Anak-anak punya cara sendiri dalam melihat dunia. Kardus bisa jadi rumah, selimut dijadikan jubah, lalu sendok bisa saja tiba-tiba menjadi mikrofon.
Kreativitas anak pun tidak selalu terlihat dari hasil gambar yang bagus atau kemampuan membuat sesuatu yang unik. Cara mereka bermain, bertanya, memecahkan masalah, hingga menggunakan benda di sekitar juga bisa menjadi bagian dari proses tersebut.
Penelitian menemukan beberapa perilaku yang berkaitan dengan perkembangan kreativitas anak. Berikut beberapa di antaranya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Suka bermain pura-pura dan membuat cerita sendiri
Mengutip dari Creativity Research Journal, anak yang sering bermain seolah-olah menjadi dokter, guru, superhero, atau tokoh ciptaannya sendiri sedang menggunakan imajinasi untuk membangun sebuah dunia. Begitu pula ketika anak membuat karakter, mengarang cerita, atau menggunakan benda tertentu sebagai sesuatu yang berbeda. Misalnya, kardus dijadikan mobil atau bantal dianggap sebagai hewan.
Kualitas role-play realistis ketika anak berusia 5 tahun dapat memprediksi performa mereka dalam salah satu tes berpikir kreatif ketika berusia 10-15 tahun. Kualitas fantasi dalam pretend play juga berkaitan dengan kemungkinan anak mengalami perkembangan kreativitas yang lebih cepat.
2. Sering bertanya karena penasaran
"Kenapa begini?" atau "Kalau dibuat seperti ini gimana?" mungkin menjadi pertanyaan yang cukup sering dilontarkan anak.
Rasa ingin tahu tersebut tidak selalu sekadar membuat orang tua kewalahan. Lebih dari itu, rasa penasaran berkaitan dengan kreativitas karena mendorong anak mencari tahu, mencoba sesuatu, dan mengeksplorasi kemungkinan baru.
Studi dari Lancaster University yang dipublikasikan dalam jurnal Acta Psychologica menemukan hubungan positif antara kreativitas dan rasa ingin tahu. Anak yang lebih sering melakukan aktivitas kreatif juga cenderung memiliki skor curiosity yang lebih tinggi.
Jadi, ketika anak terus bertanya dan ingin mengetahui bagaimana sesuatu bekerja, rasa penasaran tersebut bisa menjadi bagian dari proses kreatifnya.
3. Suka mencari cara sendiri untuk menyelesaikan sesuatu
Anak tidak selalu harus menyelesaikan permainan atau persoalan dengan cara yang sama seperti contoh yang diberikan. Misalnya, ketika diberi balok, anak tidak hanya membuat rumah seperti contoh, tetapi mencoba membuat jembatan, menara, kendaraan, atau bentuk lain sesuai idenya.
Kebiasaan mencari berbagai kemungkinan ini berkaitan dengan divergent thinking, yakni kemampuan menghasilkan lebih dari satu ide atau solusi.
4. Suka menemukan fungsi baru dari benda
Ilustrasi. Ada beberapa hal yang menandakan perkembangan kreativitas anak. (Stock/staticnak1983) |
Bagi anak, sebuah benda tidak selalu hanya memiliki satu fungsi. Kursi bisa menjadi mobil, selimut menjadi tenda, atau kotak bekas menjadi rumah boneka. Anak juga mungkin mengubah aturan permainan atau membuat versinya sendiri.
Perilaku semacam ini menunjukkan bahwa anak sedang mengeksplorasi berbagai kemungkinan dari sesuatu yang sudah dikenalnya.
Kreativitas anak usia dini juga menekankan pentingnya lingkungan yang memberi kesempatan untuk bereksplorasi, menggunakan berbagai material, dan menjawab pertanyaan dengan cara yang terbuka.
5. Bisa menciptakan permainan sendiri
Ada anak yang tidak perlu menunggu instruksi untuk mulai bermain. Ia bisa menemukan aktivitas sendiri, membuat aturan permainan, atau mengembangkan cerita dari benda-benda yang ada di sekitarnya. Kemampuan seperti ini berkaitan dengan playfulness, yaitu kecenderungan anak untuk bermain secara spontan dan fleksibel.
Studi yang diterbitkan dalam Journal of Creative Behavior, playfulness, termasuk spontanitas sosial dan kognitif, berkaitan dengan perkembangan proses berpikir kreatif dari waktu ke waktu. Artinya, memberi anak ruang untuk bermain dan menemukan kesibukannya sendiri juga bisa menjadi bagian dari proses perkembangan kreativitas.
6. Senang menggambar, membuat sesuatu, atau bereksperimen
Anak yang suka menggambar, membuat kerajinan, menulis cerita, merancang sesuatu, atau sekadar bereksperimen dengan berbagai bahan juga menunjukkan ketertarikan pada aktivitas kreatif. Sejumlah aktivitas kreatif yang cukup sering dilakukan, seperti kerajinan tangan, seni visual, do-it-yourself (DIY), menulis kreatif, berimajinasi, hingga kegiatan yang berkaitan dengan desain dan sains.
Meski begitu, anak yang tidak terlalu suka menggambar bukan berarti tidak kreatif. Kreativitas bisa muncul dalam berbagai bentuk, termasuk ketika anak bermain, bercerita, mencari solusi, atau menemukan cara baru menggunakan sesuatu.
Orang tua tidak perlu terlalu sibuk mencari apakah anaknya sudah 'kreatif' atau belum. Memberikan ruang untuk bermain, bertanya, bereksperimen, dan mencoba cara sendiri justru dapat membantu anak mengembangkan kemampuan tersebut secara alami.


