Sering Disamakan, Ini Bedanya Miom dan Kista pada Perempuan

CNN Indonesia
Rabu, 28 Jan 2026 06:00 WIB
Miom dan kista sering disamakan. Padahal, lokasi, bentuk, dan dampaknya terhadap kesuburan perempuan sangat berbeda.
Ilustrasi. Kenali sebelum terlambat, beda miom dan kista. (iStockphoto)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Masalah kesehatan reproduksi seperti miom dan kista masih kerap menjadi kekhawatiran besar bagi perempuan. Meski sebagian besar kasusnya bersifat jinak atau nonkanker, keberadaan benjolan atau kantong cairan di area rahim dan indung telur tak bisa dianggap sepele.

Selain memicu keluhan fisik, kondisi ini juga berpotensi memengaruhi peluang kehamilan.

Di masyarakat, miom dan kista sering kali disamakan. Padahal, secara medis keduanya merupakan kondisi yang berbeda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan di Eka Hospital BSD, Budi Santoso, menegaskan pentingnya memahami perbedaan dasar antara miom dan kista, agar tidak salah kaprah.

"Jadi kita harus bedakan antara miom dan kista. Kalau miom itu kayak bakso urat, ada isinya, kalau kista itu cairan isinya, kayak balon diisi air. Kalau miom itu padat, asalnya juga beda, dia di rahim. Kalau miom itu tumor di otot rahim, kalau kista itu di ovarium atau indung telur," jelas Budi dalam keterangannya saat temu media di kawasan BSD, Tangerang, Selasa (27/1).

Kata Budi, miom, atau fibroid rahim, merupakan pertumbuhan jaringan otot yang padat di dinding rahim. Meski disebut tumor, miom umumnya tidak bersifat ganas.

Sementara itu, kista berbentuk kantong berisi cairan yang paling sering tumbuh di indung telur atau ovarium.

"Singkatnya, miom itu padat seperti otot, sedangkan kista itu seperti balon berisi air," tuturnya.

Faktor risiko miom dan kista

Hingga kini, penyebab pasti miom belum diketahui secara mutlak. Namun, hormon estrogen dan progesteron diketahui berperan besar dalam pertumbuhannya.

Itulah sebabnya miom jarang ditemukan sebelum pubertas dan cenderung mengecil setelah menopause.

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko miom antara lain:

• Kelebihan berat badan atau obesitas

• Riwayat keluarga

• Belum pernah melahirkan

• Ketidakseimbangan hormon

Sementara itu, kista ovarium kerap berkaitan dengan siklus menstruasi dan proses ovulasi yang normal. Namun, pada kondisi tertentu, kista bisa dipicu oleh gangguan medis seperti endometriosis, PCOS (Polycystic Ovary Syndrome), atau infeksi panggul.

Gejala yang perlu diwaspadai

Budi mengingatkan perempuan untuk tidak mengabaikan perubahan pada tubuh, terutama bila miom atau kista membesar.

Pada miom, gejala yang sering muncul meliputi perdarahan haid yang sangat banyak, nyeri punggung bawah, perut tampak membuncit, sering buang air kecil akibat tekanan ke kandung kemih, hingga nyeri saat berhubungan intim.

Sementara pada kista, keluhan umumnya berupa rasa penuh atau begah di perut bagian bawah, biasanya di satu sisi siklus menstruasi yang tidak teratur, serta nyeri panggul.

Lantas, mana yang lebih berbahaya bagi reproduksi?

Pertanyaan tentang dampak miom dan kista terhadap kesuburan menjadi salah satu yang paling sering diajukan. Budi menjelaskan, miom jarang menyebabkan infertilitas total. Namun, jika miom muncul atau membesar saat kehamilan, risikonya bisa meningkat.

"Miom bisa meningkatkan risiko kelahiran prematur atau gangguan pertumbuhan janin," ujarnya.

Di sisi lain, kista yang berkaitan dengan PCOS justru memiliki risiko lebih besar dalam menghambat kehamilan. Kondisi ini berkaitan dengan gangguan pematangan sel telur, sehingga proses ovulasi tidak berjalan optimal.

Meski penyebab miom dan kista tidak selalu bisa dicegah, Budi menyarankan perempuan menjaga gaya hidup sehat dan berat badan ideal sebagai langkah awal. Pemeriksaan panggul dan USG secara berkala juga penting untuk deteksi dini.

Segera konsultasikan ke dokter jika mengalami nyeri perut atau panggul yang menetap, menstruasi sangat deras atau berlangsung lebih dari tujuh hari, perdarahan di luar jadwal haid, atau perut membesar secara cepat dan tidak wajar.

"Operasi tidak selalu menjadi jalan keluar utama. Terkadang, pemantauan berkala sudah cukup jika kondisinya tidak mengganggu. Kuncinya adalah deteksi sedini mungkin," pungkas Budi.

(tis/tis)


[Gambas:Video CNN]