Wamenkes soal Virus Nipah: Di Bandara Otomatis Skrining

CNN Indonesia
Kamis, 29 Jan 2026 17:28 WIB
Wamenkes Benjamin Paulus Octavianus menyatakan bandara di Indonesia menerapkan skrining untuk virus Nipah, tanpa protokol Covid-19. Thailand sudah lebih ketat.
Wakil Menteri Kesehatan RI, Benjamin Paulus Octavianus, menyebut bandara di seluruh Indonesia menerapkan proses skrining untuk mencegah virus Nipah. (ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF)
Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Menteri Kesehatan RI, Benjamin Paulus Octavianus, menyebut bandara di seluruh Indonesia menerapkan proses skrining untuk mencegah virus Nipah. Benjamin mengatakan RI belum akan menerapkan protokol era pandemi Covid-19.

"Indonesia itu otomatis sudah melakukan skrining, jadi kita punya alat deteksi pasien suhu tinggi sudah bisa dideteksi. Tapi memang proses skrining seperti Covid belum kita lakukan," kata Benjamin di Kompleks Kepatihan, Kota Yogyakarta, DIY, Kamis (28/1).

Salah satu negara di Asia Tenggara yang sejauh ini telah menerapkan pengetatan pemeriksaan kesehatan terkait penyebaran kasus Nipah baru Thailand.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Thailand memperketat pemeriksaan kesehatan di beberapa bandara, yakni Suvarnabhumi, Don Mueang, dan Phuket. Pengetatan itu dilakukan setelah India mendeteksi lima kasus virus Nipah di negara bagian Benggala Barat.

"Di Thailand sudah bagus, dilakukan skrining. Thailand sebagai tempat transit itu segera jaga-jaga lah," ucap Benjamin.

Selain itu, kata Benjamin, otoritas di India sendiri sudah menerapkan lockdown pascatemuan kasus penyakit yang diakibatkan oleh virus Nipah.

"Jadi di India pun sudah langsung melakukan lockdown, di India pun kencang, mereka nggak mau kasusnya terbang ke negara lain," ujarnya.

Lebih jauh, Benjamin menyebut jika virus Nipah ini pertama kali diidentifikasi pada 1998 silam. Tingkat kematiannya pada manusia cukup tinggi, meski di satu sisi penyebarannya secara global masih rendah.

"Memang angka kematiannya sangat tinggi, tetapi jumlah kasus di dunia ini belum sampai seribu kasus. Jadi, belum sampai Indonesia," ucap Benjamin.

(kum/har)


[Gambas:Video CNN]