MSD Indonesia Dorong Kesadaran Kanker Serviks Lewat NgobrolinHPV
MSD Indonesia memperingati Bulan Kesadaran Kanker Serviks (Cervical Cancer Awareness Month) 2026 dengan menyelenggarakan rangkaian kegiatan edukatif melalui inisiatif NgobrolinHPV. Program ini bertujuan untuk membuka ruang dialog yang lebih jujur dan inklusif mengenai Human Papillomavirus (HPV) serta pentingnya pencegahan kanker serviks.
Langkah ini diambil karena isu kesehatan tersebut sering kali masih disertai stigma dan keterbatasan informasi bagi perempuan. Rangkaian kegiatan NgobrolinHPV dirancang agar sejalan dengan gaya hidup perempuan masa kini.
Acara dimulai dengan parade komunitas di sekitar area Gelora Bung Karno (GBK) sebagai bentuk ajakan untuk peduli pada kesehatan perempuan. Selain parade, acara ini menghadirkan diskusi edukatif serta area interaktif seperti wellness zone dan beauty zone, sehingga informasi kesehatan dapat diterima melalui pengalaman yang lebih menyenangkan dan relevan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu agenda utama dalam kegiatan ini adalah sesi diskusi yang dikemas secara santai untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan dalam berbagi informasi. Fokus pembicaraan meliputi pemahaman dasar mengenai virus HPV, risiko kesehatan yang sering tidak disadari, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan sejak dini.
Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan, Indri Yogyaswari, hadir untuk membuka acara sebagai bentuk dukungan pemerintah. Ia menegaskan bahwa pencegahan kanker serviks merupakan bagian penting dari kesehatan masyarakat.
"Pemerintah mendukung penuh berbagai inisiatif kolaboratif yang mendorong peningkatan kesadaran akan deteksi dini dan vaksinasi HPV sebagai langkah pencegahan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (1/2).
Sejalan dengan hal tersebut, Managing Director MSD Indonesia, George Stylianou, menekankan pentingnya langkah preventif dan pengetahuan yang tepat. MSD Indonesia berkomitmen untuk terus memberikan edukasi terkait bahaya HPV dan ancaman kanker serviks bagi masyarakat Indonesia.
"Kami percaya bahwa langkah preventif yang disertai pengetahuan yang tepat dapat meningkatkan kualitas kesehatan generasi Indonesia. Melalui kampanye #NgobrolinHPV, kami berharap dapat mendorong lebih banyak individu untuk mengambil tindakan pencegahan seperti vaksinasi dan skrining, guna mewujudkan Indonesia yang lebih sehat dan bebas kanker serviks," papar dia.
Dalam sesi diskusi utama, dr. Muhammad Yusuf, menjelaskan aspek medis mengenai sifat virus ini yang sering tidak disadari oleh masyarakat. Ia menjelaskan, HPV merupakan virus yang sangat umum dan sebagian besar orang bisa terpapar dalam hidupnya, sering kali tanpa disadari.
"Karena sifatnya yang umum ini, banyak orang menganggap HPV sebagai sesuatu yang sepele atau bahkan tidak mengetahui keberadaannya. Padahal, virus ini dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan," ucapnya.
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 95% kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi HPV. Di Indonesia, penyakit ini masih menjadi jenis kanker terbanyak kedua pada perempuan dengan angka kasus baru mencapai 36.964 dan angka kematian 20.708 setiap tahunnya.
Fakta ini mempertegas bahwa edukasi mengenai cara penularan melalui kontak kulit ke kulit di area genital menjadi kebutuhan yang mendesak. Diskusi tersebut juga membahas mengenai berbagai tipe HPV, di mana beberapa tipe risiko tinggi dapat berkembang menjadi kanker serviks.
Mengingat infeksi ini sering kali tidak menunjukkan gejala khusus, langkah medis yang nyata sangat diperlukan. Yusuf menekankan bahwa kanker serviks sebenarnya dapat dicegah melalui kombinasi vaksinasi dan pemeriksaan rutin.
Ia menegaskan bahwa Pencegahan kanker serviks termasuk penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Salah satu langkah pencegahan yang telah terbukti efektif adalah vaksinasi HPV, yang mampu menurunkan risiko kanker serviks hingga lebih dari 90%, disertai dengan pemeriksaan rutin seperti skrining serviks sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Dirinya juga menegaskan bahwa menjaga kesehatan serviks bukan hanya relevan bagi perempuan yang sudah menikah atau berkeluarga, melainkan bagian dari kesadaran kesehatan jangka panjang setiap perempuan.
Dari sisi perspektif publik, Putri Tanjung menyoroti bagaimana norma sosial masih sering membuat pembahasan mengenai kesehatan serviks dianggap tabu. Banyak perempuan merasa canggung, takut dihakimi, atau tidak tahu harus bertanya ke mana ketika ingin mencari informasi.
"Generasi muda justru perlu memiliki kesadaran sejak dini agar dapat membuat keputusan kesehatan yang lebih baik di masa depan. Peran media dan figur publik dalam membuka percakapan ini lebih luas juga penting agar isu kesehatan perempuan tidak lagi hanya dibahas di ruang tertutup," tutur dia.
Guna memberikan dukungan jangka panjang, MSD Indonesia juga menyediakan kanal edukatif NgobrolinHPV yang dapat diakses oleh publik. Platform ini menyediakan informasi medis tepercaya, fitur Clinic Locator untuk mencari fasilitas kesehatan terdekat, serta NONA (NgobrolinHPV Virtual Assistant), dan chatbot WhatsApp yang membantu menjawab pertanyaan seputar HPV secara praktis.
Kehadiran berbagai perangkat edukasi ini diharapkan dapat mendorong lebih banyak perempuan untuk proaktif dalam melakukan pencegahan demi kesehatan di masa depan.
(rir/inh)