Screen Time Tinggi Hambat Kemampuan Berbahasa Si Kecil
Para orang tua harus lebih berhati-hati dalam memberikan smartphone atau tablet kepada anak sebagai hiburan. Penelitian terbaru dari Pemerintah Inggris mengungkapkan, screen time yang terlalu tinggi dapat menghambat perkembangan kemampuan linguistik anak.
Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri Pendidikan Britania Raya, Bridget Phillipson. Ia mengatakan, 98 persen anak di Inggris menggunakan gadget setiap hari sejak usia dua tahun.
"Orang tua, guru, dan staf taman kanak-kanak berbicara tentang anak-anak yang tiba di taman kanak-kanak dan sekolah dan merasa lebih sulit untuk melakukan percakapan, fokus, atau terlibat dalam pembelajaran," ujarnya seperti dilansir Independent.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut penelitian tersebut, anak-anak yang memiliki screen time sekitar lima jam per hari hanya mampu mempelajari sedikit kosakata. Perbedaannya cukup signifikan ketimbang anak yang screen time-nya sekitar 44 menit.
Pengenalan buku terhadap anak bisa membantu membentuk kosakata mereka. Namun, faktor ekonomi bisa sangat memengaruhi pembentukan kosakata anak juga.
Pasalnya, fakta lain dalam penelitian, 77 persen anak-anak dari keluarga berpenghasilan tinggi dibacakan buku setiap harinya, dibandingkan dengan 32 persen lainnya yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah.
"Seperti banyak orang tua lainnya, saya pernah mengalami malam-malam di mana saya mengalah ketika si kecil menginginkan 'satu episode lagi' dari acara favoritnya. Tetapi kita mulai melihat risikonya ketika 'satu episode lagi' mulai menumpuk," tulis Phillipson di Sunday Times.
Layar smartphone, gadget, hingga televisi tidak akan pernah hilang. Jadi, Phillipson menyarankan agar orang tua dapat menggunakan gadget dengan bijak. Misalnya, menggunakan gadget untuk berbagi cerita atau permainan edukatif.
Namun, perilaku orang dewasa terkait gadget juga perlu dikoreksi. Bahkan, orang dewasa sekalipun sering kali terpaku pada ponsel atau tablet ketika sedang di tempat umum.
"Kita menggunakannya selama berjam-jam setiap hari, dan mungkin berharap kita tidak melakukannya, tetapi bagaimana dengan anak-anak kita?" kata Phillipson.
Menurutnya, orang tua harus melakukan pendekatan yang berbeda dalam mengurangi screen time pada anak. Kebiasaan baru yang lebih baik harus dibentuk bersama orang tua, bukan sekadar didiktekan kepada anak.
"Ini tentang memberikan saran yang jelas dan praktis tentang bagaimana layar [gadget] dapat digunakan bersamaan dengan aktivitas sehari-hari yang paling penting di tahun-tahun awal, termasuk berbicara, bermain, dan membaca bersama," ujar Phillipson lagi.
(rti/rti)