Apa yang Terjadi pada Tubuh saat Memencet Bubble Wrap?

CNN Indonesia
Sabtu, 07 Mar 2026 15:27 WIB
Memencet bubble wrap bukan sekadar iseng. Aktivitas ini terbukti membantu meredakan stres dan memberi efek menenangkan pada otak.
Ilustrasi. Memencet bubble wrap ternyata bisa memberi kepuasan hingga ketenangan batin. (iStockphoto/ArtMarie)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Memencet bubble wrap kerap dianggap sebagai kebiasaan iseng yang sulit dihentikan. Namun, di balik bunyi 'pop' yang terasa memuaskan, tubuh dan otak ternyata mengalami reaksi tertentu. Aktivitas sederhana ini bahkan terbukti dapat membantu meredakan stres dan mengelola ketegangan.

Bubble wrap awalnya dikembangkan sebagai wallpaper, sebelum akhirnya dikenal luas sebagai pelindung barang pecah belah. Meski fungsi utamanya sebagai pelindung, bubble wrap justru populer karena sensasi menyenangkan saat gelembung udaranya dipecahkan satu per satu.

Mengutip The Cut, kepuasan memencet bubble wrap pernah diteliti secara ilmiah. Psikolog Kathleen M. Dillon dari Western New England College meneliti efek psikologis aktivitas ini pada awal 1990-an.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam penelitiannya, Dillon menemukan bahwa orang yang memencet bubble wrap merasa lebih tenang sekaligus lebih waspada dibandingkan mereka yang tidak melakukannya. Artinya, aktivitas ini mampu memberikan efek relaksasi tanpa membuat tubuh menjadi lesu.

Dillon menjelaskan, gerakan kecil dan berulang seperti memencet bubble wrap dapat membantu melepaskan ketegangan otot yang muncul saat seseorang berada dalam kondisi stres.

Hal ini sejalan dengan teori psikolog Robert E. Thayer mengenai cara tubuh mengatur suasana hati saat berada di bawah tekanan.

Lantas, apa saja manfaat psikologis yang dirasakan tubuh saat memencet bubble wrap?

Melansir Times of India, ada sejumlah alasan mengapa aktivitas sederhana ini terasa begitu memuaskan dan berdampak langsung pada kondisi mental. Berikut penjelasannya.

1. Ketegangan hilang

Gelembung udara pada bubble wrap menyimpan tekanan. Saat dipencet, tekanan tersebut dilepaskan dan menciptakan sensasi lega. Secara psikologis, hal ini memberi perasaan kontrol dan membantu meredakan ketegangan yang terpendam.

2. Otak terangsang lewat suara dan sentuhan

Kombinasi suara letupan, sensasi di ujung jari, serta perubahan visual saat gelembung pecah memberikan stimulasi multisensori. Rangsangan ini memicu pelepasan dopamin, zat kimia otak yang berperan dalam rasa senang dan kepuasan.

3. Stres mereda

Memencet bubble wrap dapat menjadi distraksi singkat dari tekanan sehari-hari. Aktivitas ini membantu pikiran beralih dari masalah sejenak sehingga stres terasa lebih ringan, meski hanya dalam waktu singkat.

4. Merasa puas

Setiap bunyi 'pop' menghadirkan hasil langsung tanpa perlu menunggu. Sensasi ini memberi rasa pencapaian kecil yang menyenangkan, sesuatu yang jarang ditemui dalam rutinitas harian yang penuh tuntutan.

5. Sensorik terstimulasi

Aktivitas ini melibatkan berbagai indra sekaligus, seperti sentuhan, suara, dan penglihatan. Stimulasi sensorik yang lengkap membuat otak lebih fokus dan membantu menenangkan pikiran.

Meski terlihat sepele, memencet bubble wrap menunjukkan cara alami tubuh mencari pelepasan stres. Dari sisi psikologi, aktivitas kecil ini bukan sekadar kebiasaan iseng, melainkan respons manusiawi untuk meredakan ketegangan, meningkatkan fokus, dan memberi rasa nyaman pada pikiran.

(nga/tis)


[Gambas:Video CNN]