadap gejala, serta perlindungan menyeluruh perlu diperkuat secara konsisten.
"PAPDI berupaya mendorong edukasi berkelanjutan agar masyarakat semakin memahami risiko dengue dan langkah pencegahannya, mulai dari pemberantasan sarang nyamuk dengan 3M Plus hingga vaksinasi dengue. Dengue adalah penyakit yang berpotensi mengancam jiwa dan dapat berdampak serius baik pada orang dewasa maupun anak-anak," jelasnya.
Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, Prima Yosephine, menekankan bahwa pencegahan dengue tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan.
"Peran aktif masyarakat menjadi kunci, terutama dengan menerapkan 3M Plus secara disiplin dan rutin. Praktik ini paling dekat dengan kehidupan sehari-hari dan efektif memutus rantai penularan," katanya.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala dengue dan segera mencari pertolongan medis guna menekan risiko komplikasi.
Dari sisi pemerintah, Kementerian Kesehatan terus memperkuat upaya pengendalian dengue melalui surveilans, respons kejadian luar biasa, edukasi masyarakat, serta pengendalian vektor terpadu bersama pemerintah daerah dan lintas sektor.
"Ke depan, selain upaya dasar seperti 3M Plus, penting juga mulai mempertimbangkan pendekatan pencegahan yang lebih inovatif, termasuk vaksinasi, sebagai bagian dari perlindungan yang lebih menyeluruh. Semua langkah ini kita dorong bersama untuk mencapai tujuan utama: nol kematian akibat dengue pada 2030," ujarnya.
Bukan cuma, itu. Dokter Klinis Spesialis Penyakit Dalam, Adityo Susilo mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh gejala awal dengue. Menurutnya, penyakit ini dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia, tempat tinggal, maupun gaya hidup.
"Dengue sering kali diawali dengan demam yang tampak seperti demam biasa, tetapi dapat berkembang cepat menjadi kondisi yang berbahaya," kata Adityo.
Ia mengingatkan sejumlah tanda bahaya yang perlu diwaspadai, seperti demam tinggi disertai nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, lemas berat, hingga penurunan kesadaran. Keterlambatan mengenali tanda-tanda tersebut dapat berakibat fatal.
Lebih lanjut, Adityo menjelaskan bahwa seseorang dapat terinfeksi dengue lebih dari satu kali, dan pada infeksi berikutnya risikonya justru bisa lebih berat. Bahkan, orang dewasa yang mengalami dengue tanpa gejala tetap berpotensi berperan dalam penularan.
"Jika ia digigit nyamuk, nyamuk tersebut dapat membawa virus dan menularkannya kepada orang lain. Hingga saat ini belum ada obat yang secara spesifik dapat menyembuhkan dengue, sehingga pencegahan tetap menjadi langkah paling penting melalui perlindungan diri dan pengendalian risiko secara konsisten," pungkasnya.
(tis/tis)[Gambas:Video CNN]
